Mengulas Debat Cawapres : Pengembangan SDM dan Iptek

Oleh: Dyah Catherine Diana. Pemerhati masalah strategis Indonesia.

Selasa, 01/07/2014

Debat calon wakil presiden (Cawapres) yang membahas masalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) mempertemukan dua calon wakil presiden yaitu Hatta Radjasa dan Muhammad Jusuf Kalla. Malam pelaksanaan debat cawapres yang diselenggarakan disalah satu hotel berbintang di Pancoran, Jakarta Selatan tersebut diakui atau tidak adalah milik Hatta Radjasa. Keunggulan Hatta Radjasa yang notabene adalah Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) atas M Jusuf Kalla yang pernah kalah ketika mencawapreskan diri pada Pilpres 2009 terletak pada segmen pertama, ketiga, keempat, kelima dan keenam, hasil “draw” diperoleh kedua cawapres pada segmen kedua.

Pada debat yang dimoderatori oleh Wakil Rektor UGM Yogyakarta tersebut, pada segmen pertama yaitu penyampaian visi dan misi cawapres, diberikan kesempatan pertama kali adalah Jusuf Kalla (JK). Pada intinya, JK menyatakan derajat SDM dapat ditingkatkan melalui pendidikan, dengan mutu SDM yang baik maka diharapkan produktivitas bangsa akan meningkat. Oleh karena itu, perlu ada sinergi antara perguruan tinggi, pihak swasta, LIPI, BPPT, Batan dll dalam rangka pengembangan iptek. Menurut penulis, apa yang dikemukakan JK tidak ada terobosan baru, karena hal tersebut juga sudah dilaksanakan oleh pemerintahan saat ini. Catatan penulis, terlihat beberapa kali gestur JK agak grogi karena salah atau gemetar sedikit dalam berbicara, termasuk sesekali melihat catatan.

Hatta Radjasa yang diberikan kesempatan menyampaikan visi dan misi akhirnya menurut penulis dapat menyampaikan sangat brilian, tegas dan banyak ide-ide baru. Hatta menyatakan, pengembangan SDM adalah amanat konstitusi yaitu Pasal 31 UUD 1945 dalam rangka mencerdaskan anak bangsa melalui SDM dan iptek. Menurut Hatta, kualitas SDM sangat ditentukan pendidikan dan kesehatan. SDM dan iptek adalah pilar bangsa. Tantangannya menurut Hatta sejauh mana bangsa ini untuk dapat menciptakan pendidikan yang bermutu, inklusif, berkeadilan, berkualitas dan berdaya jangkau yang luas. Oleh karena itu, pendidikan wajib 12 tahun secara gratis perlu dikedepankan. Iptek menurut Hatta akan mencerahkan peradaban dan umat manusia. Iptek menurut Hatta Radjasa bertujuan untuk meningkatkan daya saing, menjaga sumber daya alam negara serta mempersiapkan masyarakat Indonesia yang kritis dan inovatif dalam menghadapi globalisasi.

Kesehatan menurut Hatta Radjasa penting dalam meningkatkan mutu SDM, sehingga pemberian gizi yang baik, mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, meningkatkan produktivitas tenaga kerja Indonesia yang mayoritas lulusan SD, mengembangkan balai-balai latihan dan center of excellence (pusat-pusat keunggulan) perlu dikedepankan karena merupakan keniscayaan. Menurut penulis, di segmen pertama ini kedudukan 1-0 untuk Hatta Radjasa.

Pada segmen kedua yang merupakan pendalaman visi dan misi dengan pertanyaan yang dikemukakan moderator. Jusuf Kalla menurut penulis baru lebih jelas mengemukakan visi dan misinya. Ide JK yang cukup menarik adalah soal pelajaran budi pekerti yang dapat diterapkan pada mata pelajaran apapun juga, seperti sejarah, bahasa Indonesia bahkan matematika. Jokowi-JK juga akan mengintensifkan peningkatan mutu SDM guru, sertifikasi guru dan meningkatkan tunjangan guru. Menurut JK, pemerintah harus memikirkan invokasi terkait teknologi, policy dan inovasi itu sendiri melalui efisiensi anggaran negara.

Menjawab pertanyaan moderator, Hatta Radjasa dapat memberikan pendapat yang sangat jelas. Menurut mertua Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas ini, untuk menciptakan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan, maka pasangan Prabowo-Hatta akan meningkatkan anggaran pendidikan, biaya operasional sekolah akan ditingkatkan dua kali, menyediakan Rp 10 trilyun untuk penelitian yang hasilnya dapat digunakan untuk mengurangi pengangguran, penelitian terkait energi, transportasi, kesehatan dan pertahanan keamanan, jumlah guru akan ditambah 800 ribu orang sampai 5 tahun ke depan serta ditingkatkan kesejahteraan guru.

Segmen ketiga yang masih merupakan kelanjutan dari segmen kedua yaitu memperjelas visi dan misi atas pertanyaan yang diajukan moderator, lagi-lagi jawaban Hatta Radjasa lebih disertai data dan fakta yang kongkrit dan tidak senantiasa beradu argumen, sehingga segmen ini juga dimenangkan Hatta. Hatta Radjasa dalam jawabannya disertai dengan fakta dan data yang kuat, dan penulis juga melihat pendukung JK juga “agak terpana dan kaget” dengan uraian dan jawaban Hatta Radjasa yang sangat terstruktur, sistematis dan mengalir secara jelas.

Dalam pandangan Hatta, ada 125 juta angkatan kerja dimana 46% adalah lulusan SD dan hanya 8 % lulusan perguruan tinggi yang terserap dalam pasar kerja. Menurutnya, dalam jangka pendek program yang akan dijalankan pasangan Prabowo-Hatta adalah mengembangkan balai-balai latihan kerja di berbagai daerah, dimana daerah otonom diberikan kewenangan untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan para guru, pelatih dll agar tercipta tenaga kerja yang skilled labour. Dalam jangka panjang, pasangan Prabowo-Hatta akan menumbuhkan dan memperbanyak pusat-pusat keunggulan, mengembangkan dan melanjutkan MP3EI, sumber daya alam (SDA) akan dikelola based on value added, membantu perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan dana penelitian, menciptakan regulasi untuk mempercepat kewirausahaan, serta tidak lagi menjual SDA secara murah dan memberlakukan tax reduction bagi perusahaan yang mengembangkan iptek. Bahkan, ide Hatta memberikan tax reduction ini “dicontoh dan disetujui” oleh JK dalam paparannya.

“Blunder” Jusuf Kalla

Bahkan, dalam segmen keempat yang merupakan saling tanya jawab antar cawapres, ditandai dengan “kelupaan” JK yang seharusnya menanggapi jawaban Hatta Radjasa atas pertanyaan JK, namun JK malah mengajukan pertanyaan balik ke Hatta. Terlihat dalam sorotan kamera, bagaimana moderator sebenarnya mau memprotes terhadap JK, termasuk Hatta Radjasa dengan gestur tubuhnya juga kaget JK melontarkan pertanyaan padahal seharusnya menanggapi. Namun, sekali lagi, Hatta kembali menjawab pertanyaan JK yang sekali lagi menurut penulis sangat cerdas baik itu pertanyaan terkait dengan bonus demografi agar tidak menjadi ancaman, pertanyaan terkait apa keberhasilan atau inovasi yang dapat dibanggakan dari Hatta Radjasa ketika menjadi Menristek, sampai kepada jawaban Hatta Radjasa terkait pertanyaan kebocoran anggaran yang selalu ditanyakan kubu Jokowi-JK karena pernyataan Prabowo terkait kebocoran anggaran. Hatta menjelaskan secara taktis bahwa kebocoran anggaran tersebut jelas bukan berasal dari APBN, namun ujar Hatta, yang dimaksud kebocoran anggaran oleh Prabowo adalah terjadinya potential lost dari anggaran negara karena tidak dapat menjaga SDA dengan baik serta menjual SDA sangat murah tanpa kemampuan renegosiasi.

“Blunder” kembali dibuat oleh JK dengan sedikit guyon mempertanyakan cucu Hatta Radjasa disekolahkan dimana, padahal cucu mantan Menko Perekonomian ini belum sekolah karena masih balita. “Blunder” juga dibuat JK dengan menjawab pertanyaan Hatta Radjasa terkait “global competitive index”, dimana menurut penulis ternyata JK kurang menguasai indikator global competitive index. Jawaban Hatta terkait masalah ini sangat tepat bahwa indikator global competitive index salah satunya yang penting adalah technological readiness dan infrastruktur dasar.***