Jalur Kereta, Solusi Urai Penumpukan Kontainer

Jumat, 04/07/2014

NERACA

Jakarta - Kondisi pelabuhan Tanjung Priok yang masih amburadul, kacau dan ruwet dengan dwelling time atau antrian tunggu sirkulasi barang sejak kapal bersandar di dermaga hingga keluar di pintu pelabuhan, yang masih tinggi. Kondisi ini tentu membuat para eksporti maupun importir semakin resah.

Selain dwelling time, keresahan mereka juga dipicu oleh sistem manajemen logistik yang masih amburadul membuat masih tingginya biaya logistik, susahnya akses keluar-masuknya kontainer, rendahnya tingkat efisiensi dan produktivitas, serta belum berfungsinya sistem online atau electronic payment di pelabuhan Tanjung Priok selama 24 jam.

Dari sekian banyak permasalahan tersebut, pelaku bisnis di industri logistik menginginkan kemudahan akses keluar-masuknya kontainer di pelabuhan Tanjung Priok. Akses ini akan membantu menurunkan biaya logistik dengan menekan tarif-tarif di pelabuhan Tanjung Priok, selain juga akan mengurangi kepadatan di Priok dengan memaksimalkan pelabuhan di sekitar pelabuhan seperti Marunda, Dry Port Cikarang, Cirebon bahkan Tanjung Emas dan Tanjung Perak.

“Manajemen truk yang digadang-gadang pemerintah bisa mempercepat untuk mengurai kepadatan di pelabuhan ternyata hanya isapan jempol saja,” ujar Wahyu Dwi Jatmiko, CEO PT Sentra Logistik, saat dihubungi wartawan, kemarin (2/7). “Infrastruktur jalan yang tidak memadai dengan traffic yang demikian padat, menjadi kendala serius bagi manajemen truk ini,” tambahnya.

Wahyu melihat bahwa untuk mengurangi kepadatan itu tak ada jalain lain kecuali dengan memberikan akses kepada jalur kereta api dari stasiun Pasoso menuju pelabuhan Tanjung Priok. Solusi ini paling keren dimana akan mempercepat kontainer tertarik keluar dari pelabuhan lebih dari tiga kali lipat. Saat ini, hanya tiga kereta per hari yang dapat masuk ke terminal kontainer Tanjung Priok.

Jika sudah ada jalur kereta api, maka frekuensi rangkaian kereta api barang bisa sampai 20 kereta per hari. Misalnya, satu rangkaian kereta itu setara dengan 30 truk maka dengan 20 kereta setara 600 truk. Dan ini kan hilir-mudik, jadi setidaknya 1.200 truk.

Kalau satu truk kontainer ukuran 40 kaki itu sepanjang 15 meter, maka 1.200 truk memerlukan panjang jalan sekitar 18 kilometer, setara jarak Rawamangun, Jakarta Timur, ke kawasan Cibubur, juga di Jakarta Timur. “Selama ini biayanya masih mahal karena adanya double handling. Namun, jika akses jalur kereta bisa masuk ke pelabuhan, biayanya akan jauh lebih murah,” ujarnya.

Sebenarnya, kata Wahyu, akses rel tersebut sudah ada. Hanya selama ini ditimbun oleh Pelindo II dengan kontainer sehingga tidak terlihat. Jalur kereta pelabuhan dapat memberikan banyak dampak positif. Karena itu, lanjutnya, dibutuhkan kebesaran hati dari Pelindo II untuk membuka kembali akses tersebut.

Adanya jalur kereta api ini akan mampu meningkatkan kelancaran pengiriman barang dari berbagai kawasan, terutama kawasan di wilayah timur pelabuhan Tanjung Priok yang mencakup sekitar 60-65% volume barang yang berasal dari Bekasi, Karawang, Cikampek, dan sekitarnya. Apalagi, wilayah timur ini mencakup 12 kawasan industri dengan lebih dari 3.000 perusahaan manufaktur. “Kelancaran pengiriman barang ini akan berdampak terhadap biaya logistik perusahaan, baik biaya transportasi maupun persediaan,” ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Zaldi Masita, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia, mengatakan bahwa jalur kereta api memang yang paling efektif. Namun, Pelindo II tidak bersungguh-sungguh membuka akses ini karena banyaknya kepentingan, padahal KAI dengan Pelindo II sama-sama BUMN. “Ini yang membuat saya tidak habis pikir. Jika saja Pelindo II serius, tentu mereka akan membuka akses jalur kereta api di pelabuhan Tanjung Priok karena berpotensi mampu menekan biaya tarif logistik sebesar 20%,” ujarnya.

Angka sebesar itu membuat biaya distribusi logistik semakin efisien, belum lagi dari aspek penghematan BBM, mengurangi secara signifikan tingkat kerusakan jalan, dan kepercayaan investasi domestik ataupun internasional, dan lainnya.

Zaldi juga telah memprediksi bahwa jika pembangunan pelabuhan Kalibaru bukan solusi untuk mengurai penumpukan kontainer. “Harusnya pelabuhan Kalibaru dilakukan setelah menyelesaikan pembangunan kereta api di pelabuhan Tanjung Priok. Tidak seperti sekarang ini,” terangnya.