Lokal dan Asing Masih Terjadi Kesenjangan

Keamanan TI Perbankan

Selasa, 01/07/2014

NERACA

Sumedang - Teknologi informasi (TI) yang digunakan industri perbankan, sejatinya, bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Namun dibalik itu, kejahatan berbasis siber atau cyber crime juga turut meningkat seiring dengan berkembang pesatnya teknologi informasi. Menurut survei Norton Report 2013, secara global, nilai kerugian yang ditimbulkan akibat cyber crime pada tahun lalu mencapai US$113 miliar atau Rp1,25 triliun.

Modus kejahatan yang paling banyak ditemui yaitu kejahatan finansial, penipuan, kerusakan perangkat, pencurian, serta kehilangan. Khusus Indonesia, industri perbankan dan keuangan menjadi salah satu target dari para hacker dan penjahat berbasis media elektronik lainnya. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu sejumlah bank besar di Indonesia seperti Bank Mandiri dan BCA menjadi korban cyber crime, di mana modusnya berupa pencurian data dan pembobolan kartu debet atau ATM. Total kerugian yang dialami kedua bank tersebut tercatat lebih dari Rp4 miliar.

Menurut Yudi Satria Gondokaryono, Direktur Eksekutif ITB Korea Cyber Security R&D Center, sistem keamanan perbankan Indonesia sebenarnya jauh lebih siap bila dibandingkan dengan sistem keamanan industri keuangan lainnya. Pasalnya, pengalaman mereka yang banyak dalam menghadapi permasalahan keamanan teknologi informasi. Namun demikian, kata Yudi, masih ada kesenjangan dari segi pengembangan sistem keamanan teknologi informasi antara bank lokal dengan bank asing. Menurut dia, bank skala besar atau memiliki aset di atas Rp30 triliun harus menyisihkan sekitar 25%-30% dari total aset hanya untuk investasi di sektor ini.

“Ini jelas berbeda dengan bank berskala menengah dan kecil dalam berinvestasi di sektor TI, karena investasi di sektor ini terbilang sangat mahal. Kalau bank asing tak masalah karena dananya sangat besar,” katanya, dalam Cyber Security Seminar (CYSE) 2014, Cyber Security Trend and Technology in Military and Finance: The Enhancement of Cyber Security Capability in Indonesia, di Sumedang, Jawa Barat, Kamis (26/6), pekan lalu.

Misalnya saja BRI dan Bank Mandiri. Untuk periode Maret 2013-Maret 2014, total aset kedua bank pemerintah itu masing-masing Rp615 triliun dan Rp640 triliun. Apabila mereka harus menyisihkan 30% dari total aset, maka BRI harus menggelontorkan dana sebesar Rp184,5 miliar dan Bank Mandiri Rp192 miliar, hanya untuk meng-upgrade sistem keamanan TI.

Oleh karena itu, Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerjasama dengan Korean International Cooperation Agency (KOICA) mengembangkan strategi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam wujud pembangunan pusat keamanan dunia maya, ITB-Korea Cyber Security R&D Center, yang berlokasi di kampus ITB Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Adapun sistem dan teknologi yang tengah dikembang ITB Cyber Security Center antara lain digital right management dan document right management. Implementasi kedua teknologi itu, lanjut Yudi, bagi perbankan akan berguna untuk mengurangi digital fraud. “Ini juga yang membuat cyber forensics menjadi penting. Tujuannya mengurangi kasus fraud,” ungkapnya. [ardi]