Pemerintah Didesak Kembalikan Fungsi Hutan

NERACA

Jakarta – Ketua Umum Angkatan Muda Restorasi Indonesia (AMRI) Riza Suarga meminta kepada pemerintah untuk mengembalikan fungsi hutan di jaman orde baru. Pasalnya, ada jaman itu hutan Indonesia telah menyelamatkan negara dari ambang kebangkrutan sebanyak dua kali yaitu pada krisis minyak mentah di tahun 1970-an dan 1980-an. Selain itu, lanjut Riza, hutan juga pernah menjadi andalan dalam penerimaan devisa negara sebagai penghasil devisa netto terbesar bahkan antara 1996-2000 produk kayu merupakan produk ekspor yang memiliki keunggulan komparatif pertama dengan indeks 12.96 jauh melampaui tekstil dan produk tekstil yang hanya memperoleh indeks 1.7.

Riza mengatakan luas hutan tanaman industri sekitar 2,5 juta hektar yang tertanam merupakan resources devidend yang telah dinikmati saat ini. Padahal hal itu adalah salah satu jerih payah kebijakan orde baru daro penyaluran dana sebesar Rp2,5 triliun. “Hal ini menujukan bahwa semenjak reformasi tidak terjadi penambahan luas maupun realisasi baru mengingat memang dihentikannya penyaluran Dana Reboisasi untuk pembangunan hutan tanaman industri tersebut. Padahal Hutan Tanaman Industri (HTI) itu diperlukan,” Riza saat ditemui usai diskusi media Visi Pemerintah ke depan tentang Restorasi Sumber Daya Alam di Jakarta, Kamis (26/6).

Namun kini, lanjut dia, sektor kehutanan bukanlah menjadi andalan dalam penerimaan negara. Bahkan, kata dia, Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro sempat mengatakan bahwa hutan tidak lagi diarahkan menjadi sumber pendapatan. “Ini terbilang wajar karena konstribusi sektor kehutanan terhadap PDB cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada 1997, sektor kehutanan berkontribusi sebesar 1,8% terhadap PDB sementara pada 2011 menjadi 0,7%,” katanya.

Padahal, kata dia, berdasarkan data analisa citra landsat Kementerian Kehutanan, Indonesia adalah negara dengan luas hutan tropis kedua terbesar di dunia setelah Brazil, dengan total luas daratan 187.4juta hektar yang mana total hutan tetap adalah seluas 110.4juta hektar (kawasan hutan produksi seluas 60.9juta hektar, kawasan hutan lindung dan konservasi 49.5juta hektar). “Keberadaan kawasan hutan bisa menjadi penyalamat bagi kegiatan ekonomi maupun pengembangan kawasan seperti hutan tanaman industri, pertambangan, perkebunan, pertanian tanaman pangan dan pengembangan kawasan pemekaran dalam rangka otonomi daerah,” ucapnya.

Riza yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan Lingkungan Hidup, Perubahan Iklim dan Pengembangan Berkelanjutan Kadin mengatakan ada salah satu kebijakan yang paling realistis adalah menjadikan sumber daya hutan sebagai alternatif sumber energi berkelanjutan yang paling efektif dan realistis. Hanya diperlukan lahan sekitar 1.500-2.000 hektar biomass yang mampu memberikan kontribusi sebesar 5-10 MW energi listrik terbarukan. “Kapasitas 5-10 MW adalah sangat ideal bagi skala kabupaten terutama di luar Jawa, sehingga alternatif pengganti PLTD sudah dapat terjawab dalam waktu cepat,” tukasnya.

Maka dari itu, ia berpendapat bahwa blue print kebijakan di sektor kehutanan harus lebih inovatif dengan tidak mengandalkan ekstraksi kayu sebagai andalan sebagaimana yang dilakukan oleh rezim reformasi selama ini. “Sewaktu Menteri Kehutanan Prakosa, itu adalah titik awal hancurnya di sektor kehutanan karena mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang kurang mendorong hutan tanaman industri. Sekarang ini, indutri hutan itu bukan hanya ekstrak kayu karena sekarang ada perdagangan karbon, hutan untuk energi berkelanjutan, hutan untuk tanaman pangan yang berkelanjutan, eco wisata jadi banyak opsi untuk mengandalkan hutan. ” jelasnya.

Ditempat yang sama, Ketua Dewan Pakar Angkatan Muda Restorsi Indonesia (AMRI), Poempida Hidayatulloh menilai masa depan kehutanan masih sangat prospektif, tinggal menempatkan orang serta kebijakan yang inovatif, visioner dan tepat untuk mampu mengangkat kejayaan sektor kehutanan. “Sehingga keperkasaan Indonesia sebagai pemilik hutan tropis kedua terbesar di dunia bisa diraih kembali,” ujar Poempida.

Menurut Poempida, fakta keunggulan Indonesia adalah memiliki sinar matahari 3/5 hari dalam setahun, curah hujan tinggi dan kelembaban udara di atas 80% yang artinya memberikan tanah kita kesuburan yang luar biasa sehingga hutan tanaman Indonesia merupakan yang paling kompetitif di dunia. "Hanya membutuhkan 5-6 tahun bagi tanaman kayu lunak untuk bisa dipanen berbanding dengan 30-40 tahun untuk tumbuh di negara-negara 4 musim," pungkasnya.

Related posts