Entaskan Umat dengan Zakat

Zakat yang bisa digali di Indonesia dinilai negara-negara lain sebagai paling potensial untuk mengurangi kemiskinan. Itu sebabnya, Indonesia kembali dipercaya untuk memimpin World Zakat Forum (WZF) atau Forum Zakat se Dunia daalm konferensi zakat internasional di New York pada 28-29 Mei 2014.

Ahmad Juwaini, presiden Yayasan Dompet Duafa (YDD) terpilih menjadi sekjen periode 2014-2017 menggantikan KH Didin Hafidhuddin yang juga ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Juwaini didampingi sejumlah deputi yaitu Imam Shamsi Ali (New York), Elnur Salihovic (Bosnia), Mohd Izam bin Mohd Yusof (Malaysia), Mohd Rasiq Mukhtar (Sudan), M Hoosen Essof (Afrika Selatan), Syed Zafaar Mahmood (India), Mohd Obaidullah (IDB/Arab Saudi), dan Irfan Syauqi Beik, yang juga staf ahli Baznas. “Ini adalah amanah yang sangat berat, sekaligus tantangan bagi kami untuk mewujudkan sinergi gerakan zakat bagi kesejahteraan global,” kata Juwaini.

Peserta konferensi antara lain delegasi dari Indonesia, Amerika Serikat, India, Malaysia, Mesir, Arab Saudi, Bosnia Herzegovina, Afrika Selatan, Pakistan, Sudan, Yaman, Turki, Mesir, Malaysia dan Amerika Serikat. Konferensi diadakan untuk membangun sinergi dan koordinasi antar stake holder perzakatan dunia. Mereka adalah para praktisi, LSM, akademisi, ulama, hingga pengamat ekonomi.

Sejumlah isu strategis dibahas oleh para peserta konferensi, antara lain bagaimana mengoptimalkan potensi zakatdan menjadikan zakat sebagai instrumen utama dalam upaya untuk mengurangi angka kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. Karena itu, diperlukan penguatan kerjasama global dalampengelolaan zakat. Hingga, dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi umat manusia, khususnya umat Islam.

Para peserta konferensi sepakat bahwa WZF harus menjadi tempat bertukar gagasan dan pemikiran terkait pengembangan perzakatan, fasilitator komunikasi dan kerjasama zakat lintas negara dan lintas regional, serta media untuk meningkatkan kualitas manajemenpengelolaan zakat. Ahmad Mukhlis Yusuf dari Baznas mengatakan, salah satu variabel penting yang perlu mendapat perhatian adalah good zakat governance. “Good zakat governance ini merupakan faktor kunci yang menentukan kualitas pengelolaan zakat. Apakah publik percaya dengan lembaga zakat, maupun apakah zakat bisa memiliki dampak positif secara ekonomi dalam mengurangi kemiskinan dan kesenjangan,” kata Mukhlis.

Jika menggunakan asumsi bahwa potensi zakat adalah sama dengan 2,5% dikali dengan total GDP, menemukan bahwa potensi zakat Turki mencapai angka 5,7 miliar dolar AS. Sedangkan potensi zakat Uni Emirat Arab dan Malaysia masing-masing sebesar 2,4 miliar dolar AS dan 2,7 miliar dolar AS. Total potensi zakat seluruh negara-negara Islam minus Brunei Darussalam adalah sebesar 50 miliar dolar AS. Dari sisi realisasi, secara umum dana zakat yang berhasil dihimpun oleh masing-masing negara masih sangat kecil.

Indonesia sebagai contoh, hanya mampu menghimpun Rp 800 miliar pada tahun 2006 lalu, atau 0,045% dari total GDP. Malaysia di tahun yang sama hanya mampu mengumpulkan 600 RM atau sekitar 0,16% dari GDP. “Dari data riset ini menunjukkan betapa Indonesia masih unggul dari hasil pengumpulan diantara negara-negara besar Islam di dunia,” tutur Miftahur Rahman El-banjary, penulis buku ‘Keajaiban Seribu Dinar’.

Kendati Indonesia memiliki potensi zakat hingga Rp 217 trilun per tahun, tapi faktanya pada 2010 Baznas hanya mampu mengumpulkan sekitar Rp 1,5 triliun saja. Perolehan itu bertambah lagi menjadi Rp 1,7 triliun pada 2012.

Related posts