Menjadi Bangsa yang Adil, Profesional dan Berdaya Saing

Menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-66 besok (17/8), negeri ini harus banyak berbenah diri menuju bangsa yang berkeadilan, profesional dan memiliki daya saing tinggi di mata negara lain. Ini sejalan dengan cita-cita Soekarno-Hatta, tokoh Proklamator, yang ingin menjadikan bangsa Indonesia yang cerdas dan bermartabat harus menjadi kenyataan di abad ke-21 ini.

Keadilan pada hakikatnya terkait dengan sebuah sikap hati, sebuah keutamaan dalam diri seseorang. Ini hanya mungkin terwujud apabila ada solidaritas terhadap sesama. Perasaan solidaritas ini memungkinkan seseorang peduli terhadap sesamanya yang tidak beruntung, miskin, dan menderita. Rasa solidaritas inilah yang memungkinkan rakyat Indonesia bahu-membahu melawan penjajah, dan ini menjadi kekuatan yang ampuh dalam mengusir penjajah di waktu lalu.

Namun sesungguhnya sikap adil adalah sebuah kebaikan hati. Apabila sikap ini terus bertumbuh dalam kehidupan masyarakat Indonesia, perjuangan untuk mengentaskan kemiskinan akan menjadi perjuangan bersama seluruh masyarakat Indonesia sepanjang waktu tiada henti.

Kebaikan hati akan membuat mereka yang beruntung mau menolong mereka yang berada dalam kemiskinan dan penderitaan, pada kondisi ini tidak akan ada individu yang merasa diperlakukan secara tidak adil. Kebaikan hati ini sesungguhnya menjadi puncak, sebuah nilai tertinggi dan kualitas puncak dari kemanusiaan

Jelas, sebuah bangsa harus bersatu padu berjuang untuk menyejahterakan bangsa tersebut. Ini merupakan tugas utama dari pemerintah yang berkuasa, dan menjadi mandat konstitusi Indonesia. Hadirnya pemerintahan yang profesional setidaknya akan melecutkan semangat baru untuk membangun bangsa. Lihat saja Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan yang pada akhir Perang Dunia II masih menjadi negara tak punya apa-apa toh kini masuk dalam deretan negara maju.

Tidak hanya itu. Pemerintah juga harus profesional untuk berusaha melakukan yang terbaik bagi rakyat, agar muncul dukungan dari rakyat akan mengalir deras. Kebersamaan yang yang terjalin erat antara pemerintah dan rakyat akan menjadi kekuatan yang luar biasa dalam pembangunan ekonomi sebuah negara.

Membangun ekonomi negara tentu butuh prasyarat pemerintahan yang bersih (clean government) dan berwibawa di mata rakyatnya maupun dunia. Karena itu strategi pembangunan ekonomi global berorientasi keunggulan daya saing dan produktivitas lewat pemerintahan yang bersih, masyarakat yang disiplin, dan industrialisasi yang dikawal tenaga profesional, akan membuat Indonesia berjaya di masa depan.

Bagaimanapun, peninggalan para sesepuh berupa falsafah Pancasila tidak boleh ditinggalkan oleh generasi penerus yang ada sekarang. Kita sebagai bangsa merdeka tidak sudi mengganti Pancasila dengan falsafah individualistik yang mengutamakan kepribadian dan watak bersifat “superman” yang seolah-olah digambarkan sanggup mengatasi segala persoalan dengan kekuatan pribadi.

Padahal untuk membangun solidaritas yang kuat, adalah perlunya kebaikan hati rakyat Indonesia terhadap sesama warga bangsa, baik ketika masa perang merebut kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan melalui semangat gotong royong.

Semangat inilah sejatinya terus digelorakan dalam perjuangan mengentaskan kemiskinan. Ini karena terkait dengan nilai kemanusiaan tertinggi yang amat penting bagi perjuangan memerdekakan orang Indonesia yang hidup dalam penjajahan kemiskinan, dan bukan untuk menyingkirkan orang Indonesia yang miskin. Selamat HUT Kemerdekaan RI!

BERITA TERKAIT

Kerusakan Jalan dan Tanggul Air di Tambun Utara

Dekat dengan Jembatan Besi penghubung Kota Bekasi dan Kab Bekasi. Akibat longsor karena derasnya aliran sungai DAS Cikeas dan Cileungsi yang…

Keuangan Inklusif yang Ekslusif

  Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pada 13 Februari 2018, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Utusan Khusus…

NU Care-LAZISNU Siap Kelola Dana Zakat yang Dihimpun BAZNAS

Jakarta, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menggandeng Lembaga Amil Zakat (LAZ) berbasis Ormas. Enam LAZ Ormas di antaranya NU Care-LAZIS…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kebijakan Impor Belum Signifikan Turunkan Harga Beras

Oleh: Budi Santoso Pasokan beras impor secara bertahap mulai memasuki gudang Perum Bulog dan sampai saat ini tercatat 57.000 ton…

Putusan Mahkamah yang Dinilai Aneh

Oleh: Maria Rosari Beberapa waktu lalu Mahkamah Konstitusi (MK) memutus tiga perkara permohonan uji materi atas pasal 79 ayat (3)…

Kembalinya Debitur Sontoloyo

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pengamat Perbankan Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan berulang-ulang mempersoalkan masalah wait and see dunia usaha.…