Derasnya Aliran Hot Money, Berkah Atau Musibah?

DANA ASING "MENYERBU" INDONESIA

Senin, 15/08/2011

Jakarta – Membanjirnya hot money (uang panas) ke pasar uang Indonesia sebagai dampak krisis utang Amerika Serikat dan Eropa bagaikan buah simalakama. Pasalnya, di satu sisi, eksodus hot money yang lazimnya cenderung masuk ke portofolio obligasi atau surat utang yang akan mengapresiasi nilai rupiah menjadi kian perkasa dan meningkatkan gairah aktivitas pasar modal. Namun di lain pihak, hot money yang diperkirakan berjumlah ribuan triliun rupiah itu akan ramai-ramai “pulang kampung” tanpa harus dikomando jika perekonomian di AS dan Eropa membaik.

NERACA

Untuk itu, pemerintah diminta mewaspadai derasnya aliran dana yang bersifat jangka pendek tersebut. Ketakutan akan lambatnya pertumbuhan ekonomi global dan belum pulihnya kondisi fundamental ekonomi AS dan Eropa dikhawatirkan membuat Indonesia keranjingan menerbitkan surat utang. Karena, hingga kini tren jumlah penerbitan surat utang dari negara-negara emerging market di Asia sudah mencapai US$29,5 miliar sepanjang kuartal I-2011, naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$24,5 miliar.

Meski Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat, namun dampak dari krisis global akan semakin meningkatkan aliran capital inflow dan hot money ke pasar dalam negeri. Di lain sisi, tingginya aliran dana asing juga tercermin dari tren menguatnya kurs mata uang rupiah belakangan ini. Maka, jika tidak dikelola secara hati-hati, dana-dana asing itu diprediksi bakal mengguncang kebijakan moneter dan sistem keuangan Indonesia.

Mencari “Rumah” Baru

Ekonom senior bank asing Fauzi Ichsan mengungkapkan, dana nganggur akibat gonjang-ganjing krisis global memang tengah mencari “rumah” baru di suatu tempat yang memiliki dua persayaratan. Pertama, tempat yang menjanjikan suku bunga lebih tinggi dari suku bunga di Amerika, Eropa, dan Jepang plus mata uang yang stabil.

Kedua, tempat yang pertumbuhan ekonominya lebih pesat dari AS, Eropa, dan Jepang. “Dan di muka bumi ini hanya ada dua negara yang memenuhi dua persyaratan itu. Yang pertama adalah Indonesia, dan kedua adalah Brasil,” ungkap Fauzi kepada wartawan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, meski suku bunga di Brasil dipatok 11%, pemerintah Negeri Samba itu tidak menyukai hot money dan sengaja “menghalau” dana jangka pendek itu lewat penetapan pajak 6% dari pokok investasi sebelum membeli surat utangnya. Sementara di Indonesia, dengan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang bertengger di angka 6,67% dan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 6,5% ditambah nilai rupiah yang relatif stabil, para investor dipastikan “ngiler” melihat portofolio ekonomi Indonesia.

Mengenai aliran dana asing ke pasar bursa, kata Fauzi, dalam jangka panjang, volume investasi di lantai bursa akan ditentukan oleh fundamental ekonomi yang kuat, pertumbuhan ekonomi yang mengkilap, rendahnya tingkat inflasi, suku bunga yang kompetitif, dan raupan laba korporasi.

Fauzi menegaskan, kalau pertumbuhan ekonomi pesat, maka laba korporasi akan tumbuh. Kalau laba korporasi tumbuh, maka pasar bursa juga akan cemerlang di akhir tahun. “Diprediksi rata-rata pertumbuhan laba korporasi akan mencapai 20% tahun ini. Jika ditransformasikan ke IHSG, laba korporasi yang tumbuh 20% ditambah pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan 7%, maka diperkirakan IHSG akan menembus angka 4.400 di akhir tahun,” jelasnya.

Dia menambahkan, di tengah pusaran utang AS yang turun peringkat (downgrade), Indonesia justeru mengalami kenaikan rating (up grade). Dari tiga lembaga pemeringkat dunia, Indonesia ditempatkan pada kelompok negara yang satu tingkat di bawah investment grade.

Jika dalam tempo enam bulan atau satu tahun mendatang peringkat Indonesia naik menjadi negara yang nyaman buat investasi (investment grade), apalagi diperkirakan tahun depan pertumbuhan ekonomi bertengger hingga 7%, inflasi akan turun 5,5-6%, kurs rupiah Rp 8,300 per US$, dan BI Rate di kisaran 6,7% sampai akhir tahun, maka diprediksi hot money akan mengalir lebih deras ke Indonesia.

Terganjal Infrastruktur

Akan tetapi, kendati memiliki suku bunga tinggi dan pertumbuhan ekonomi cemerlang, buruknya infrastruktur dinilai menjadi penghalang masuknya dana asing ribuan triliun ke sektor riil Indonesia. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menanjak tidak cukup kuat menyerap banjirnya hot money. Sektor riil mandul dalam menyerap dana nganggur itu karena buruknya infrastruktur. Hedge fund enggan masuk lewat proyek karena ketidaksiapan infrastruktur,” kata Fauzi.

Menurut dia, walau pembangunan infrastruktur tetap berjalan, tapi tidak sepesat yang diharapkan. Di sisi lain, persoalannya juga menyangkut pembebasan lahan dan ketidakmampuan kabupaten/kota membangun infrastruktur yang baik. Lebih lanjut, dia membandingkan kenapa pembangunan infrastruktur di China tergolong paling cepat di dunia, karena di Negeri Tirai Bambu tanah merupakan aset milik negara sehingga tidak ada masalah dengan pembebasan lahan.

Kecuali menyumbat masuknya hedge fund ke sektor riil, persoalan buruknya infrastruktur juga menjadi jawaban mengapa dalam sepuluh tahun terakhir sektor manufaktur Indonesia tidak kompetitif lagi. “Masalahanya klasik, yaitu infrastruktur. Infrastruktur yang buruk mempengaruhi biaya transportasi dan biaya energi yang melambung sangat tinggi,” ujarnya.

Itulah sebabnya, dia meminta pemerintah membuat regulasi untuk mengarahkan agar hot money tidak bisa seenaknya masuk dan keluar, misalnya dengan menerbitkan regulasi investor asing hanya boleh membeli surat utang dengan tenor jangka panjang.

Selain itu, agar investor nyaman menanamkan duitnya di Indonesia, pemerintah harus memperbaiki sarana dan prasarana infrastruktur yang ada, memberi iklim investasi yang kondusif, suntikan berbagai macam insentif, stabilitas politik, dan yang tak kalah penting jaminan keamanan serta jaminan keuntungan berinvestasi di Indonesia. Dengan demikian, para investor diyakini akan semakin nyaman menanam uangnya di Indonesia. Pada gilirannya, banjirnya hot money niscaya akan menjadi “berkah”, bukan “musibah”. munib/rin