Produksi Minyak Mentah Naik Semester Kedua

Hulu Energi

Kamis, 03/07/2014

NERACA

Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan produksi minyak mentah akan mengalami kenaikan pada semester kedua 2014. Kepala SKK Migas J Widjonarko di Jakarta, Rabu, mengatakan pada semester kedua, proyek-proyek peningkatan produksi akan mulai berjalan. Sehingga, kata dia, produksi migas nasional bakal naik pada waktu tersebut.

Lebih jauh Widjanarko menjelaskan, produksi minyak mentah sampai semester pertama 2014 mencapai 796.000 barel per hari dan gas bumi 6.900 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Sementara, produksi terjual (lifting) sampai 30 April 2014 adalah minyak 796.500 barel per hari dan gas 1,239 juta barel setara minyak per hari. Sementara proyek-proyek peningkatan produksi tersebut berasal dari lapangan eksisting dan baru. Untuk lapangan baru yang akan mulai berproduksi semester kedua 2014 antara lain Peciko 7B, Sisi Nubi 2B, dan Banyu Urip.

Pada APBN Perubahan 2014, target "lifting" minyak adalah 818.000 barel per hari dan gas 7.099 MMSCFD atau 1,224 juta barel setara minyak per hari. "Lifting" minyak dari 13 kontraktor terbesar berturut-turut adalah PT Chevron Pacific Indonesia 304.150 barel per hari, PT Pertamina EP 127.420 barel, Total E&P Indonesie 66.860 barel, PT Pertamina Hulu Energi Ofshore North West Java (PHE ONWJ) 39.790 barel, dan CNOOC SES Ltd 34.080 barel.

Lalu, Mobil Cepu Ltd 31.880 barel, ConocoPhillips Indonesia Ltd 27.090 barel per hari, PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore 22.750 barel, dan Chevron Indonesia Company 19.910 barel. Urutan ke-10 adalah PetroChina International Jabung Ltd 14.960 barel per hari, PT Bumi Siak Pusako Pertamina Hulu 14.600 barel, PT Medco E&P Indonesia Rimau 12.970 barel, dan Vico Indonesia-Sanga Sanga 12.970 barel.

Adapun untuk "lifting" gas bumi, 11 kontraktor terbesar adalah Total E&P Indonesie 283.060 barel setara minyak per hari, disusul BP Berau 169.240 barel, dan ConocoPhillips (Grissik) Ltd 170.050 barel. Lalu, PT Pertamina (Persero) ditargetkan 150.890 barel, Vico Indonesia 57.160 barel, ConocoPhillips Indonesia Ltd 52.010 barel, dan Kangean Energy Indonesia Ltd 45.770 barel. Kemudian, Premier Oil Natuna Sea BV 35.980 barel setara minyak per hari, PHE ONWJ 32.110 barel, PetroChina International (Jabung) Ltd 25.160 barel, dan Chevron Indonesia Company 15.770 barel.

Jauh sebelumnya, dijelaskan, minimnya produksi dan kilang minyak menjadikan Indonesia masih menjadi salah satu negara terbesar impor minyak, menyikapi hal itu Wakil Presiden Indonesia Boediono angkat bicara. Menurutnya saat ini masih ada kendala dalam memproduksi minyak. Untuk mengatasi itu pemerintah mengeluarkan 6 target yang harus dilakukan lima bulan ke depan.

Boediono mengatakan, hambatan yang pertama dalam memproduksi minyak Indonesia adalah tren penurunan migas nasional, karena sumur migas sudah memasuki masa penuaan. Hal ini menyebabkan realisasi lifting minyak selalu di bawah target. Selain itu, khusus minyak bumi 88% total cadangan awal sudah terkuras selama 60 tahun, sehingga pencarian minyak semakin sulit dan kualitasnya semakin menurun.

"Kami menyadari banyak hambatan dan tantangan, yang harus kami atasi bersama sekarang dan tahun mendatang," kata Boediono, saat membuka, pameran IPA ke 38 di Jakrata Convention Center (JCC) Jakarta, beberapa bulan lalu.

Menurut Boediono, tren kemerosotan ini harus dibalik. Untuk itu, dalam lima bulan masa bakti pemerintahan kabinet Indonesia bersatu II, ada enam hal capaian yang harus dilakukan. Pertama, Meningkatkan koordinasi antar instasi dalam meminimalkan kendala dari sisi pemerintah baik di sisi pemerintah maupun daerah. Kedua, Mengamankan wilayah pengembangan migas yang sudah berjalan agar tidak makin tertunda lagi. "Ketiga, Meminta Pertamina sebagai perusahaan migas nasional untuk merealisasikan potensi cadangan," ujar Boediono.

Keempat, Memperbaiki seluruh mata rantai tata kelola migas dari hulu sampai hilir yang belum optimal. Misalnya menetapkan alokasi migas, membangun infrastruktur," paparnya.

Ia melanjutkan, kelima mengoptimalkan pengelolaan cadangan migas eksisting dari sumberdaya yang belum dimaksimalkan dan keenam, Menciptakan iklim yang kondusif sehingga menarik bagi investor.

Namun begitu sebelumnya, Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Gde Pradnyana memaparkan data yang menggambarkan sumber daya migas di Indonesia sudah habis dikeruk. "Pemanfaatan sumber daya migas yang ada harus segera dikendalikan, apalagi peningkatan konsumsi tidak cukup diatasi dengan produksi," kata Gde.