Kepemimpinan Nasional = Negarawan

Kamis, 03/07/2014

Capres Prabowo Subianto dan Jokowi idealnya bergabung menjadi satu kesatuan. Artinya, mereka memiliki kompetensi dan sikap yang saling melengkapi. Yang satu berkesan punya sifat percaya diri dan tegas, sedangkan satunya begitu soft, murah senyum, senang turun ke bawah sehingga dikenal dengan manajemen blusukan. Namun karena pertimbangan politik atau mungkin ada faktor lain, sehingga masing-masing ingin menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Berarti nanti ada yang menang dan ada yang kalah, dan hal itu butuh sifat negarawan. Prabowo dan Jokowi harus siap menang dan siap kalah. Mereka harus menyadari pentingnya orientasi pencapaian tujuan harus disertai dengan etika dan moral yang tinggi. Kita menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi yang bersih dan elegant di tengah maraknya kampanye saat ini.

Tantangan pertama presiden ke depan adalah, apa pun hasilnya masing-masing harus legawa. Pihak yang menang harus dapat merangkul dan mengajak bekerja sama pihak yang kalah untuk membawa kejayaan Indonesia. Pihak yang kalah pun harus ikhlas menerima karena hidup kita tidak dapat terlepas dari takdir Tuhan. Apalagi terkait dengan prioritas kepentingan nasional, Indonesia saat ini masuk golongan 10 besar ekonomi dunia dari sisi PDB.

Ini sesuai laporan Bank Dunia berjudul ’’Purchasing Power Parities and Real Expenditures of World Economies’’, Summary of Results and Findings of the 2011 International Comparison Program, dimana menyebutkan Indonesia masuk peringkat 10 dunia, diawali oleh Amerika Serikat (AS) , Tiongkok, India, Jepang, Rusia, Brasil, Prancis, Inggris dan lainnya.

Penentuan keberhasilan Indonesia tersebut berdasarkan pada kriteria produk domestik bruto (PDB) terhadap tingkat daya beli masyarakat (purchasing power imparity). Tetapi harus diingat bahwa kriteria penentuan berdasarkan besaran PDB adalah konsep wilayah dalam perhitungan pendapatan nasional.

Artinya, siapa pun yang ada di wilayah Indonesia dihitung sumbangannya terhadap pendapatan nasional. Padahal, seperti diketahui bukan rahasia lagi bahwa ekonomi Indonesia sekarang berada dalam penguasaan asing. Buktinya, sejak bangun sampai akan tidur kembali, kita mengonsumsi barang milik asing. Jadi, tantangan presiden mendatang adalah bagaimana menyiasati supaya muncul keseimbangan penguasaan ekonomi Indonesia bisa lebih berpihak kepada kita.

Kondisi ini mungkin mudah diucapkan tapi pelaksanaannya perlu ekstra keberanian. Pasalnya, para elite Indonesia sudah enak dengan posisinya, jadi apakah berani melawan kekuatan internal dan eksternal, yang selalu ingin Indonesia berada dalam kekuasaannya? Lagi-lagi sifat negarawan amat dibutuhkan dalam arti tidak begitu saja menafikan kerja sama dengan asing, tetapi bagaimana memosisikan Indonesia dalam perundingan dengan asing dalam posisi menguntungkan. Sudah bukan rahasia umum lagi, jika terkait pengelolaan sumber daya alam, posisi Indonesia begitu lemah bila berunding dengan pihak luar.

Bahkan ada yang mengatakan banyak konsep dari undang-undang tentang sumber daya alam Indonesia dibuatkan pihak asing tapi pihak Indonesia tidak banyak mengubahnya. Keadaan ini bisa terjadi karena pada dasarnya untuk menjadi elite di Indonesia butuh biaya sangat besar, padahal gajinya tidak mencukupi. Akhirnya, usaha mencari pengembalian biaya (modal) dapat diperoleh dari mana saja, dan bisa juga dari pihak asing.

Jadi, tantangan presiden mendatang adalah bagaimana merasionalkan gaji para pejabat negara, tetapi juga harus tegas memberantas korupsi. Saat ini, kita melihat gaji pegawai agak ’’aneh’’karena gaji presiden kita di bawah dari gubernur Bank Indonesia. Belum lagi gaji seorang kepala daerah (bupati/wali kota) konon kurang dari Rp 6 juta tapi untuk menjadi seorang kepala daerah bisa menghabiskan dana sampai Rp 10 miliar. Nah, di masa mendatang gaji pegawai negeri harus besar tapi bila korupsi harus dihukum paling berat.

Bagaimanapun, idealnya pertumbuhan nasional tercermin oleh kenaikan pendapatan nasional diikuti tingkat kemerataan distribusi pendapatan. Penciptaan lapangan pekerjaan dan penghapusan kemiskinan akan menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Semoga presiden terpilih nanti benar-benar seorang pemimpin yang memiliki sifat negarawan.