Kenaikan TDL Bikin Pengusaha Relokasi dan Gulung Tikar

Kamis, 03/07/2014

NERACA

Jakarta – Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang telah terjadi pada 1 Mei 2014 untuk golongan industri I3 dan I4 serta golongan industri dan rumah tangga pada 1 Juli 2014 membuat “pukulan” tersendiri untuk dunia usaha. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan kenaikan tersebut telah membuat para pengusaha ingin merelokasi ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam.

“TDL sudah naik, ditambah lagi dengan depresiasi rupiah telah membuat pengusaha dalam negeri untuk membangun pabrik di negara-negara seperti Malaysia, Thailand ataupun Vietnam. Tapi itu kan bagi industri besar. Kalau industri kecil dan rumah tangga, ya mereka langsung mati atau beralih jadi pedagang," ujar Franky di Jakarta, Rabu (2/7).

Menurut Franky, kondisi di negara lain dinilai kalangan pengusaha lebih stabil sehingga mampu memberikan kepastian yang dibutuhkan dalam membangun usaha. "Kalau di luar lebih ada kepastian dalam banyak hal seperti kepastian hukum, lebih ada jaminan pasokan dan harga energi, serta jaminan suplai bahan baku," lanjut dia.

Terlebih lagi, Indonesia akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, sehingga proses pemindahan dan pembangunan pabrik akan menjadi lebih mudah. Hal ini bahkan sudah dijadikan orientasi dari beberapa perusahaan yang mempunyai pabrik di Indonesia.

“Saat MEA kan kami tidak harus bangun pabrik di Indonesia. Beberapa industri memang sudah berorientasi untuk bangun pabrik di luar Indonesia dalam 2-3 tahun terakhir. Itu baik multinasional maupun perusahaan nasional,” kata Franky.

Untuk itu, pengusaha masih berharap pemerintah mau kembali meninjau dan melakukan revisi terhadap kenaikan listrik ini. “Kami minta pemerintah merevisi keputusan ini. Bagi pengusaha makanan sebenarnya ada pilihan untuk impor atau tetap produksi didalam negeri,” tandasnya.

Ditambahkan Franky, keputusan pemerintah untuk menaikan tarif listrik bagi industri dan beberapa golongan rumah tangga dinilai lebih banyak merugikan pengusaha. Pasalnya sektor industri tersebut merupakan sektor yang produktif dan banyak menyerap tenaga kerja.

Franky mengatakan kenaikan tarif listrik ini akibat ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi target pendapatan negara. “Kita tetap tidak setuju dengan kenaikan itu. Menurut saya itu lebih kepada paniknya pemerintah yang tidak bisa mengelola kewajibannya dalam mengumpulkan pajak sehingga target penerimaannya tidak tercapai,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan ini sebagai salah satu contoh kebijakan energi tidak rasional yang dilakukan oleh pemerintah karena tarif listrik yang dinaikan paling besar justru pada sektor yang produktif. Sedangkan sektor yang tidak produktif tidak dinaikan secara proporsional.

Hal ini dinilai tidak adil karena sektor yang non-produktif seperti rumah tangga untuk golongan tertentu justru tidak dinaikan. Padahal beban pengusaha akibat kenaikan upah minimum provinsi terus meningkat dan dinikmati oleh buru yang berasal dari sektor rumah tangga.

“Saya mengkritisi pemerintah yang tidak menaikkan golongan rumah tangga dengan daya 450 Va dan 900 Va yang bayarnya hanya Rp 30 ribu dan Rp 60 ribu per bulan sudah 10-11 tahun tidak naik. Tetapi UMP dalam 5-6 tahun terakhir sudah naik 90%-100%. Jadi pemerintah irasional dalam mengambil keputusan,” jelas dia.

Akibat kenaikan tarif ini, lanjut Franky, memiliki dampak yang besar terhadap pabrik-pabrik yang ada di dalam negeri seperti pengurangan kapasitas, penghentian produksi hingga penundaan investasi atau ekspansi pabrik. “Hal ini jelas akan berpengaruh terhadap daya saing kita yang semakin rendah,” katanya.

Sementara itu, Franky juga menyatakan bahwa pengusaha juga tidak berbuat banyak untuk menutupi lonjakan biaya produksi akibat kenaikan ini. “Problemnya tidak semua bisa didorong untuk naik (harga jual produk), karena ada kontrak tahunan yang harus ditaati. Dan ini bukan hanya listrik, rupiah melemah juga menjadi tekanan. Tidak mungkin kenaikan biaya produksi dialihkan pada kenaikan harga ke konsumen. Kalau tidak sanggup omset bisa turun, atau barangnya tidak laku,” tandasnya.

Sementara itu, pemilik Usaha Kecil Menengah (UKM) dari PT MagFood Inovasi Pangan dan PT MagFood Amazy Internasional, Yanty Melianty, mengemukakan bahwa kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) hari ini akan menambah efek domino yang selama ini sudah dialami oleh Yanty.

“Kenaikan TDL akan menambah efek domino yang sudah kami rasakan mulai sejak kenaikan UMR 70% waktu itu lalu bahan baku jadi naik dua kali lipat, harga outlet naik, dollar naik, sekarang listrik naik juga,” tukasnya.

Situasi ekonomi yang kurang baik ditambah dengan kebijakan pemerintah yang tidak mendukung menurutnya menurunkan pemasukan perusahaan. Jika sebelum ada perubahan aturan dan kondisi ekonomi budget untuk gaji karyawan 20% dari omzet maka dengan adanya perubahan tersebut anggaran untuk karyawan bertambah jadi 30%.

Padahal jika dibandingkan dengan perusahaan besar, anggaran untuk karyawan hanya 5% dari omzet. “Semua supplier tergoncang belum lagi ditambah transport naik, jadi biaya perusahaan bisa sampai 200%,” ucap dia.