Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi 5,3%

Triwulan II 2014

Jumat, 04/07/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Chatib Basri memprediksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2014 berada pada kisaran 5,3%, yang didukung oleh membaiknya konsumsi rumah tangga.

"Mudah-mudahan bisa di atas 5,2%. Prediksi saya 5,3% karena konsumsinya lebih kuat akibat pemilu," katanya di Jakarta, Kamis (3/7). Chatib memprediksi ekonomi akan tumbuh sedikit lebih baik pada triwulan II karena ada perbaikan kinerja sektor ekspor meskipun tidak terlalu signifikan.

"Ekspor sedikit lebih baik karena Eropa membaik, tapi Jepang dan Tiongkok relatif stagnan, bahkan cenderung turun. Jadi ada perbaikan tapi tidak signifikan," tukas dia.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2014 hanya mencapai 5,21%, atau cenderung melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2013 yang tercatat sebesar 5,78%. Pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi 2014 dalam APBN-Perubahan sebesar 5,5%.

Pemerintah memberikan kisaran asumsi pertumbuhan ekonomi pada 2015 sebesar 5,5%-6%, dengan perkiraan kondisi perekonomian global tahun depan membaik, yang akan memperbaiki kinerja ekspor nasional dan memberikan kepercayaan atas peluang investasi di Indonesia.

Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan rancangan teknokratif RPJMN 2015-2019, dengan sasaran utama Indonesia terbebas dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap) dan menjadi negara maju dengan target pertumbuhan ekonomi 6%-8% per tahun.

Chatib juga mengungkapkan, tingginya minat investor atas penerbitan obligasi valas berdenominasi euro (eurobond) menunjukkan kepercayaan kuat terhadap instrumen keuangan Indonesia.

"Ini menunjukkan bahwa permintaan atau kepercayaan terhadap Indonesia masih sangat tinggi," jelasnya.

Dia mengatakan tingginya minat investor terlihat dari permintaan yang hampir mencapai tujuh kali lipat, padahal pemerintah hanya menargetkan penyerapan dana dari eurobond sebesar 1 miliar euro.

Strategi pemerintah

Chatib menambahkan penerbitan obligasi valas ini berada dalam momentum yang tepat karena Bank Sentral Eropa (European Central Bank) baru melakukan stimulus moneter dan memberikan ruang bagi investor untuk berinvestasi di eurobond.

"Kita yield-nya bisa dapat 2,9%, itu jelas lebih rendah dibandingkan dengan kupon di dalam dolar AS untuk jenis surat utang yang sama sekitar 4%. Ini strategi pemerintah ketika yield dolar naik, kita masuk kepada euro yang yield-nya turun," ujarnya.

Pemerintah Indonesia telah menjual obligasi atau Surat Utang Negara (SUN) dalam valas berdenominasi euro dengan seri RIEURO721 sebesar satu miliar euro pada Rabu (2/7), malam waktu Indonesia.

Penjualan SUN dalam denominasi euro itu merupakan yang pertama kalinya dilakukan oleh Pemerintah Indonesia di pasar keuangan internasional.

Penerbitan obligasi ini dilaksanakan sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan, perluasan basis investor global serta memenuhi sebagian target pembiayaan APBN-Perubahan Tahun 2014.

Tenor obligasi itu mencapai tujuh tahun atau jatuh tempo pada 8 Juli 2021, dengan tingkat kupon 2,88%, imbal hasil 2,98% dan harga 99,37%.

Total penawaran yang masuk (total order book) untuk seri RIEUR0721 adalah sebesar 6,7 miliar euro, sehingga terdapat kelebihan permintaan sebesar 6,7 kali. [ardi]