PU akan Bangun Kawasan Holtikultura di Gresik

Selasa, 01/07/2014

NERACA

Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum akan membangun kawasan holtikultura di Kecamatan Panceng dan Kecamatan Sedayu, Gresik Utara, Jawa Timur. Pembangunan tersebut telah tercantum dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Provinsi Jawa Timur, terutama daerah Gresik Utara, dicanangkan sebagai kawasan inovasi.

Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto menuturkan, kedua kecamatan yang akan dijadikan sebagai kawasan holtikultura tersebut terdiri dari Kawasan Pusat Holtikultura seluas 250 hektar, Kawasan Hutan Wisata seluas 1.000 hektar, dan Kawasan Sidayu Asri Agropolitan seluas 2.000 hektar.

Namun demikian, Djoko mengungkapkan ada beberapa kendala pembangunan kawasan holtikultura ini. Permasalahan utamanya adalah ketersediaan air. Pihak swasta saat ini telah menghibahkan tanah seluas 50 hektar yang berlokasi di Desa Sukodono, Kecamatan Panceng kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik dan akan digunakan untuk dijadikan embung.

"Saya akan mengkaji lebih dalam mengenai embung ini. Embung ini dapat dikerjakan oleh Pemkab, namun jika bermanfaat besar bagi masyarakat luas dan strategis, akan kami bantu," ujar Djoko, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (30/6).

Embung merupakan bendungan kecil yang digunakan untuk penampungan air, baik untuk irigasi atau pun memenuhi kebutuhan air bersih. Selain pembangunan embung, kementerian, melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, dalam APBN 2013 telah membangun Lumbung Air Sukodono 1 dan Lumbung Air Wotan 2 di Kecamatan Panceng sebagai upaya untuk menambah ketersediaan air untuk tanaman holtikultura dan agropolitan di Kawasan Gresik Utara tersebut.

Djoko juga mengatakan Jawa Timur juga akan punya bendung baru pada 2016, yakni Bendung Gerak Sembayat. Bendung ini terletak di perbatasan Gresik dan Lamongan, Jawa Timur dan direncanakan selesai pada awal 2016. Untuk tahap awal bendung tersebut memiliki kapasitas 200 liter per detik. Dalam proses pembangunannya terdapat kendala masalah sosial, termasuk pemindahan makam warga, namun akan ditangani.

Bendung Gerak Sembayat dibangun untuk mengurangi potensi banjir dari aliran sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah. Bendung ini mampu menampung air sebanyak 7 juta meter kubik. Djoko menyebutkan, pembangunan Bendung Gerak Sembayat merupakan bagian dari Masterplan Sungai Bengawan Solo, yang dapat mengurangi banjir di daerah hilir seperti Bojonegoro.

“Selain mengurangi banjir, manfaat utama dari Bendung Gerak Sembayat adalah untuk jaringan irigasi khususnya pada musim kemarau. Selain itu waduk kecilnya bisa menjamin kebutuhan air baku untuk masyarakat yang bebas air asin dan juga untuk kebutuhan industri,” paparnya. [ardi]