Perkuat Modal, BII Rilis Obligasi Rp 1,5 Triliun

NERACA

Jakarta – Ketatnya persaingan likuiditas industri perbankan memacu perbankan nasional untuk berlomba-lomba meningkatkan strategi dalam mendanai ekspansi bisnisnya kedepan. Disamping mencari pendaan lewat suntikan modal dan pinjaman, tentunya pendanaan lewat pasar modal melalui penerbitan obligasi masih menjadi daya tarik.

Rencana pendanaan lewat pasar modal melalui penerbitan obligasi bakal di lakukan PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII). Disebutkan, perseroan bakal menerbitkan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank BII dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank BII. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (1/7).

Direktur Keuangan PT Bank Internasional Indonesia Tbk, Thila Nadason mengatakan, penerbitan Obligasi Subordinasi dan Sukuk Mudharabah akan memperkuat struktur permodalan dan pendanaan jangka panjang guna mendukung pertumbuhan bisnis BII ke depan,”Perseroan akan menerbitkan secara bertahap dalam periode 2 tahun melalui proses penawaran umum,”ujarnya.

Dijelaskan, Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank BII Tahap I Tahun 2014 (Obligasi Subordinasi) yang ditawarkan dengan jumlah pokok sebanyak-banyaknya sebesar Rp1,5 triliun merupakan bagian dari Penawaran Umum Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank BII dengan target dana yang akan dihimpun seluruhnya sebesar Rp3 triliun.

Sedangkan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank BII Tahap I Tahun 2014 (Sukuk Mudharabah) yang ditawarkan dengan jumlah pokok sebanyak-banyaknya sebesar Rp300 miliar yang merupakan bagian dari Penawaran Umum Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank BII dengan target dana yang akan dihimpun seluruhnya sebesar Rp1 triliun.

Obligasi Subordinasi ini rencananya akan diterbitkan tanpa warkat, berjangka waktu 7 tahun sejak tanggal emisi dengan kisaran tingkat bunga tetap yang ditawarkan pada masa penawaran awal adalah sebesar 10,75% hingga 11,75% per tahun.

Sukuk Mudharabah berjangka waktu 3 tahun sejak tanggal emisi. Tingkat Pendapatan Bagi Hasil Sukuk Mudharabah yang ditawarkan berkisar antara 9% hingga 10% per tahun. Pendapatan Bagi Hasil Sukuk Mudharabah dibayarkan setiap triwulan, sesuai dengan tanggal pembayaran Pendapatan Bagi Hasil Sukuk Mudharabah.

Periode penawaran awal (bookbuilding) untuk Obligasi Subordinasi dan Sukuk Mudharabah ini direncanakan pada 19-25 Juni 2014, penawaran umum pada 2-3 Juli 2014, penjatahan pada 4 Juli 2014, distribusi dan penerbitan pada 8 Juli 2014 serta pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 10 Juli 2014.

Dan dalam rangka penerbitan Obligasi Subordinasi ini, BII telah memperoleh pemeringkatan surat hutang jangka panjang dengan rating AA+ dari Pefindo dan AA dari Fitch Ratings Indonesia. Sedangkan rating untuk Sukuk Mudharabah adalah AAA dari Fitch dan AAA dari Pefindo.

Asal tahu saja, momentum pemilu presiden tidak mempengaruhi minat korporasi menerbitkan obligasi. Hal ini bertolak belakang, seperti yang dikabarkan pelaku pasar bila tahun politik menjadi khawatiran investor untuk melakukan aksi korporasi, seperti penerbitan obligasi.

Emisi Obligasi

Sebelumnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total emisi obligasi maupun sukuk yang diterbitkan sepanjang tahun ini mencapai Rp22,03 triliun, yang disumbang 23 emisi dari 23 emiten. Disebutkan, total nilai penerbitan obligasi tersebut bertambah, dengan dicatatkannya Obligasi Berkelanjutan I Sumber Alfaria Trijaya Tahap I Tahun 2014 oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Obligasi berkelanjutan senilai Rp1 triliun tersebut memiliki jangka waktu selama tiga tahun sejak tanggal emisi. Adapun peringkat obligasi itu dari PT Fitch Ratings Indonesia adalah AA-.

Sebelumnya juga telah dicatatkan Obligasi Berkelanjutan I WOM Finance Tahap I Tahun 2014 senilai Rp600 miliar yang diterbitkan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF). Obligasi tersebut terdiri atas dua seri, yakni seri B senilai Rp397 miliar dengan jangka waktu 370 kalender dan seri B senilai Rp203 miliar dengan jangka waktu 3 tahun.

Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi maupun sukuk yang tercatat di BEI sebanyak 254 emisi dari 108 emiten, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp217,58 triliun dan US$ 100 juta. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai 93 seri sebesar Rp1.123,28 triliun dan US$ 540 juta serta lima Efek Beragun Asset (EBA) senilai Rp2,05 triliun. (bani)

BERITA TERKAIT

Seberapa Sustain Penguatan Rupiah Lewat Penjualan Obligasi?

Oleh: Djony Edward Tren penguatan rupiah yang super cepat masih menyimpan misteri. Begitu derasnya dana asing masuk dicurigai sebagai hot…

PUB Obligasi BRI Meleset dari Target - Mempertimbangkan Sisa Waktu

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan kondisi pasar yang tidak bakal menyerap seluruh obligasi, PT Bank BRI (BBRI) menyatakan telah menghentikan kegiatan…

Pasar Modal di 2019 Lebih Menggairahkan - Tekanan Sudah Mereda

NERACA Jakarta – Bila sebagian pelaku pasar menilai tahun politik di 2019 mendatang, menjadi  kondisi yang cukup mengkhawatirkan di industri…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Keadilan Akan Batasi Ruang Genderuwo Ekonomi

Istilah genderuwo mendadak viral setelah dicetuskan Presiden Jokowi untuk menyebut politikus yang kerjanya hanya menakut-nakuti masyarakat, pandai memengaruhi dan tidak…

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…