Persaingan Digital Perbankan Semakin Memanas

NERACA

Memasuki pertengahan tahun 2014, setelah Bank Indonesia akan membatasi ijin E-Money , perbankan, provider mulai berlomba mengeluarkan produk transaksi melalui handphone sendiri, sebagai contoh yang baru launching adalah sebuah bank swasta yang mengeluarkan produk Rekening Ponsel, dan beberapa provider yang sudah bisa tarik tunai dari deposit di Handphonenya.

Saat ini era uang digital semakin dibutuhkan masyarakat karena efisien dan menghemat waktu karena bisa digunakan kapan saja sebab bisa dilakukan handphone sendiri. Apakah kita saat ini masih bertransaksi konvensional?, cobalah beralih ke cara transaksi melalui handphone sendiri.

Melihat perkembangan ini dunia perbankan tengah gencar mengedepankan layanan keuangan digital karena dipastikan potensi perkembangan sektor ini sangat tinggi. Selanjutnya, perbankan harus memaksimalkan penetrasi keuangan digital ini sebagai pengganti uang tunai kepada konsumen.

Semakin berkembangnya penggunaan digital, pemerintah disarankan untuk menerapkan standar uang elektronik (e-money) agar ekosistem pembayaran secara digital lebih massif.

“Aturan terbaru dari Bank Indonesia sudah bagus dengan adanya interperobilitas antar pemain. Masalahnya, sekarang banyak pemain dan standarnya beda-beda. Tetapkan saja satu standar, bank mana pun bisa menyelenggarakan e-money, menggunakan reader apapun. Tinggal model bisnisnya dibicarakan,” ungkap peneliti dari Sharing Vision, Dimitri Mahayana.

Diungkapkannya, saat ini jumlah e-money beredar jika merujuk pada tahun lalu tidaklah besar hanya sekitar Rp 36,81 miliar sebulan. Sementara pemain lumayan banyak, mulai dari perbankan, independen, dan operator.

“Sekarang dilihat dari luar ada persaingan antara bank dengan pemain Telco menggarap e-money. Idealnya, bank tetap bank, telco tetap telco, lalu anak perusahaannya main di e-money. Semua bisa kebagian kok dari bisnis ini, hanya dari fee saja,” katanya.

Dikatakannya, jika dilihat di bisnis e-money sektor perbankan lebih maju, sementara operator kedodoran.“Bank punya kekuatan di sisi perangkat dan penetrasi ke merchant. Tetapi sebenarnya keduanya jauh dari maju dibandingkan negara lainnya,” tuturnya.

Menurutnya, faktor belum berkembangnya e-money karena belum optimalnya sektor Telco memanfaatkan basis pelanggan, Bank Indonesia yang kurang galak mengevaluasi lisensi, aplikasi yang dinantikan baru keluar yakni peer to peer transaction, serta teknologi yang dipilih belum ideal.

BERITA TERKAIT

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0 NERACA Jakarta -Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan meluncurkan indikator penilaian…

Songsong Era Digital, Kemenperin Beri Pengarahan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menyambut kehadiran 375 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) hasil rekrutmen tahun 2018. Jumlah tersebut terdiri…

Pertumbuhan Lambat Perbankan Syariah Di Kalbar

  NERACA Pontianak – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Barat, Mochamad Riezky F Purnomo, mengatakan pertumbuhan perbankan syariah…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…