Industri Teksitil Indonesia Kebagian Rezeki Piala Dunia

Ekspor Pakaian Olah Raga Naik 10%

Selasa, 01/07/2014

NERACA

Jakarta – Pagelaran Piala Dunia 2014 yang berlangsung di Brasil telah membawa keuntungan khususnya bagi industri produk pakaian olahraga dalam negeri. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan perhelatan empat tahunan tersebut telah mampu meningkatkan ekspor pakaian olahraga yang diproduksi di Indonesia sebesar 10%. “Produsen sport, meningkat seperti buyer dari merk-merk Adidas, Puma, Nike. Itu rata-rata ada peningkatan ekspor 10%,” ujar Ade di Jakarta, Senin (30/6).

Namun demikian, peningkatan ekspor sebesar 10% tersebut terbilang kecil karena saat ini kebanyak pakaian olahraga yang di ekspor untuk keperluan Piala Dunia berasal dari Vietnam. “Karena mereka (Adidas, Puma dan Nike) tidak menetapkan ordernya pada satu negara saja, tetapi pada di beberapa negara seperti Vietnam dan China. Bahkan sekarang yang terbesar itu dari Vietnam bukan lagi China,” kata dia.

Meski begitu, menurut Ade, peningkatan ekspor ini hanya terjadi pada industri pakaian jadi atau garmen. Sedangkan industri yang menghasilkan bahan kain justru mengalami penurunan ekspor. “Kalau Piala Dunia, garmen yang meningkat tapi tekstil malah menurun ekspornya. Karena ada kenaikan listrik jadi tidak seimbang,” lanjutnya.

Selain itu, diakui Ade pabrik garmen yang mempunyai kualitas baik tidak memperuntukkan produksinya untuk pasar dalam negeri, tetapi untuk pasar ekspor. “Jadi memang mereka tidak menjual didalam negeri tapi orietasi ke ekspor. Makanya mereka dia tidak akan berurusan dengan masalah-masalah seperti bea masuk anti dumping. Tetapi untuk bisa ekspor memang tidak mudah, kalau cost-nya mahal, logistik mahal, itu harus bisa diakali,” tandas dia.

Terus tumbuh

Pada tahun ini, industri tekstil Indonesia menargetkan mampu mengekspor tekstil dan produk tekstil tahun ini sebesar US$ 13,3 miliar atau sekitar Rp 150,29 triliun. Tahun lalu, ekspor TPT Indonesia adalah sebesar US$ 12,68 miliar atau sekitar Rp 143,28 triliun. Maka tahun ini, pihaknya menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 4,88%. “Peningkatan ekspor ditunjang oleh permintaan TPT yang meningkat di pasaran dunia,” ujar Ade beberapa waktu lalu.

Pada 2013 kemarin, garmen memberikan porsi sebesar 58,2% pada portofolio ekspor TPT, dengan nilai US$ 7,38 miliar. Sisanya adalah dari ekspor benang sebesar 19,1% dengan nilai US$ 2,42 miliar, kain sebesar 14,2% sebesar US$ 1,8 miliar, serat 4,4% sebesar US$ 560 juta dan produk TPT lain sebesar 4% sebesar US$ 510 juta. Untuk tahun ini portofolio kurang lebih akan sama, karena tren permintaan juga kurang lebih sama.

Sementara itu pada 2013 negara tujuan ekspor terbesar adalah Amerika Serikat dengan nilai US$ 4,1 miliar. Di posisi kedua dan ketiga ada Jepang dengan nilai ekspor US$ 1,18 miliar, dan Turki dengan nilai ekspor US$ 620 juta. Menyusul kemudian ada Jerman, Korea Selatan, China, Uni Emirates Arab, Brazil, Inggris, Malaysia.

Sementara itu, Head of Global Trade and Receivable Finance HSBC Indonesia Nirmala Salli menilai produk tekstil diyakini bakal menjadi primadona ekspor baru Indonesia beberapa tahun ke depan. Ia mengatakan dalam survei yang dilakukan Oxford tekstil dan apparel, tekstil akan menjadi primadona ekspor Indonesia untuk jangka panjang.

Dia tidak menampik dalam 3 tahun terakhir pertumbuhan ekspor tekstil tidak tumbuh signifikan. Namun hal itu semata-mata terjadi karena negara tujuan ekspor utama seperti Eropa dan Amerika Serikat sedang lesu. “Namun sekarang pasar global mulai ada perbaikan khususnya di Inggris dan Amerika Serikat. Ekspor Indonesia tidak lagi pada komoditas tapi lebih ke high value added seperti garmen dan chemical,” katanya.

Menurut Nirmala sejumlah bank masih memiliki exposure kredit di sektor tekstil, meski belakangan tidak terlalu agresif. Dengan semakin berkembangnya sektor ini maka investasi akan semakin besar dan turut berdampak pada pembiayaan dari perbankan. Meski begitu dia mengaku HSBC tidak akan begitu saja menambah porsi penyaluran kredit ke industri tekstil.

Penyaluran kredit akan difokuskan pada semua sektor yang menjadi masuk dalam kategori kredit modal kerja. Kredit modal kerja oleh HSCB selama ini banyak disalurkan untuk pembelian bahan baku maupun investasi mesin. “Kami juga sediakan fasilitas impor termasuk supplier financing. Pertumbuhan tahun ini kami jaga double digit mungkin 10% sampai 11%,” katanya.

Dia optimistis ekonomi Indonesia tahun ini akan membaik. Kondisi yang terjadi saat ini, kata Nirmala, semata-mata karena investor masih menunggu perkembangan. China dan India diprediksi bakal menjadi tujuan utama ekspor Indonesia untuk jangka panjang karena basis pasar yang cukup besar.