Industri Kreatif Diminta Pakai Pewarna Alam - Lebih Ramah Lingkungan

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM), Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengatakan sektor industri kreatif harus mebuat produk-produk dengan bahan pewarna alam yang baik dan tidak diracuni dengan pewarna kimia terus-menerus. Euis pun mengajak semua pelaku IKM dan pengrajin yang berkecimpung dalam industri kreatif di Indonesia untuk ikut menggunakan pewarna alam.

"Tahun lalu kami buat kegiatan Swarna Fest, yakni festival yang menonjolkan serat alam dan warna alam. Ternyata limbah laut seperti cumi-cumi dan kerang bisa dimanfaatkan menjadi pewarna alam yang luar biasa," ujarnya saat membuka pameran produk interior dan kerajinan tangan Indonesia, Interior and Craft (ICRA) 2014 di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dalam kesempatan itu, kelompok Gerakan Warna Alam Indonesia (Warlami) menyatakan diri akan berkontribusi dalam membangun kemandirian bangsa Indonesia, yaitu dengan melestarikan kekayaan budaya dan mengangkat kearifan lokal melalui gerakan warna alam di seluruh Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen IKM menyatakan apresiasi dan harapan agar pemakaian warna alam yang merupakan warisan budaya dapat diteruskan dari generasi ke generasi. "Kita tidak boleh menjadi bangsa yang minder, tetapi jadilah bangsa yang berkarakter dan berani karena kita punya sumber daya alam yang melimpah dan manusia-manusia Indonesia yang kreatif," kata Euis menambahkan.

Di sisi lain, membanjirnya kain atau produk tekstil impor di pasar dalam negeri sudah dalam tahap yang mengkhawatirkan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat sebanyak 1.037 ton produk batik yang masuk dari China ke Indonesia dengan nilai US$ 30 juta atau sekitar Rp285 miliar sepanjang tahun lalu.

Untuk itu, pemerintah diminta untuk melakukan berbagai upaya, untuk menahan lajunya kain dan produk tekstil impor dari negeri Tirai Bambu tersebut. Euis mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang mengembangkan penggunaan serat dan pewarnaan alami dari tumbuh-tumbuhan alam sekitar untuk memajukan industri tekstil khususnya di dalam sektor fashion.

"Ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing produk fashion di dalam negeri. Pelaku dan produsen fashion Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini dengan mengeksplorasi kemampuan untuk mengkombinasikan sumberdaya alam yang ada," ujarnya.

Lebih lanjut Dirjen IKM ini memaparkan, Jangan sampai, sumberdaya alam yang melimah ini khususnya serat dan pewarnaan alami yang ada dimanfaatkan oleh pihak asing. "Indonesia hams malu jika sumberdaya alam seperti serat dan pewarna alami dikelola asing," katanya.

Euis menambahkan, pewarnaan alami Indonesia ini harus terus dikembangkan, diteliti dan dibuatkan standarisasi sebuah industri. "Tugas Litbang Kemenperin-lah yang nanti menjadikan pusat dari segala database material industri serat dan pewarnaan ala mini. Untuk itu ada empat elemen penting yang harus dikembangkan seperti kompetensi sumber daya manusia, teknologi yang digunakan, standard an hak kekayaan intelektual," ujarnya.

Euis mengakui pasar penggunaan pewarnaan alami saat ini sangat tinggi. Bahkan, negara-negara maju seperti Jepang dan Korea sudah melirik ini sebagai pasar potensial dikemudian hari. "Jangan sampai kita ketinggalan, penguna warna sintetis saja sekarang maunya warna alami. Itu yang akan kita kembangkan untuk menambah nilai produk fashion kita dalam waktu dekat," papar Euis.

Sekedar informasi kain tradisional Indonesia sudah lama terkenal dengan keindahan motifnya. Motif kain-kain tersebut sangat indah, rumit dan juga memiliki arti filosofis tertentu sesuai dengan motif-nya. Keindahan motif-motif itu tentunya tidak terlepas dari komposisi wama yang memikat Wama dan motif saling mendukung untuk membuat kain-kain tradisional terlihat indah dan anggun. Pewarnaan pada kain didapat melalui proses yang rumit, misalnya pada kain tenun, benang tenun harus diwarnai dan pada kain batik harus melalui proses perendaman yang berkali-kali untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Zaman sekarang, hampir sebagian besar kain tradisional menggunakan pewarna buatan. Pewarna alami ditinggalkan karena biayanya lebih mahal daripada pewarna buatan dan juga proses pembuatan pewarna alami juga lama dan rumit ketimbang pewarna buatan yang dapat langsung dipakai. Tetapi seiring perkembangan jaman orang-orang mulai melirik kembali bahan pewarna alami. Alasannya pewarna alami lebih ramah lingku-ngan dan yang paling penting, warna yang dihasilkan pewarna alami lebih bagus dan unik.

Pewarna alami didapat dari hampir semua bagian dari tanaman seperti; batang, daun, bunga, biji, kulit biji atau akar. Sedangkan jenis tumbuhan yang biasanya digunakan untuk bahan pewarna adalah; kunyit untuk warna kuning, tanaman indigo atau nila untuk warna ungu, biji pinang untuk warna merah dan masih banyak lagi tanaman yang dapat digunakan.

Tidak semua jenis kain dapat menggunakan pewarna alami, hanya kain yang berserat alam saja seperti sutra, wol dan katun yang dapat digunakan. Yang terbaik dalam penyerapan pewarnaan adalah kain sutera asli. Sedangkan bahan kain sintetis seperti polyester tidak dapat menggunakan pewarna alami karena tidak memiliki daya serap zat pewarna alam sehingga tidak mudah dalam proses pewarnaan.

Related posts