IHSG Masih Rawan Terkoreksi di Awal Pekan

NERACA

Jakarta –Derasnya aksi jual investor seiring terkoreksinya nilai tukar rupiah, kembali membawa pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terkoreksi. Tercatat indeks harga saham gabungan (IHSG) akhir pekan kemarin, ditutup melemah 27,286 poin (0,56%) ke level 4.845,134. Sementara Indeks LQ45 anjlok 6,566 poin (0,80%) ke level 816,277.

Kata analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya, IHSG BEI kembali melemah dan masih berada dalam fase konsolidasi menyusul minimnya sentimen positif dari dalam negeri sehingga pergerakannya cenderung mengikuti bursa saham regional yang berada di area negatif,”Minim sentiment negatif, indeks BEI kembali terkoreksi lebih dalam,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dirinya berharap, indeks BEI dapat keluar dari area konsolidasi menjelang akan dirilisnya beberapa data-data perekonomian Indonesia pada 1 Juli 2014 mendatang."Diharapkan data ekonomi nasional seperti inflasi dan neraca perdagangan Indonesia sesuai ekspektasi dan akan menjadi salah satu faktor penggairah pasar saham ke depannya," katanya.

Dengan begitu, lanjut dia, pergerakan indeks BEI akan menguat dan membuat rentang kenaikan IHSG BEI tidak lagi terbatas. Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan diproyeksikan masih akan terkoreksi. Namun demikian, peluang indeks BEI balik arah ke zona hijau sangat terbuka walaupun bergerak terbatas.

Pada perdagangan kemarin, aksi jual terjadi di saham-saham yang kemarin sudah naik cukup tinggi. Hampir seluruh lapisan saham jadi sasaran untuk ambil untung oleh investor. Saham-saham di sektor aneka industri masih bisa menguat. Namun aksi jual asing terlalu ramai sehingga indeks tak mampu naik ke zona hijau.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 323,59 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 156.674 kali dengan volume 3,865 miliar lembar saham senilai Rp 4,343 triliun. Sebanyak 97 saham naik, 166 turun, dan 84 saham stagnan.

Pasar saham Hong Kong menjadi satu-satunya bursa yang bisa menguat di regional. Sedangkan pasar saham lainnya terjebak di zona merah gara-gara rencana The Fed menaikkan suku bunga di awal bulan Juli. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Multi Bintang (MLBI) naik Rp 2.500 ke Rp 1,08 juta, Mayora (MYOR) naik Rp 300 ke Rp 29.625, Siloam (SILO) naik Rp 200 ke Rp 14.800, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 125 ke Rp 7.350.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Lion Metal (LION) turun Rp 1.000 ke Rp 11.000, Astra Agri (AALI) turun Rp 600 ke Rp 28.700, Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 500 ke Rp 4.500, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 325 ke Rp 29.475.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup anjlok 34,592 poin (0,71%) ke level 4.837,828. Sementara Indeks LQ45 jatuh 8,434 poin (1,02%) ke level 814,409. Aksi jual terjadi di saham-saham yang kemarin sudah naik cukup tinggi. Hampir seluruh lapisan saham jadi sasaran untuk ambil untung oleh investor.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 88.312 kali dengan volume 2,341 miliar lembar saham senilai Rp 2,113 triliun. Sebanyak 87 saham naik, 147 turun, dan 78 saham stagnan. Akhirnya tak satu pun bursa di Asia yang bisa positif, kompak bergerak di teritori negatif hingga siang ini. Bursa saham Hong Kong yang menguat pun kini ambruk juga.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Siantar Top (STTP) naik Rp 230 ke Rp 2.830, Siloam (SILO) naik Rp 75 ke Rp 14.675, Cahaya Kalbar (CEKA) naik Rp 60 ke Rp 2.400, dan Sarana Menara (TOWR) naik Rp 50 ke Rp 4.000. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 52.175, Astra Agri (AALI) turun Rp 675 ke Rp 28.625, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 600 ke Rp 26.800, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 450 ke Rp 22.625.

Pembukaan perdagangan, indeks BEI langsung dibuka melemah 8,23 poin atau 0,17% ke posisi 4.864,18 dipicu oleh terkoreksinya mata uang rupiah, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,14 poin (0,26%) ke level 820,69,”Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor terhambatnya laju pergerakan IHSG BEI, diawal perdagangan nilai tukar domestik kembali ke area negatif," kata Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah.

Menurut dia, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berdampak buruk bagi stabilitas perekonomian Indonesia. Pelemahan rupiah, selain dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia, juga diakibatkan oleh kinerja neraca perdagangan yang masih mencatat defisit.

Selain faktor internal, lanjut dia, pergerakan IHSG juga dipengaruhi kondisi dari eksternal seperti data ekonomi AS yang berkontraksi di kuartal pertama."Produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat di kuartal pertama turun sebesar 2,9% pada tingkat tahunan. Kondisi tersebut, menambah sentimen negatif bagi pasar regional, termasuk IHSG BEI," katanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 22,37 poin (0,10%) ke level 23.220,20, indeks Nikkei turun 91,84 poin (0,60%) ke level 15.216,76 dan Straits Times melemah 7,42 poin (0,23%) ke posisi 3.271,15. (bani)

Related posts