Bukit Uluwatu Bidik Pendapatan Tumbuh 25% - Imbas Melemahnya Rupiah

NERACA

Jakarta – Meskipun tahun ini menjadi tahun terberat bagi industri properti akibat kebijakan Bank Indonesia (BI) soal pengetatan LTV, namun hal ini tidak membuat PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menunda ekspansi bisnis. Bahkan begitu optimisnya pasar properti kedepan, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun ini mencapai 25% atau sebesar Rp 304,61 miliar dibanding 2013 lalu hanya Rp 243,69 miliar. Kenaikan itu didorong oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar yang semakin melemah.

Direktur Utama PT Bukit Uluwatu Villa Tbk, Hendry Utomo mengatakan, kamar-kamar hotel milik perseroan yang mempunyai tarif dolar mendapat keuntungan atas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar,”Jumlah kedatangan tamu juga semakin meningkat, sehingga pendapatan kami juga kemungkinan besar justru akan terbantu dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar,” kata Hendry di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, dari dua proyek hotel yang saat ini memberikan kontribusi kepada perusahaan, sepanjang 2013 mencatat pendapatan sebesar Rp244 miliar. Sebanyak 66% merupakan pendapatan berulang dari pengelolaan hotel, dan sisanya sebesar 34% berasal dari penjualan proyek real estat. Adapun laba bersih yang dicatat sebesar Rp64 miliar.

Sementara itu, laba bersih yang diperoleh perusahaan sepanjang 2013 akan dialokasikan menjadi laba ditahan. Perusahaan tahun ini juga belum akan membagikan dividen kepada para pemegang saham“Kami saat ini sedang gencar membangun proyek-proyek, sehingga membutuhkan banyak dana,” ujarnya.

Asal tahu saja, hingga saat ini perseroan telah merealisasikan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 150 miliar atau sekitar 44,11% dari total capex yang dianggarkan hingga akhir tahun ini sebesar Rp 340 miliar. Dimana dana capex tersebut telah dipergunakan untuk penyelesaian pembangunan proyek Alila Villas Bintang dan Alila SCBD.

Kata Hendry, dana capex telah di gunakan untuk finishing proyek kedua properti tersebut. Saat ini masih berjalan dan di targetkan proyek tersebut dapat kelar di tahun 2015 dan bisa langsung berkontribusi ke pendapatan perseroan.

Dia menambahkan, sumber pendanaan capex pada tahun ini berasal dari dana hasil kombinasi antara kas internal dan pinjaman perbankan. Adapun porsinya masing-masing sebesar 50%."Kami dapat komitmen kredit dari dua bank, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT CIMB Niaga Tbk (BNGA). Untuk CIMB Niaga sendiri berkomitmen memberikan pinjaman sebesar Rp 100 miliar,”ungkapnya.

Tercatat, beberapa proyek tengah digarap perseroan diantaranya proyek pembangunan dua hotel anyar yaitu Alila Villas Bintan di Kepulauan Riau dan Alila SCBD di Jakarta. Kedua proyek ini sedang dalam tahap pembangunan. Bukit Uluwatu memperkirakan kedua hotel ini menelan Rp 400 miliar. Proyek kedua, The Cliff. Ini adalah proyek perluasan dari hotel Alila Villas Uluwatu. Bukit Uluwatu memproyeksikan investasi proyek yang ditargetkan rampung tahun 2016 ini akan menghabiskan total dana Rp 250 miliar. Ketiga, Alila Borobudur di Magelang, Jawa Tengah dan Alila Tarabitan di Manado, Sulawesi Utara.

Namun kedua proyek ini baru dalam tahap persiapan. Oleh karena itu, proyek baru akan dimulai akhir 2015 karena persiapan lahannya belum selesai. Kemudian karena masih dalam tahap penghitungan anggaran, Bukit Uluwatu belum bisa memberikan estimasi dana yang harus dikeluarkan di proyek ini. (bani)

Related posts