KKP Rilis Strain Baru Lele Unggul

Jumat, 04/07/2014

NERACA

Subang – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengembangkan strain baru ikan unggul. Untuk perbaikan mutu genetis, KKP melalui Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi kembali menghasilkan lele unggul. Lele generasi ketiga ini atau G3, pertumbuhan bobotnya bisa meningkat hingga 40,32% dibandingkan jenis lele sebelumnya. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo, pada safari Ramadhan 2014 di Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Kamis (3/7).

Sharif menjelaskan, berdasarkan karakterisasi dan pengujian yang dilakukan sejak tahun 2010, lele G3 mempunyai banyak keunggulan. Diantaranya, lama pemeliharaannya lebih singkat dibanding benih lokal. Terbukti pada saat pemanenan tahap pembesaran untuk mencapai ukuran konsumsi (6-9 ekor/kg) berkisar 45 hingga 50 hari dari ukuran benih tebar 5-7 cm dan 7-9 cm. Keseragaman ukurannya relatif tinggi, hasil pemanenan benih siap jual pada tahap pembenihan dan pendederan dalam satu waktu berkisar 70-90% dibandingkan benih lokal yang berkisar 50-70%.

“Daya tahan lele G3 terhadap penyakit relatif tinggi. Seperti serangan infeksi parasit Trichodina sp, Dactylogyrus sp dan Gyrodactylus sp serta bakteri Aeromonas hydrophila dan Flavobacterium columnare tanpa pengobatan menggunakan antibiotik masih berkisar 60-90%,” jelas Sharif.

Keunggulan lain, tambah Sharif, daya tahan lele G3 terhadap lingkungan relatif tinggi. Dimana sintasan pada tahap pembenihan, pendederan dan pembesaran uji multilokasi sekitar 10-20% lebih tinggi dibanding benih lokal. Daya tahan lele G3 terhadap stress juga relatif tinggi. Termasuk respon pakan bagus, meskipun pasca penanganan/handling dilakukan di jaring, grading/sortir, baru ditebar. “Feed Conversion Ratio (FCR) lele G3 juga relatif bagus, pada tahap pendederan berkisar 0,5-0,7 dan pada tahap pembesaran berkisar 0,9-1,0,” papar Sharif.

Menurut Sharif, penelitian lele G3 dimulai tahun 2010 dengan koleksi, karakterisasi dan evaluasi populasi-populasi induk pembentuk. Penelitian dilanjutkan dengan pembentukan populasi dasar sintetis tahun 2011 dan pembentukan populasi generasi pertama (G1 = first generation) pada tahun 2012. Pembentukan populasi generasi kedua (G2 = second generation) pada tahun 2013 serta pembentukan populasi generasi ketiga (G3 = third generation) pada tahun 2014.

“Benih populasi ikan lele tumbuh cepat, G3 merupakan kandidat baru strain ikan lele unggul yang perlu segera dipersiapkan untuk didistribusikan kepada para pembudidaya. Program ini sebagai upaya KKP untuk meningkatkan produktivitas budidaya ikan lele nasional,” tambahnya.

Regenerasi SDM

Sementara itu pada Safari Ramadhan sebelumnya, yang bertempat di Kampus Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta, Selasa (1/7), Menteri Sharif mengatakan, pendidikan untuk masyarakat pesisir pada hakikatnya merupakan human investment dan social capital, terutama bagi kepentingan pembangunan nasional. Dalam banyak hal, terjadinya kemiskinan masyarakat pesisir terutama nelayan bukan semata-mata karena masalah ekonomi akan tetapi salah satu penyebabnya ialah pendidikan yang rendah. Pendidikan yang memadai dan bermutu baik, paling tidak dapat dijadikan modal untuk mencari dan menciptakan peluang-peluang kerja yang dapat menjadi sumber kehidupan dan peningkatan kesejahteraan nelayan. Kenelayanan adalah budaya bangsa, warisan keahlian dan keterampilan bangsa yang harus tetap dilestarikan. Sehingga Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memprioritaskan program regenerasi nelayan.

Menurut Sharif, untuk menyikapi hal tersebut KKP menerapkan sistem pendidikan vokasi dengan pendekatan teaching factory pada satuan-satuan pendidikan kelautan dan perikanan setingkat pendidikan tinggi (Sekolah Tinggi Perikanan/STP dan Akademi Perikanan/AP) dan pendidikan menengah (Sekolah Usaha Perikanan Menengah/SUPM). Sistem pendidikan vokasi tersebut diharapkan dapat mewujudkan generasi nelayan yang handal dan profesional. Pendidikan vokasi dicirikan dengan porsi 60% praktek dan 40% teori bagi tingkat pendidikan tinggi serta 70% praktek dan 30% teori untuk tingkat pendidikan menengah. Sementara itu pendekatan teaching factory merupakan penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan proses produksi yang sebenarnya dan sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan dunia industri. “Untuk perekrutan peserta didiknya menggunakan persentase 40% anak pelaku utama, 40% masyarakat umum, dan 20% kerja sama dengan instansi terkait,” kata Sharif.

Sharif menjelaskan, melalui sistem perekrutan tersebut anak-anak pelaku utama yaitu nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan, serta petambak garam, yang telah terbentuk oleh lingkungan sektor kelautan dan perikanan semenjak kecil lebih diprioritaskan sehingga diharapkan terjadi regenerasi. “Setiap anak-anak pelaku utama mendapat kesempatan mengikuti pendidikan yang diselenggarakan oleh KKP. Setelahnya lulus mereka telah menjadi sumber daya manusia unggul yang handal dan profesional, yang siap mengelola sektor kelautan dan perikanan,” ujar Sharif.

Selain itu memaknai ibadah puasa ramadhan dalam sambutannya Sharif mengingatkan, generasi bangsa setidaknya memiliki tiga nilai moral dan psikologis puasa ramadhan yang sangat positif. Pertama, berpuasa adalah memiliki fungsi untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua secara psikologis, berpuasa mendidik sikap dan perilaku untuk meningkatkan kedisiplinan diri. “Adapun ketiga, secara psikologis berpuasa juga membentuk sikap dan perilaku kecintaan, persaudaraan, atau kepedulian kepada orang lain,” jelas Sharif.