Pemerintah Beri SInyal Tambah Anggaran - Subsidi BBM

NERACA

Jakarta - Berdasarkan rapat pemerintah dengan DPR beberapa waktu lalu menetapkan bahwa memeberikan kuota untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi 46 juta kiloliter. Tapi jika ada kekurangan tidak menutup kemungkinan pemerintah bakal menambah anggran untuk penambahan subsdi. Pasalnya DPR dalam pembahasan APBN Perubahan 2014 tidak menutup ruang penambahan anggaran subsidi.

“Legislatif hanya meminta pemerintah serius menghambat konsumsi BBM bersubsidi. Tapi kalau jebol kita selesaikan baik-baik. Kita minta izin (tambah anggaran subsidi BBM). Fleksibilitas itu tidak ditutup oleh DPR, tapi harus optimal, kerja keras," kata Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani di Jakarta, pekan lalu.

Bendahara negara mempersilakanPertaminapesimis mampu menjaga konsumsi BBM di angka 46 juta kiloliter. Pemerintah sudah punya beberapa rencana untuk menahan lonjakan konsumsi premium dan solar. "ItuPertamina, tapi pemerintah kan punya posisi. BUMN kan tinggal mengikuti saja. Dia apa adanya, tapi kan dia tidak tahu ada kebijakan untuk nahan itu, tinggal kita pastikan di ESDM-nya," urainya.

Askolani tidak menjelaskan apa saja rencana Kementerian ESDM menghemat kouta BBM bersubsidi sampai akhir tahun. Dia menjelaskan, rencana teknis itu akan dimatangkan beberapa kali lagi. "Kami ada rencana melanjutkan pertemuan lagi, untuk lebih meyakinkan lagi." paparnya.

Sedangkan menurut Direktur Niaga dan Pemasaran PTPertamina (Persero), Hanung Budya, memproyeksikan bahwa kuota BBM bersubsidi akan jebol sebelum akhir tahun. Padahal kuota BBM subsidi tahun ini hanya dipatok 46 juta kiloliter seperti tertuang dalam APBN Perubahan 2014. "Prognosa kita enggak melakukan apa-apa 47,621 juta kiloliter," katanya.

Konsumsi Premium tahun diprediksi naik mencapai 3,2 juta kiloliter sampai akhir tahun. Dari data yang dihimpun oleh Pertamina, selama Januari sampai Mei 2014, realisasi Konsumsi premium mencapai 12.039 juta kiloliter, konsumsi kerosine sebesar 395,800 kiloliter, sedangkan konsumsi solar mencapai 6,544 juta kiloliter. Sehingga total konsumsi BBM subsidi mencapai 18,980 juta kiloliter sebelum masuk semester II 2014.

Pada kesempatan yang berbeda, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung Pemerintah tetap yakin bahwa besaran kuota konsumsi Bahan Bakar Minyak yang telah ditetapkan sebesar 46 juta kilo liter tidak akan jebol capaiannya sesuai target konsumsi. "Artinya gini, 46 juta kiloliter itu tidak akan bisa dipenuhi kalau kita tidak melakukan langkah apapun," ucapnya.

CT yakin konsumsi BBM tidak akan jebol sekurang-kurangnya hingga pemerintahan baru nanti. Terkait langkah antisipasi, pemerintah baru diharapkan mampu menanggulangi persoalan tersebut. "Langkah yang akan diambil adalah tunggu tanggal mainnya. Nunggu presiden baru nanti. Gak mungkin (jebol), kita sudah hitung. Sudah dihitung itu semua," tandasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Perketat Saham-Saham Bermasalah - BEI Bakal Tambah Jumlah Kriteria I-Suite

NERACA Jakarta – Kebijakan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimplementasikan sistem i-suite pada saham emiten yang bermasalah, direspon positif pelaku…

Menelisik Arah Utang Pemerintah Era Kepemimpinan Jokowi

Oleh: Nurul Nabila, Mahasiswi Perbankan Universitas Samudra Langsa   Selama masa pemerintahan Presiden Jokowi, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik…

Pemerintah Serahkan Bantuan ke 47 Usaha Kreatif

  NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah menyerahkan secara simbolis Bantuan Pemerintah untuk 47 pelaku di sektor kreatif.…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Membaiknya Ekonomi, Penerimaan Pajak Hampir Capai Target

        NERACA   Jakarta - Lembaga riset perpajakan DDTC menilai bahwa penerimaan pajak pada 2018 yang hampir…

Presiden Minta PKH Tak Digunakan untuk Konsumtif

      NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mengarahkan warga penerima…

DataOn Bentuk Perusahaan Baru GreatDay HR

      NERACA   Jakarta - DataOn (PT. Indodev Niaga Internet) meresmikan GreatDay HR sebagai brand baru untuk solusi…