Penyerapan Belanja Modal Rp43 Trilliun

Senin, 07/07/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan, Chatib Basri mengatakan, sampai dengan saat ini, untuk serapan anggran belanja modal sampai dengan sekarang sudah mencapai Rp43 triliun. "Kalau rinciannya perlu dilihat nantinya secara jelasnya, yang pasti sampai dengan saat ini sudah dipotong Rp43 triliun berarti dengan sendirinya belanja modal sudah terserap Rp43 trilliun," katanya di Jakarta, pekan lalu.

Chatib mengatakan belanja modal serapannya berbeda dengan pagu. Alasannya belanja modal penarikan danya pada akhir setelah semua proyek selesai. "Belanja modal itu bayarnya belakangan, nggak ada belanja modal bayar di depan. Lain sama pagu. Belanja modal tuh gitu bayar belakangan, makanya kontraktor butuh reading, pemerintah tuh begitu," ujarnya.

Dia mengatakan, serapan belanja modak akan mengantre pada akhir tahun. "Desember 2014 baru dibayar, makanya di kantor pemerintah bulan Desember penuh antri di KPPN karena semua orang ambil tagihan," jelasnya.

Sedangkan sebelumnya, realisasi belanja modal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, hingga kuartal I 2014, masih sangat rendah baru mencapai Rp7,8 triliun dari total alokasi anggaran sebesar Rp184,2 triliun. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, belanja modal pada kuartal I 2014 sudah mencapai Rp10,4 triliun dari total alokasi sebesar Rp184,4 triliun.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani mengatakan, ada beberapa penyebab masih rendahnya realisasi belanja modal disebabkan adanya kesulitan dalam pembebasan lahan. Menurut dia, harus dipastikan kelengkapan dokumen dan kesiapaan rencana dari kementerian atau lembaga yang bersangkutan. "Semakin cepat penunjukan pejabat, perencanaan matang, itu akan lebih cepat," kata Askolani

Dia mengatakan pihaknya akan melakukan pemantauan secara intensif ke kementerian dan lembaga untuk mengetahui kendala dalam penyerapan belanja modal. Pemantauan dilakukan dengan cara memanggil instansi pemerintah untuk mengetahui segala hambatan dalam penyerapan anggaran. "Akan kami coba pada triwulan II. Dengan monitoring ini kami bisa memitigasi jika ada kendala yang bisa dibantu," ucapnya.

Berdasarkan data Direktorat Perbendaharaan Kementerian Keuangan hingga kuartal I 2014 realisasi belanja negara sudah mencapai Rp 286,5 triliun dari total alokasi anggaran sebesar Rp 1.842,5 triliun, yaitu untuk pemerintah pusat Rp 1.249,9 triliun dan transfer ke daerah Rp 592,6 triliun. Adapun realisasi belanja pemerintah pusat baru mencapai Rp 164,7 triliun dan transfer ke daerah Rp 121,9 triliun.

Sementara realisasi pendapatan negara sudah mencapai Rp 288,6 triliun dari target Rp 1.665,8 triliun. Secara rinci pendapatan perpajakan sudah mencapai Rp 246,4 triliun dari target Rp 1.280,4 triliun dan penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp 42,2 triliun dari target Rp 385,4 triliun.

Akibat masih rendahnya belanja tersebut, realisasi anggaran pemerintah saat ini masih mencatatkan surplus Rp 2,2 triliun dari target defisit anggaran dalam APBN sebesar Rp 175,4 triliun. Keseimbangan primer juga masih mencatat surplus sebesar Rp 35,8 triliun dari target defisit Rp 54,1 triliun. [agus]