Skenario Foresight Indonesia Dipimpin Prabowo atau Jokowi - Oleh: Toni Soedibyo. Pengamat Masalah Kominfo

Tulisan ini tidak bermaksud untuk “mengadu” antara Prabowo Subianto dengan Joko Widodo alias Jokowi, karena keduanya orang-orang yang baik, jujur, sederhana, merakyat, mampu memimpin Indonesia dan tegas, walaupun kata almarhum Gus Dur dalam sebuah wawancara dengan sebuah televisi nasional pernah menyatakan “tokoh yang ikhlas mengabdi untuk rakyat Indonesia adalah Prabowo”. Pernyataan Gus Dur ini wajar, karena nama Jokowi saat Gus Dur menjadi presiden belum terkenal seperti saat ini.Tulisan ini hanya memperkirakan atau memprediksi bagaimana Indonesia bila dipimpin oleh Prabowo atau Jokowi, apakah mengalami kemajuan, stagnan atau bahkan kemunduran.

Menurut Mats Lindgren dan Hans Bandhold dalam bukunya “Scenario Planning : The Link Between Future and Strategy” mengatakan, merencanakan sebuah skenario bagi sebuah perusahaan ataupun organisasi bahkan negara adalah penting, karena skenario tersebut dapat menjadi penghubung antara strategi untuk memenangkan masa depan yang sangat diwarnai dengan ketidakpastian. Menurut mereka, untuk membuat scenario planning diawali dengan konsep TAIDA yaitu Tracking (melacak dan menggambarkan perubahan di masa depan), Analysing (menganalisis perubahan di masa depan tersebut dan membuat skenario secara umum), Imaging (setelah mendapatkan gambaran masa depan, dirumuskan dalam bentuk visi), Deciding (mengidentifikasi ancaman dan bagaimana caramencapai tujuan atau visi yang telah ditetapkan), dan Acting (bagaimana memfollow up semua rencana kerja yang telah ditetapkan/disepakati).

Terkait dengan upaya menggambarkan perubahan di masa depan, tim sukses Jokowi-JK sudah menggambarkan cukup jelas yaitu perlu penguasaan terkait dengan cyber, hybrid, poros negara maritim, dan drone untuk pengawasan wilayah negara. Namun, kubu Prabowo-Hatta cukup jelas menggambarkan bagaimana perubahan masa depan yang dihadapi Indonesia yaitu pentingnya penguatan ekonomi rakyat, kebijakan luar negeri yang bersahabat dengan beberapa negara lainnya dan mencermati serta mengamati secara serius konflik yang terjadi di Laut Cina Selatan (LCS) ataupun perubahan geostrategi, geopolitik dan geoekonomi yang terjadi di kawasan global dan regional, khususnya kawasan Asia Pasifik dimana Indonesia sebagai “pivotal”nya.

Perubahan masa depan lainnya adalah kemungkinan krisis sumber daya alam, demografi yang tidak terkontrol serta era digitalisasisehingga gempuran informasi melalui dunia maya/internet dan sosial media yang sangat rentan membahayakan keamanan nasional jika tidak dikelola dengan baik, karena social riots yang terjadi di Tunisia, Libia, Suriah dan Mesir berawal dari propaganda gencar anti pemerintah dari kelompok yang melawan penguasa/pemerintah yang disokong asing menggunakan sosial media.

Dalam membuat skenario umum terkait perubahan masa depan yang dapat dilacak, sangat ditentukan oleh beberapa faktor driving forces yang dihadapi Indonesia ke depan antara lain siapa yang menjadi kawan dan lawan sejati Indonesia dimasa depan, bagaimana perkembangan iptek kita dan apakah mampu merespons perubahan masa depan, bagaimana lingkungan dan kesehatan, media massa, perubahan sosial dan gaya hidup, struktur dan organisasi yang ada, proses legislasi di parlemen, kehidupan politik serta ekonomi dan pasar kita.

Kecenderungan yang terjadi terhadap Indonesia di masa depan antara lain meningkatnya gejala internasionalisasi yang tidak dapat dielakkan Indonesia, bahkan dalam Pilpres 2014 terdapat sejumlah “intervensi asing” di dalamnya ; Posisi Indonesia akan tetap menjadi signifikan di kawasan regional jika pertumbuhan ekonominya terjaga dengan baik, namun jika sebaliknya yang terjadi Indonesia akan “diperbudak” oleh negara lain (Prabowo dan Jokowi yang sama-sama memahami ajaran Soekarno menolak Indonesia diperbudak negara lain) ; Masyarakat Indonesia akan semakin berubah gaya hidupnya, bahkan jika reformasi institusi negara tidak berjalan dengan baik dan tidak dipimpin sosok presiden yang tegas dan berani, maka gejala “negara autopilot” akan semakin menguat, sehingga respek warga negara terhadap negara akan melemah ; Kondisi masyarakat akan “terpecah” jika adu kekuatan selama kontestasi Pilpres 2014 menelorkan permusuhan yang berkepanjangan dan gagal diredusir oleh pemerintahan yang baru ; Cyber, Hybrid dan teknologi komunikasi akan semakin canggih sehingga menimbulkan ancaman tersendiri seperti serangan hacker dengan berbagai motif akan meningkat sangat tajam ; Kondisi lingkungan di beberapa daerah semakin melemah karena banyak pencemaran lingkungan yang tidak dapat ditangani secara tegas oleh instansi terkait, kondisi kesehatan penduduk di beberapa daerah terutama Indonesia Bagian Timur juga belum sesuai dengan target kesehatan yang dicanangkan dalam MDG’s ; Media massa semakin konvergen dan memasuki era digitalisasi sehingga rentan digunakan sebagai media propaganda pihak lawan ; Struktur dan organisasi yang ada di Indonesia mayoritas kurang berkembang secara profesional ditandai dengan banyaknya ormas-ormas atau NGO “jadi-jadian” yang sebenarnya hanya menjadi komprador asing di Indonesia, banyak parpol yang tidak terkelola dengan baik dan hanya sibuk kegiatan parpolnya jika ada Pileg atau Pilpres saja ; Proses legislasi di parlemen juga tidak berjalan seperti yang diharapkan, mutu tenaga ahli di masing-masing fraksi juga perlu dipertanyakan, termasuk mutu anggota parlemen itu sendiri. Faktanya banyak regulasi yang harus ditelorkan selama masa pengabdiannya, gagal sepenuhnya terpenuhi ; Kehidupan politik kita jika tidak tertata dengan baik berpotensi mengarah ke “uncivilized and uneducated” terbukti masih adanya pernyataan-pernyataan beberapa tokoh yang kontra produktif, bersifat bias (menghina), insulted, menimbulkan upset dan annoying selama Pileg dan Pilpres, termasuk pernyataan-pernyataan tidak perlu yang bernuansa SARA ataupun mendegradasi lembaga negara semisal lembaga intelijen yang dilakukan oleh salah seorang purnawirawan Jenderal.

Masa Depan

Tulisan ini sekali lagi tidak bermaksud untuk “membela” Prabowo atau Jokowi, namun esensi dari tulisan ini adalah menggambarkan ancaman dan tantangan ke depan yang pasti akan dihadapi oleh Prabowo atau Jokowi jika memenangkan Pilpres 2014. Sehingga pada akhirnya, tulisan ini menyarankan agar terjadi “rujuk nasional” dan kerjasama pasca Pilpres.

Melihat kecenderungan masa depan yang digambarkan seperti diatas dan dengan mapping yang ada, maka setidaknya ada 4 (empat) skenario masa depan Indonesia yang akan dihadapi Prabowo atau Jokowi yaitu : Skenario pertama adalah “Indonesia akan menjadi negara yang kuat dan disegani” ditandai dengan pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata 7% per tahun, politik luar negeri ditopang dengan alutsista yang memadai, permasalahan ideologi dan politik di dalam negeri yang sudah selesai, nasionalisme media massa meningkat, sehingga tetap mengedepankan kepentingan nasional di era global, perubahan gaya hidup masyarakat dapat diikuti oleh dinamika dan ritme pekerjaan dan output maksimal dari mesin-mesin politik negara dan birokrasi serta pemanfaatan sumber daya alam (energy security) untuk menopang keamanan dan pertumbuhan ekonomi.

Skenario kedua adalah “Indonesia sebagai negara autopilot” ditandai dengan pertumbuhan ekonomi nasional dibawah 5% karena mesin-mesin produksi yang terganggu akibat perijinan yang berkepanjangan, keamanan yang tidak terjamin serta unjuk rasa buruh yang semakin vulgar dan destruktif ; politik luar negeri tidak dijalankan berdasarkan acuan yang benar, para duta besar gagal menjalankan fungsinya dan Indonesia selalu kalah dalam memperjuangkan kepentingan nasional di fora internasional, permasalahan ideologi dan politik di dalam negeri belum tuntas dan semakin mudahnya ideologi transnasional berkembang di Indonesia, nasionalisme media massa berdasarkan “gaya hidup” siapa yang dapat menghidupi media, maka mereka akan mendapatkannya ; mesin-mesin politik negara dan birokrasi berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya leadership yang kuat dan mencerahkan atau berimprovisasi ; pemanfaatan sumber daya alam “dikuasai dan dikendalikan” oleh “raja-raja kecil dan penguasa jalanan serta rentenir” di daerah.

Skenario ketiga adalah “Indonesia menjadi negara yang stagnan” ditandai dengan tidak ada perubahan yang signifikan baik di bidang ekonomi, politik, keamanan, sosial dan budaya dan tingkat kriminalitas serta instabilitas keamanan yang mudah terganggu atau retak ; kohesi sosial terganggu ; permasalahan atau sengketa politik gagal diredusir dan energy security gagal dirumuskan dengan baik dan gagal dilaksanakan.

Skenario keempat adalah “Indonesia sebagai negara yang gagal” ditandai dengan kemungkinan lepasnya satu per satu provinsi di Indonesia atau semakin menguatnya ide federalisme akibat kegagalan mewujudkan pertumbuhan ekonomi ; pemerintahan turun di tengah jalan ; kemungkinan kudeta konstitusional ataupun kudeta militer ; tidak berjalannya fungsi-fungsi pokok negara ; last but not least kemungkinan Indonesia diokupasi oleh negara lainnya, karena berlarutnya instabilitas keamanan di dalam negeri.

Jika merunut kepada kecenderungan masa depan dan empat skenario yang dipaparkan, maka pada akhirnya, tulisan ini menyarankan agar terjadi “rujuk nasional” dan kerjasama pasca Pilpres. Tidak ada jalan lain, karena “bersatu kita kokoh, tercerai berai kita mudah dikalahkan”.

Related posts