Reformasi Struktural Harus Dilakukan

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia, Agus Dermawan Wintarto Martowardojo, mengatakan upaya reformasi struktural harus dilakukan pemerintah agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai angka tujuh persen dalam beberapa tahun mendatang.

"Kalau seandainya Indonesia bisa meneruskan reformasi struktural, kita bisa mencapai di tahun 2018 pertumbuhan ekonomi 6,5% atau lebih. Kalau ingin mencapai 7%, kita harus berupaya lebih keras lagi," katanya di Jakarta, kemarin.

Agus mengatakan reformasi struktural dapat dilakukan dengan memperbaiki tiga pilar, yaitu mendorong daya saing industri nasional, membangun kemandirian ekonomi nasional dan melahirkan sumber pembiayaan pembangunan yang berkesinambungan.

"Kalau kita bisa membangun tiga pilar itu, harus didukung kebijakan dalam bidang energi, pangan serta modal utama pembangunan, termasuk pembenahan infrastruktur, sumber daya manusia, teknologi dan pembangunan institusi," katanya.

Menurut Agus, tiga pilar tersebut harus bersinergi dengan tiga kebijakan dalam bidang energi, pangan serta pembangunan, karena kalau tidak dilakukan, maka reformasi struktural tidak berjalan dengan baik dan pertumbuhan ekonomi melambat.

"Kalau sekarang kita hanya memperbaiki infrastruktur, tapi tidak melakukan pembenahan manajemen dalam bidang energi seperti BBM maupun listrik, dan pangan kita cenderung impor, maka kita tidak melanjutkan reformasi struktural," kata mantan Menteri Keuangan ini.

Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan rancangan teknokratif RPJMN 2015-2019, dengan sasaran utama Indonesia terbebas dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap) dan menjadi negara maju dengan target pertumbuhan ekonomi 6%-8% per tahun.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2014 hanya mencapai 5,2%, atau cenderung melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2013 yang tercatat sebesar 5,78%. Pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi 2014 dalam APBN-Perubahan sebesar 5,5%.

Sementara, pemerintah memberikan kisaran asumsi pertumbuhan ekonomi pada 2015 sebesar 5,5%-6%, dengan perkiraan kondisi perekonomian global tahun depan membaik, yang akan memperbaiki kinerja ekspor nasional dan memberikan kepercayaan atas peluang investasi di Indonesia. [ardi]

BERITA TERKAIT

Reformasi Pajak Digenjot Demi Tax Ratio

Oleh: Pril Huseno Ihwal penerimaan pajak Indonesia, menjadi hal yang menarik dikaji. Sebagai penerimaan terbesar dalam APBN, penerimaan pajak menjadi…

Kenapa Harus Ada “People Power”?

  Oleh : Dewi Komalasari, Pemerhati Masalah Sosial Politik Kenapa mesti ikut pemilu jika dirinya tidak percaya dengan kinerja KPU?…

Pluralisme dan Toleransi Harus Dirawat untuk NKRI

Pluralisme dan Toleransi Harus Dirawat untuk NKRI NERACA Jakarta - Cendekiawan sekaligus praktisi antropologi Dr Kartini Sjahrir mengatakan pluralisme atau…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Meski Terjadi Aksi 22 Mei, Transaksi Perbankan Meningkat

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan demonstrasi terkait Pemilu pada 22 Mei 2019 yang diwarnai…

Libur Lebaran, BI Tutup Operasional 3-7 Juni

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menetapkan untuk meniadakan seluruh kegiatan operasional pada 3-7 Juni 2019 atau…

Asosiasi Fintech Minta Dapat Kemudahan Akses Data Kependudukan

    NERACA   Jakarta – Industri Finansial Technology (fintech) berharap agar pemerintah bisa mengizinkan usaha fintech bisa mendapatkan akses…