Pemilu Tak Mampu Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Jumat, 04/07/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian, Chairul Tanjung melihat bahwa pemilu, baik legislatif maupun presiden dan wakil presiden, pada tahun ini tidak membantu mendorong pertumbuhan ekonomi. Di mana pada kuartal II 2014, pemerintah memprediksi pertumbuhan sebesar 5,2%-5,3% jelas meleset dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang semula diproyeksikan dikisaran 5,5% - 6% sebelum APBN-Perubahan dibuat. "Pemilu tidak terlalu banyak, tidak seperti lima tahun sebelumnya. Tidak banyak mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Chairul di Jakarta, Rabu (2/7).

Pemerintah berharap pemangku kepentingan di sektor moneter, fiskal, dan riil dapat meningkatkan koordinasi untuk menggenjot pertumbuhan. Pada kuartal II 2014, lanjut dia, roda penggerak ekonomi masih ditopang oleh konsumsi domestik. Terlebih saat ini bulan Ramadan.

"Pendorong pertumbuhan tidak lain adalah bagaimana meningkatkan ekspor dan meredam impor, tapi faktanya sebaliknya ekspor turun dan impor turun jadi investasi naik tapi tidak signifikan," jelasnya.

Padahal sebelumnya pemerintah sangat optimis pertumbuhan ekonomi bakal terdongkrak karena aktivitas di tahun politik. Menteri Keuangan Chatib Basri meyakini, konsumsi rumah tangga akan terdongkrak karena adanya kegiatan-kegiatan menjelang pemilihan umum, sehingga konsumsi rumah tangga akan menjadi 5% dari 4,9% yang ditargetkan pemerintah.

Apabila aktivitas pemilu meningkat maka, lanjut dia, akan ada konsumsi rumah tangga yang meningkat pula karena masyarakat akan membeli spanduk dan logistik lain seperti makanan dan minuman untuk kebutuhan pemilu.

"Kalau aktivitas pemilu meningkat itu sedikit banyak berpengaruh kepada konsumsi rumah tangga. Karena mereka akan beli makanan, spanduk dan macam-macam," kata Menkeu.

Sedangkan menurut pengamat Perencanaan Pembangunan Nasional Syahrial Loetan menuturkan seharusnya pemilu menjadi momentum meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, pemilu dinilai menjadi waktu tepat untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

"Pemerintah harus cermat menangkap dan memanfaatkan momentum pemilihan umum (pemilu) legislatif dan presiden tahun 2014 agar pertumbuhan tinggi bisa kita capai," katanya.

Menurut Syahrial, geliat perekonomian masyarakat menjelang dan saat pemilu kali ini cukup signifikan, terutama sektor-sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), yang akan mendorong perekonomian hingga 2%-3%.

Sektor-sektor UMKM tersebut, dia menjelaskan, akan memproduksi besar-besaran berbagai atribut dan keperluan partai politik (parpol) yang akan digunakan menjelang dan saat pemilu dan pemilihan presiden pada 9 Juli 2014.

Karena itu, menurut Syahrial, pesta demokrasi tersebut akan membuka peluang-peluang ekonomi baru atau memilikimultiplier effects. Misalnya, di sekitar industri-industri kecil penghasil berbagai kebutuhan kampanye bagi parpol akan memiliki dampak lanjutan, seperti munculnya rumah makan sederhana yang dikelola oleh masyarakat setempat, sehingga banyak pihak akan menikmati perputaran uang saat pemilu nanti.

Meski demikian, kata dia, pemerintah tetap harus mengoptimalkan momentum yang ada, baik untuk mempercepat pembangunan beberapa sektor infrastruktur di seluruh Indonesia, juga untuk memastikan terjaganya keamanan saat pemilu berlangsung, termasuk memberdayakan masyarakat untuk terlibat aktif menjaga keamanan di setiap lingkungan. "Yang penting, pemerintah harus bisa menjamin keamanan dan rasa aman pada masyarakat, sehingga banyaknya uang beredar akan benar-benar dapat memberikanmultiplier effectsbagi ekonomi nasional," pungkasnya. [agus]