Obligasi dan Pilpres

Oleh : Tumpal Sihombing

Indonesia Bond Strategist - BondRI

Bagaimana arah pergerakan pasar obligasi menjelang dan pasca pilpres 9 Juli 2014? Ini sangat dipengaruhi oleh siapa yang akan menjadi Presiden-Wapres RI periode 2014-2019. Secara historis pergerakan indeks harga obligasi berkorelasi erat dengan peristiwa politik tanah air. Jangankan pilpres, pergantian menkeu saja bisa membuat indeks obligasi mengalami fluktuasi tinggi. Mengapa begitu? Investor senantiasa waspada dengan dampak kebijakan ekonomi pemerintah yang baru. Ada yang menyatakan bahwa investor (khususnya asing) kini merasa kuatir pilpres akan ribut dan berpotensi mengancam stabilitas.

Yang namanya investor rasional, di depan umum mereka tentunya mengatakan bahwa tak jadi soal siapapun Presiden Indonesia nantinya, yang penting stabilitas ekonomi dan iklim investasi kondusif. Betul dan itu klise. Secara pribadi, preferensi siapa yang jadi Presiden itu telah ada dalam benak masing-masing namun tak diungkapkan blak-blakan. Karena bagaimanapun jua, beda Presiden, pasti beda kebijakan, yang berdampak pada beda outcome (imbal hasil) pada masing-masing portofolio investasi (dana/fisik) yang mereka miliki di pasar domestik. Itu kenyataan.

Terkait proposisi ekonomi kedua kubu pilpres, tendensi kebijakan Prabowo-Hatta adalah menyuburkan obligasi pemerintah seperti yang telah berlangsung selama belasan tahun terakhir. Sementara tendensi kebijakan Jokowi-JK berpotensi meningkatkan peran korporasi hingga di tingkat daerah dalam agenda pembiayaan dan investasi. Proposisi ekonomi Prabowo-Hatta berpotensi memperbesar volume obligasi pemerintah, sementara proposisi Jokowi-JK berpotensi mengurangi jurang ketimpangan pertumbuhan obligasi pemerintah versus obligasi perusahaan.

Secara umum dalam jangka pendek, jika yang kalah dalam pilpres nanti tidak marah-marah, maka perekonomian tetap stabil plus capital inflow dalam kondisi pertumbuhan ekonomi memelambat. Jika pilpres mengalami keributan, Rupiah berpotensi terjerembab melampaui Rp 13.000 per US$ dan yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun akan berpotensi melampaui figur 9.00%. Lalu apa yang akan terjadi dalam jangka menengah? Proposisi ekonomi Prabowo-Hatta itu sentralistik kelembagaan. Selama 10 tahun terakhir, kebijakan dan aktivitas pemerintah dalam pengembangan kelembagaan serta pengadaan infrastruktur sangat massif dan biayanya selangit.

Sementara kebijakan sektor pendidikan dan pengembangan kapasitas SDM tak mengalami pemerataan/kemajuan yang berarti di periode itu. Terjadi jurang persepsi yang melebar antara best practice pasar pelaku di pusat versus di daerah. Konsekuensinya, terjadi pembengkakan akun pengeluaran pemerintah dengan efektivitas yang minim. Defisit anggaran akan membengkak dan emisi obligasi pemerintah dilanjutkan untuk menutup defisit. Ini sama saja dengan bom waktu.

Inilah tantangan(persoalan) perekonomian Indonesia, yang hanya dapat teratasi melalui penerapan program yang membudidayakan kontribusi segenap elemen di tingkat daerah. Ini keahlian Jokowi-JK.

BERITA TERKAIT

Konsumsi Premium Di Jawa Madura dan Bali Turun 50%

    NERACA   Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa konsumsi bahan bakar minyak (BBM)…

Regulator Akan Tindak Tegas Aktivitas Penimbunan Bahan Pokok - Momen Ramadhan dan Lebaran

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengancam para penimbun untuk tidak menimbun bahan kebutuhan pokok jelang Ramadhan dan Lebaran…

Ketua DPR RI - Kementerian dan Lembaga Monitor Ormas

Bambang Soesatyo Ketua DPR RI Kementerian dan Lembaga Monitor Ormas  Jakarta - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta Komisi di…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kawasan Produksi dan Pasar

Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Industri dan Perdagangan Apakah ini yang akan kita bentuk sebagai episentrum kedigdayaan ekonomi Indonesia di masa…

Kurangi Ketergantungan pada US$

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF Kurs rupiah mencapai titik terendahnya setelah 2015. Pada awal bulan ini rupiah mencapai Rp14.100…

Defisit dan Kerugian Besar

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Mendengar kata defisit, rasanya akan banyak pihak yang resah atau galau.…