Rupiah Paling Rentan di Asia

DAMPAK KENAIKAN HARGA MINYAK DUNIA

Jumat, 04/07/2014

Jakarta – Kalangan analis asing menilai melonjaknya harga minyak dunia membuat dua mata uang di Asia terpuruk. Dua mata uang itu adalah Rupee (India) dan Rupiah (Indonesia). Kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai titik tertinggi dalam sembilan bulan terakhir memberikan tekanan kepada kedua mata uang tersebut.

“Rupee dan Rupiah menjadi mata uang yang paling rentan terhadap kenaikan harga minyak dunia. Karena adanya subsidi, maka permintaan tidak sejalan dengan kenaikan harga akibatnya terjadi defisit perdagangan,” kata Sacha Tihanyi, analis dari Scotiabank, kepada media asing pekan ini.

Analis Morgan Stanley juga memasukkan Rupiah dan Rupee dalam kelompok “Fragile Five” alias lima mata uang yang rentan terhadap dampak defisit perdagangan. Sedangkan defisit perdagangan (kumulatif) Indonesia mencapai US$1,96 miliar pada April 2014 dan merupakan angka tertinggi sejak Juli 2013

Krisis di Irak dan dampaknya terhadap harga minyak membuat kurs mata uang 5 negara ini kembali lemah. rupiah (Indonesia), rand (Afrika Selatan), rupee (India), real (Brazil) dan lira (Turki), adalah yang performanya paling buruk di antara 31 mata uang yang dianalisis Bloomberg selama sebulan terakhir ini. Bahkan Rupiah merupakan mata uang di kawasan Asia yang berkinerja paling buruk pada bulan ini, dimana sudah terdepresiasi 5,2% terhadap US$.

Sementara mata uang di kawasan Asia lainnya, seperti peso Filipina yang menguat 1,2%, ringgit Malaysia menguat 0,7%, dong Vietnam menguat 0,5%, bahkan baht Thailand menguat 0,1%.

Menurut Morgan Stanley, mata uang lima negara (Fragile Five) sangat rentan karena ketergantungannya kepada investasi asing untuk mendanai defisit transaksi berjalannya. Dengan sebagian besar defisit perdagangan mereka dikarenakan impor minyak, kenaikan harga minyak mentah dunia yang tinggi, akan cenderung jauh lebih berpengaruh kepada kelima negara tersebut dibandingkan negara lain dan menyebabkan nilai tukar kurs mata uang mereka anjlok.

Analis asing lainnya menyebutkan, “risiko lebih besar bagi fragile five, apakah melalui perdagangan, inflasi dan mata rantai fiskal, atau melalui mata rantai sentimen,” kata Ju Wang, ahli strategi mata uang di HSBC Holdings Plc yang berbasis di Hong Kong.

”Pelemahan mata uang memang berdampak negatif bagi pasar saham. Tetapi, kami yakin bahwa ketakutan investor berlebihan. Kami tetap berpandangan positif terhadap keadaan pasar modal Indonesia pasca pilpres dan melihat tidak ada gangguan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kami menyarankan para investor agar tetap fokus memperhatikan data fundamental,” kata analis senior dari Daewoo Indonesia Securities, Taye Shim.

Bukan Obat Mujarab

Menurut Rektor Kwik Kian Gie of Business School Prof Dr Anthony Budiawan, pelemahan rupiah memang dipicu defisit neraca perdagangan, dimana pergerakan nilai tukar rupiah gagal bertahan di area positif setelah data neraca perdagangan defisit. Pelemahan rupiah ini memang dipengaruhi faktor domestik terutama defisit neraca perdagangan.

“Defisit perdagangan ini kemungkinan terjadi hingga 2-3 tahun ke depan, karena kemandirian pangan dan energi masih jadi tanda tanya besar. Oleh karenanya nilai tukar rupiah terhadap dollar terus tertekan,” kata dia.

Menurut dia, defisit neraca perdagangan Indonesia yang tinggi diatasi dengan instrumen BI Rate bukan obat mujarab untuk atasi defisit tersebut. Selama ini ketika pelemahan indeks saham dan kurs rupiah masih berlanjut, Bank Indonesia kemudian mencoba dengan senjata pamungkasnya, yaitu menaikkan BI Rate. Padahal, pelemahan nilai tukar rupiah dikarenakan tidak berhasilnya kebijakan BI Rate belum lama ini seharusnya diharapkan mampu menahan penurunan kurs rupiah.

“Saya katakan senjata pamungkas untuk menjaga stabilitas rupiah adalah dengan menaikkan BI Rate karena kelihatannya BI tidak mempunyai jurus lain lagi setelah ini untuk menahan merosotnya kurs rupiah. Ternyata BI Rate tidak efektif dalam menstabilkan rupiah,” ungkap Anthony.

Dia mengatakan, kenaikan BI Rate bahkan dapat berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi kita karena tingkat suku bunga pinjaman akan naik, sektor properti dan otomotif akan terhambat. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kenaikan suku bunga deposito dan suku bunga pinjaman akibat kenaikan BI Rate dapat menghambat konsumsi masyarakat dan investasi, di mana keduanya saat ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Dia pun menjelaskan berdasarkan data sepanjang Juni 2014 arus modal keluar (capital outflow) cukup tinggi lantaran tingginya kebutuhan valas, baik untuk membayar utang luar negeri maupun repatriasi dividen perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Besarnya arus modal keluar ini tidak sebanding dengan jumlah dana yang masuk ke dalam negeri (capital inflow). Hal ini menjadi beban yang berat buat cadangan devisa.

“Kebutuhan likuiditas valuta asing (valas) di dalam negeri di tengah pelemahan nilai tukar rupiah membuat cadangan devisa terkuras. Alhasil, pundi cadangan devisa semakin melorot sehingga bisa kemungkinan mengalami kemerosotan lebih dalam,” tambah Anthony.

Pengamat ekonomi UI Lana Soelistianingsih mengatakan, defisit neraca perdagangan kumulatif yang sudah mencapai US$0,87 miliar secara tidak langsung menjadi penghambat penguatan nilai rupiah. “Meskipun BPS menyebutkan neraca perdagangan pada Mei mengalami surplus sekitar US$70 juta, namun itu belum cukup untuk mendongkrak penguatan rupiah. Terlebih secara kumulatif defisit neraca perdagangan 2014 mencapai US$0,87 miliar,” ujarnya, Kamis (3/7).

Menurut Lana, stabilitas politik di dalam negeri ikut menjadi andil dalam pergerakan rupiah. Maka dari itu, ia berharap agar pemerintah bisa menjaga nilai tukar rupiah agar tak terus terpuruk, pemerintah harus ikut membantu dengan memastikan stabilitas politik dan keamanan. Pemerintah, kata dia, harus memastikan tidak akan ada kerusuhan dalam pemilihan presiden mendatang. “Ya, meskipun sementara, ternyata isu politik cukup berpengaruh,” kata Lana.

Namun, Lana memprediksi, meski pemerintah mampu menjaga pemilihan presiden dengan kondusif, rupiah masih akan tetap lemah hingga kuartal III 2014. “Karena kebutuhan terhadap dolar AS masih akan tinggi untuk membayar utang luar negeri,” kata dia

Tak hanya itu, ia juga meminta agar pemerintah dapat memastikan keamanan di dalam negeri. Karena ada unsur persepsi risiko investasi oleh investor. Sekarang Indonesia sudah dipersepsi cukup baik oleh kalangan investor. Tentunya juga ditopang oleh penyelengaraan pemilihan umum legislatif (pileg) pada 9 April yang lalu. Namun kedepan itu perlu dilanjutkan. “Fokus saja menjaga keamanan. Jadi kalau isu seperti kerusuhan. Jadi pemerintah harus fokus untuk kemanan dan memastikan agar tidak merembet ke daerah-daerah lain,” ujar Lana.

Dari sisi menurut Lana, memang tak bisa berbuat banyak untuk menahan laju pelemahan rupiah. Karena ada keterbatasan untuk melakukan intervensi. Beberapa hari terakhir, intervensi terbesar terlihat hanya pada obligasi. “Intervensi sangat terbatas. Sekarang penempatan di obligasi lebih banyak supaya tidak terlalu banyak investor yang akhirnya mengkonversi dari rupiah ke US$,” ujarnya.

Peneliti Indef Eko Listiyanto mengatakan, pelemahan rupiah saat ini memang tidak bisa dibilang faktor temporer akibat naiknya "suhu politik" terkait Pilpres. Tapi pelemahan itu terjadi karena tergerusnya faktor fundamental ekonomi yang rapuh diamana neraca perdagangan yang masih defisit -0,83 miliar US$ Januari s/d Mei 2014. Disamping itu juga ditambah lagi dengan naiknya gejolak geopolitik timur tengah yg mendorong harga minyak dunia. Karena Indonesia net importir minyak, jika harga naik maka permintaan dollar utk impor minyak akan meningkat sehingga rupiah melemah. "Apakah pelemahan rupiah sangat bergantung defisit perdagangan atau yg lebih luas defisit transaksi berjalan tentu saja iyah," ujarnya.

Oleh karenanya jika memang menginginkan rupiah yang kokoh tentu saja perlu adanya perbaikan pada kinerja ekspor dan penekanan impor agar defisitnya bisa teratasi. "Kalau mau instan buat penguatan rupiah tentu saja ada penguatan dari ekspor, dan terutama penekanan impor karena semakin belanja impor semakin banyak dana keluar dari dalam negeri mengakibatkan semakin merosot nilai rupiah terhadap dollar," imbuhnya.

Menyikapi kondisi demikian langkah yang harus dilakukan BI jika fluktuasinya terlalu sering dan semakin cepat , serta telah cukup jauh dari asumsi APBNP saat ini yaitu Rp 11.600 maka perlu ada intervensi, tapi kalau kenaikannya dinilai masih belum mengkhawatirkan masih belum terlalu tapi tetap diwaspadai. "Melemahnya rupiah pasti ada gejolak, dan dampaknya besar bagi perekonomian. Jadi sekecil apa pun harus terus diwaspadai," ujarnya.

Adapun dilihat dari cadangan devisa melihat depresiasi rupiah belakang ini, kalau dilihat nilai cadangan devisa saat ini US$107 miliar, maka masih kuat untuk mengantisipasi pelemahan dan memberi optimisme pada pasar. Sedangkan yang perlu dilakukan di sisi moneter adalah mendorong likuiditas untuk menggerakkan sektor ekonomi produktif terutama pertanian dan industri, dan sisi fiskal mengefektifkan kebijakan pengurangan impor. bari/agus/mohar