Mengangkat Hidup Karyawan Tanpa "Kertas"

Lia Herliana, Direktur Utama PT Langgeng Inti Alam

Sabtu, 05/07/2014

Sangat disayangkan, jika hingga saat ini masih banyak kalangan yang “nyinyir” terhadap pekerjaan klining servis. Walaupun pekerjaan mereka tak jauh dari kesan kotor dan jorok, keberadaan para cleaner sangat berarti. Karena tanpa mereka tidak terbayangkan bagaimana jadinya sebuah gedung.

NERACA

Bagi sebagian kalangan, bisnis adalah bisnis, dimana target para pelakunya adalah memperoleh keuntungan pribadi tanpa memikirkan bagimana nasib orang lain. Akibatnya, gap hidup antara si kaya dan miskin pun semakin melebar. Hal inilah yang coba dihindari Lia Herliana, selain mencari keuntungan bisnis Lia juga memanfaatkannya untuk berbagi dan beramal kepada masyarakat kurang beruntung.

Karena itu jangan heran, jika wanita kelahiran Ciamis, Jawa Barat ini tak pernah pandang bulu ketika merekrut karyawan. Dengan kata lain, karyawan yang tidak memiliki “kertas” (ijazah-red) juga memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja di perusahaannya. Dengan catatan si pekerja itu telah lulus segala tes yang diberikan perusahaannya.

“Saya tidak punya apa-apa selain lapangan pekerjaan, makanya saya tidak terlalu selektif mencari karyawan. Semua kalangan masyarakat saya terima. Karena pada intinya, saya tidak ingin mereka dinihilkan dalam kehidupan. Toh keberadaan mereka sangat bermanfaat bagi banyak orang, coba bayangkan jika tidak ada tenaga seperti mereka? Apa jadinya gedung-gedung yang ada saat ini,” sebut dia.

Bagi Lia, dalam berbisnis harus bisa memberi keuntungan pada semua pihak, baik perusahaan, karyawan maupun user yang menggunakan jasa klining servis. Karena itu, atas dasar saling menguntungkan ini Lia tidak mau menggunakan kata karyawan pada jajarannya. Menurut dia, alangkah lebih elok jika dia dan juga mungkin teman-teman seprofesi (pengusaha klinging servis) menggunakan kata rekan kerja pada karyawannya.

“Memang secara struktural mereka bawahan saya, tetapi tanpa mereka saya juga tidak bisa menghasilkan uang, jadi dalam hal ini bisnis itu harus bisa menyenangkan semua pihak. Jangan mau enaknya sendiri saja,” tegas dia.

Karena itu, dia bertanggungjawab penuh atas skillrekan kerja-nya itu, karena itu dia rela mengirim pekerjanya untuk mengikuti pelatihan guna mendapat sertifikat skala nasional sehingga pekerjaan para cleaner sesuai standar dan berujung pada disenangi oleh user. Sementara itu, user-nya juga harus membayar keringat mereka dengan upah yang baik.

“Pernah suatu saat, saya memenangi tender untuk membersihkan sebuah gedung, di situ user-nya biasa memberi para cleaner upah di bawah standar, akibatnya kerja para cleaner di sana bekerja secara asal-asalan saja. Saat masuk saya ajukan untuk memperbaiki upah mereka, benar saja setelah upah mereka dinaikkan pekerjaan mereka jadi lebih baik,” ujar Lia.

Berbicara mengenai potensi bisnis klining servis, menurut Lia bisnis ini terus berkembang secara pesat dari masa ke masa. Kalau dulu mungkin banyak yang malu memiliki bisnis seperti ini. Tetapi saat sudah mulai ada pergeseran. Sudah banyak pihak yang berpikir bisnis ini mampu menghasilkan pundi-pundi keuangan yang nilainya tidak sedikit. Makanya, jangan heran jika kini banyak bermunculan usaha jasa kebersihan alias klining servis.

Hal itu, tentunya membuat persaingan usaha semakin sengit. Akibatnya si empunya usaha harus cerdas melihat pergerakan pasar. Bagi Lia, sukses yang dimiliki perusahaannya itu tak lepas dari kepercayaan besar para user. Sehingga mereka mau merekomendasikan perusahaan miliknya kepada pihak lain.

Bahkan, kini usaha klining servis miliknya bukan hanya usaha yang bergerak dalam bidang pembersihan ruangan dan tembok, tetapi juga melakukan perbaikan gedung, seperti pengecatan gedung dan lain sebagainya. Soal memperbaiki kerusakan beberapa gedung pernah merasakan sentuhan magis PT Langgeng Inti Alam, yang merupakan transformasi PT Lautan Inti Alam di awal 2014 lalu.

“Beberapa proyek besar yang pernah saya kerjakan adalah mengerjakan Gedung Depdagri Bina Pembangunan Daerah, Gedung DPD, Gedung DPR RI, Gedung Mahkamah Agung (MA), PLN dan Bahama Group, beberapa diantaranya masih saya pegang sampai sekarang,” jelas dia.

Karena itu, tak salah jika APKLINDO (Asosiasi Pengusaha Klining Servis Indonesia) meliriknya untuk bergabung dalam asosiasi, karena potensi yang dimilikinya begitu besar. Jabatan yang diberikan pun tak tanggung-tanggung, kali pertama gabung dia langsung menjabat Wakil Sekretaris Jendral asosiasi. Dan berdasarkan Munas APKLINDO baru-baru ini dia ditunjuk untuk mengisi divisi Lembaga dan Kemitraan.

“Yang jelas saya banyak belajar dari senior-senior APKLINDO, mereka orang-orang hebat di bidangnya,” kata dia.

Selain itu, hari-hari yang dimilikinya juga disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di Lembaga Sertifikasi Profesi (Klining Servis) sebagai Assesor. Lembaga inilah yang menerbitkan sertifikat profesi para cleaner agar mereka memiliki added value ddibanding cleaner yang belum sertifikat.

“Saya juga sangat senang memberikan motivasi kepada para cleaner, agar mereka mampu tampil lebih percaya diri. Karena mereka biasa dinihilkan. Kalau ada anggarannya ya syukur, tetapi kalau pun tidak ya tidak apa-apa karena pada intinya saya sangat senang untuk membantu banyak orang,” tegasnya.

Sebelum memutuskan untuk mendirikan sebuah usaha, Lia sempat bekerja di sebuah bank dan ditempatkan di front liner di sana. Tetapi, posisi itu bukanlah posisi ideal menurutnya, karena ilmu yang dimilikinya tidak bermanfaat di posisi itu. Maklum, sejak kuliah Lia memang sudah senang dan mengambil jurusan komputer perbankan. Alhasil, sebagai front liner semua ilmu yang dimiliki tak terpakai.

Karena itu, dia meninggalkan bank dan secara tak sengaja bergabung ke sebuah perusahaan yang bergerak di sektor bersih-bersih alias klining servis. Dan ternyata, di situ dia cukup nyaman, hingga akhirnya dia diajak untuk mendirikan usaha baru di bidang klining servis oleh salah seorang yang pernah menjadi atasannya.

Setelah merasa mandiri, dia pun membuka perusahaan sendiri dengan bendera perusahaan yang merupakan singkatan namanya LIA. “Kedua nama perusahaan saya selalu kalau disingkat menjadi LIA, baik itu waktu bernama Lautan Inti Alam ataupu kala berganti nama menjadi Langgeng Inti Alam,” jelas Lia.

Hobi dan Harapan

Meski kini tengah senang-senangnya berkiprah di bisnis kebersihan, Lia tak menutup kemungkinan untuk membuka usaha lainnya, tetapi kali ini usaha yang sesuai dengan hobi yang dia miliki. Ya, Lia yang punya hobi menggambar di tahun depan bercita-cita untuk menjadi designer pakaian modis wanita.

“Ya kita lihat saja nanti akan seperti apa, kalau ada kesempatannya mudah-mudahan semua yang saya cita-citakan ini dapat terealisasi. Tetapi yang jelas saya masih senang dengan usaha yang saya lakoni saat ini,” kata dia.

Dalam urusan mendesain pakaian, bukanlah hal baru bagi Lia, sejak beberapa tahun silam karyanya pernah dipakai salah seorang teman akrabnya. Lantas, beberapa pakaian yang dikenakan Lia, ada beberapa diantaranya adalah hasil karyanya sendiri.

“Teman saya kan banyak wanita sosialita yang pakaiannya selalu modis, nah mereka yang akan saya manfaatkan. Dulu teman saya sudah ada yang pakai baju yang saya desain loh,” ujar dia dengan penuh kebanggaan.

Selain mendesain sebuah pakaian, Lia juga punya hobi lain yang tak kalah hebatnya. Yakni hobi menyanyi. Dari hobi ini Lia pun pernah memiliki penghasilan tetap dengan menjadi penyanyi cafe selama delapan bulan. Mau tahu bagaimana ceritanya? Begini kisahnya. Suata ketika ketika ada sebuah pesta digelar di sebuah cafe di Jakarta, Lia diminta untuk naik panggung dan bernyanyi. Karena kualitas suara yang dimilikinya, banyak tawaran menyanyi berdatangan kala dia turun panggung.

“Saya sih nyanyi gak terlalu bisa, tetapi yang jelas saya tidak fals lah kalau nyanyi. Makanya, saya beranikan diri,” sebut Lia dengan seraya merendahkan diri.

Usut punya usut, darah seni yang dimiliki Lia ini adalah warisan ibundanya. Kata dia, sang ibu dulu sempat memilki band sekolah. Sayangnya, nasib band ibunya itu harus kandas dan membuyarkan cita-cita. Lantas bagaimana dengan Lia, apakah kini dia ingin menjadi seorang penyanyi?

“Saya memang terobsesi untuk menjadi penyanyi beberapa tahun lalu, tetapi saat ini sudah tidak lagi. Ya paling saat ini nyanyi karaoke saja, untuk memenuhi hobi. Karena saya lebih nyaman dengan yang saya kerjakan saat ini,” aku Lia.