Rencana Impor Beras 500 Ribu Ton Tergantung Stok Bulog - Sektor Pangan

NERACA

Jakarta – Dampak badai kering el nino yang diprediksi akan singgah di Indonesia membuat pemerintah melakukan ancang-ancang dalam hal ketersediaan pangan, salah satunya beras. Maka dari itu, Kementerian Pertanian menyatakan akan menyusun untuk mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton dengan alasan menghadapi badai el nino. Namun begitu, Menteri Pertanian Suswono menegaskan bahwa pemerintah akan mengimpor beras ketika ketersediaan (stok) beras di Bulog tidak mencukupi.

Menurut Suswono, impor bisa dilakukan jika kemampuan Bulog dalam menyediakan beras sebesar 1,5 juta ton sampai dengan akhir tahun tidak cukup. Namun begitu, jika Bulog telah berhasil menyetok beras hingga 1,5 juta ton maka rencana untuk mengimpor beras sebesar 500 ribu ton tidak dilakukan. “Jadi begini sampai akhir tahun Bulog itu harus memiliki stok sampe 1,5 juta ton, kalau kurang baru impor,” tuturnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengaku berencana melakukan importasi beras sebanyak 500 ribu ton untuk persediaan menghadapi gejala alam El Nino yang diperkirakan akan berlangsung beberapa bulan mendatang. “Argumentasinya adalah begini, bahwa peristiwa El Nino juga tiap tahun akan terjadi, yang penting jangan sampai produksi yang bisa dicapai turun dari jumlah itu. Jadi, bagaimana kita bisa mempertahankan volume produksi,” terang dia.

Namun, lanjut Rusman, rencana impor tersebut hanya disiapkan saja untuk memperkuat cadangan beras di dalam negeri dan bukan berarti harus langsung dieksekusi. “Jadi eksekusi itu hal yang berbeda dengan perencanaan. Jadi, jangan kalau kita bicarakan kemungkinan impor lalu seolah-olah kita mau mengimpor. Tidak, tetapi kemungkinan impor itu dimaksudkan agar kita lebih prepare,” imbuh dia.

Menurutnya, terlalu dini jika mengatakan beras dari petani lokal kurang pasokan. Namun untuk berjaga-jaga, rencana impor 500 ribu ton beras tersebut perlu dipertimbangkan. Sebanyak 500 ribu ton beras itu, terdiri dari 200 ribu ton untuk beras premium dan 300 ribu ton untuk beras medium. “Karena premium itu sebenarnya tidak mengganggu harga dalam negeri. Mungkin yang 300 ribu ton baru medium,” kata dia.

Namun, dia mengingatkan jangan sampai produksi beras yang pernah dicapai pada tahun 2013 turun. “Bagaimana kita bisa mempertahankan volume produksi. Memang kita harus antisipasi El Nino ini terutama di bulan Oktober, November, Desember ini semua cara kita lakukan tetapi tidak perlu dieksekusi,” ujarnya.

Data Kementerian Pertanian, produksi beras tahun ini ditargetkan sebesar 76,57 juta ton gabah kering giling (gkg). Angka ini lebih besar dari tahun 2013 dengan angka produksi mencapai 71,29 juta ton. Sampai semester I 2014, target produksi tersebut sudah direalisasikan 50%. Meskipun begitu, Rusman menegaskan hingga akhir Agustus, pemerintah belum akan membuka keran impor beras.

“Kalau untuk urusan impor kita paling konsen jangan sampai melukai petani tetapi bukan berarti Kementan mengatakan itu haram. Bulog ya mengajukan dan diberi ruang untuk itu. Dibicarakan dengan calon eksportirnya tetapi belum dieksekusi. Juni-Juli-Agustus tidak memberikan ruang untuk itu,” paparnya.

Siapkan SOP

Meskipun begitu, pihaknya telah menyiapkan Standard Operational Procedure (SOP) untuk menghadapi kemungkinan terburuk badai el nino. “Untuk menjaga tanaman kita, menjaga tingkat produksi jangan sampai turun karena ada el Nino. Kita juga untuk meyakinkan masyarakat kalau perlu kita tidak impor untuk beras dan segala macem. Karena ada SOP itu,” katanya.

Mantan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan SOP itu. Pertama adanya kalender tanam. “Kita memberikan kepada para petani itu kalender tanam. Kapan petani mulai menanam dan itu bisa berbeda antar kabupaten. Nggak sama dan kalender tanam itu menurut kabupaten masing-masing,” katanya.

Kedua, lanjut Rusman varietas padi yang umurnya panjang. “Anjurannya adalah karena ini akan menghadapi musim kemarau panjang, pilih varietas yang umur jenjangnya pendek. Kalau perlu yang 90 hari panen. Supaya nanti kalau kehabisan air itu ketolong, dia udah panen duluan. Jangan yang umurnya 4 bulan,” katanya.

Ketiga dengan memanfaatkan embung dan pompanisasi. “Ketiga, ketika tanaman sudah mulai tinggi dan hampir menjelang panen, dan kering sama sekali, fungsikan semua embung. Kemudian juga yang berikutnya pompanisasi. Itu adalah mengalirkan air dari sungai yang masih ada airnya ke sawah,” katanya.

Sistem Jangka Panjang

Officer Ekosistem Pertanian dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Puji Sumedi menyatakan bahwa dalam menghadapi badai kering el nino, semestinya pemerintah melakukan pendekatan keanekaragaman pangan dan kearifan lokal dalam hal cadangan pangan. “Sebagai tindakan kuratif, impor beras mungkin menjadi solusi. Akan tetapi untuk jangka panjang seharusnya dilakukan pendekatan yang berbasis masyarakat dan keanekaragaman pangan yang kita miliki,” ujar Puji.

Menurut dia, el nino bisa dikatakan secara berkala terjadi, oleh karena itu diperlukan solusi yang sifatnya jangka panjang. Selain itu, solusi tersebut juga harus bisa mendorong terjadinya kedaulatan pangan. Menurut Puji, masyarakat sebenarnya memiliki kearifan lokal terkait pengelolaan benih dan cadangan pangan untuk keluarga dan kelompoknya. Lumbung yang saat ini sudah sangat jarang ditemukan di Pulau Jawa adalah salah satu contoh nyata.

Related posts