Tidak Terserap, 300 Ribu Ton Gas Bakal Diekspor

SKK Migas: Kebutuhan Domestik Terpenuhi

Jumat, 04/07/2014

NERACA

Jakarta – Pelaksana Tugas Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksasna Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Johanes Widjonarko mengatakan bahwa pihaknya tengah mencari pembeli gas alam cair (LNG) yang tidak terserap. Ia mengaku, setidaknya ada 5 kargo atau setara dengan 300 ribu ton gas alam cair dari produksi kilang gas Badak di Bontang. Johanes mengaku saat ini permintaan gas untuk domestik sudah terpenuhi semua.

“Pasokan gas untuk domestik nomor itu harus prioritas, karena domestik sudah terpenuhi semua, sekarang itu masih ada 5 kargo yang belum ada pembelinya, sebelumnya ada 18 kargo yang tidak terserap domestik tapi sudah ada pembelinya yakni BP Trading,” kata Widjonarko di Jakarta, Kamis (3/7).

Ia mengatakan bahwa 5 kargo gas Badak, Bontang tersebut harus di jual ke luar negeri. Pasalnya jika tidak maka berdampak pada matinya sumur gas. “Yang pentingkan pasokan gas dalam negeri sudah terpenuhi, gas yang kelebihan ini harus dijual karena kalau tidak harus menutup sumur gas, bisa mati nggak bisa keluar lagi gasnya, repot. Kelebihan produksi ini kan sebenarnya bagus artinya produksi kita meningkat,” ujarnya. Widjonarko menegaskan, walaupun gas tersebut dijual ke luar negeri, harganya pun tidak murah. “Yang jelas harga LNG (Gas Alam Cair) kita di atas US$ 13 per mmbtu, sangat bagus,” katanya.

Akan dibatasi

Pemerintah berencana melarang ekspor gas keluar negeri. Hal itu telah tertuang dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pembatasan serta Pelarangan Ekspor Sumber Daya Alam yang merupakan peraturan pelaksana dari Undang-Undang (UU) No.3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

Untuk memuluskan rencana tersebut, Pemerintah telah membentuk tim lintas kementerian. Ketua Tim Penyusun Peraturan Pemerintah tentang Pelarangan Sumber Daya Alam Setyo Hartono mengatakan saat ini tim perumus bersama sejumlah kementerian dan lembaga sedang menghitung kebutuhan gas dalam negeri. “Kami sedang hitung semua kebutuhan gas untuk sumber bahan baku dan energi industri,” ujar Setyo.

Kementerian Perindustrian mencatat tahun ini industri membutuhkan pasokan gas sebanyak 2.233,93 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD). Jika dari hasil penghitungan tim ini ternyata kebutuhan industri bisa terpenuhi, maka pemerintah akan mengizinkan ekspor gas ke luar negeri. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Anshari Bukhari mengatakan aturan pembatasan ekspor gas ini diperkirakan akan selesai sebelum masa pemerintahan saat ini berakhir pada Oktober.

Anggota DPR Azis Syamsudin mendesak pemerintah harus membatasi ekspor gas sesuai Peraturan Menteri ESDM No 3 Tahun 2010 tentang Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam Negeri. “Kebutuhan gas alam setiap tahun terus meningkat seiring semakin meluasnya penggunaan gas alam sebagai sumber energi, baik untuk industri maupun kebutuhan rumah tangga serta sebagai bahan baku industri pupuk,” katanya.

Azis mengatakan, hingga saat ini pasokan gas untuk dalam negeri sangat terbatas dan mengancam industri pupuk karena belum adanya jaminan pasokan. "Karena itu. pemerintah harus mencegah penjualan gas ke luar negeri, sehingga harga pupuk terjangkau bagi petani. Paling tidak, antara supply dan demand bisa berjalan," ujar dia. Menurut Azis, pemerintah telah mencoba mengatasi kebutuhan gas dalam negeri melalui kebijakan domestic market obligation (DMO) dan memprioritaskan alokasi gas dari lapangan baru seperti Donggi-Senoro untuk kebutuhan domestik.

Potensi gas yang dimiliki Indonesia berdasarkan status 2008 mencapai 170 triliun kaki kubik (tcf) dan produksi per tahun mencapai 2,87 tcf. Dengan komposisi tersebut Indonesia memiliki reserve to production (R/P) hingga 59 tahun ke depan. “Karena itu, pelbagai masukan yang berkembang dalam diskusi ini, akan disampaikan kepada FPG DPR agar pada musim tanam nanti petani tidak kesulitan mendapatkan pupuk. Kita akan menyampaikan masukan kepada Komisi W dan Komisi VII DPR agar persoalan ini ditangani secara serius,” ujar dia.

Direktur Industri Kimia Dasar Kementerian Perindustrian Tony Tanduk mengatakan, nilai tambah yang diperoleh dari pemanfaatan gas bumi untuk industri petrokimia dan pupuk mencapai US$ 6,5 miliar per tahun. Angka ini lebih besar tiga kali lipat dibandingkan keuntungan dari penjualan gas dalam bentuk gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) untuk ekspor.

Menurut dia, realisasi volume pasokan gas sebagai bahan baku pupuk pada 2011 baru mencapai 749,6 juta kaki kubik (mmscfd), termasuk swap (pertukaran pasokan) LNG untuk PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) sebanyak delapan kargo. Sedangkan kebutuhan eksisting sebesar 813 mmscfd. “Pasokan dibanding kebutuhan mencapai sekitar 92%, sementara kebutuhan pasokan gas untuk bahan baku petrokimia pada 2011 sebesar 185 mmscfd dan baru terpenuhi 166 mmscfd. Pasokan gas untuk Petrokimia dibandingkan kebutuhan eksisting baru sekitar 89%,” kata dia.