Garuda Tambah Saham di Gapura Angkasa

Investasikan dana Rp 105 Miliar

Jumat, 04/07/2014

NERACA

Jakarta- PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) berencana menambah kepemilikan saham di PT Gapura Angkasa dengan mengakuisisi 456.960 lembar atau 21,25% saham PT Gapura Angkasa milik PT Angkasa Pura (AP) I senilai Rp105 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarrta, kemarin.

Disebutkan, alasan Garuda Indonesia menambah transaksi kepemilikan saham di PT Gapura Angkasa lantaran ingin meningkatkan layanan kepada pengguna jasanya. Sementara PT Gapura Angkasa merupakan salah satu entitas yang berperan dalam proses penyediaan layanan ground handling bagi pengguna jasa perseroan.

Layanan ground handling yang diberikan Gapura Angkasa, meliputi penyediaan jasa ground handling, warehousing, pengelolaan executive lounge, pengumpulan passenger service collection (PSC) dan jasa pelayanan hospitality dengan wilayah operasi tersebar di bandara di Indonesia. Dengan jumlah nilai rencana transaksi sebesar 0,77% dari jumlah ekuitas perseroan, maka rencana transaksi afiliasi tersebut bukan merupakan transaksi material dan tidak diwajibkan persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS). Jumlah ekuitas perseroan berdasarkan laporan keuangan diaudit per 31 Desember 2013 sebesar USD1,12 miliar.

Dengan terealisasinya transaksi ini, maka perseroan akan menjadi pemegang saham mayoritas PT Gapura Angkasa atau dengan kepemilikan saham mencapai 58,75%. Adapun pemegang saham Gapura Angkasa sebelum transaksi, yakni PT Garuda Indonesia Tbk sebesar 37,5%, PT AP I dan AP II masing-masing sebanyak 31,25%.

Diharapkan, akuisisi ini memberi dampak signifikan terhadap kinerja dan layanan perusahaan. Selain itu, perseroan juga berharap akan lebih fleksibel dalam menjalankan kegiatan bisnis dan operasional yang mendukung bisnis inti perusahaan. Belum lama ini, perseroan telah melakukan percepatan pelunasan utang (voluntary prepayment) atas pinjaman Export Credit Agency (ECA) dan commercial lenders (CL) senilai US$62,5 juta pada 23 Juni 2014.

Kata Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia Tbk, Handrito Hardjono, pinjaman tersebut diperoleh dari sindikasi lebih dari 15 bank, di antaranya Lloyds Bank Plc. sebagai agent dan security trustee, BNP Paribas dan Credit Agricole Corporate and Investment Bank pada 1996 dan telah direstrukturisasi sepenuhnya pada 2010.

Menurut dia, dengan percepatan pelunasan utang, maka perseroan mendapatkan kembali jaminan berupa kas dan dana maintenance reserve senilai US$14 juta, yang dijaminkan dalam bentuk rekening kreditur, “Perseroan nantinya memperoleh kepemilikan atas enam unit pesawat tipe A330-300, yang selama ini menjadi underlying asset atas pinjaman tersebut," ujarnya.

Selain itu, dengan pelunasan utang dipercepat ini, perseroan tidak lagi terkait dengan covenant dari ECA dan CL yang salah satunya adalah pembatasan perseroan dalam melakukan pembagian dividen. Hal ini selanjutnya diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kinerja keuangan perseroan. (bani)