Efek Domino Kenaikan TDL

Pekan depan, kita memasuki bulan Juli 2014. Pemerintah sudah menyiapkan kado istimewa bagi rakyat saat memasuki Juli tersebut, yaitu kenaikan tarif dasar listrik (TDL).

Kenaikan TDL tersebut berlaku bagi enam golongan tarif, yaitu R1 (1.300 VA) naik 11,36%, R1 (2.200 VA) naik 10,43%, dan R2 (3.500 – 5.500 VA) naik 5,7%. Tiga golongan lagi adalah elanggan industry 13 nonterbuka yang naik 11,57%, penerangan jalan umum P3 naik 10,69%, serta kelompok pemerintah P2, yaitu di atas 200 KVA naik sebesar 5,36%. Hingga November 2014, kenaikan TDL akan diberlakukan dua kali lagi, yaitu dua bulan sejak Juli, yaitu September dan November.

Pada November, TDL tersebut sudah mencapai tingkat keekonomian, yaitu tidak mendapat subsidi lagi dan fluktuatif mengikuti indikator kurs, inflasi, dan perkembangan harga BBM internasional. Pemerintah memperkirakan, kenaikan TDL tersebut dapat menghemat anggaran hingga Rp 8,51 triliun.

Penghematan itu berasal dari Keenam golongan yang terkena kenaikan tarif listrik yaitu rumah tangga R1 (1.300 VA) sebesar Rp1,84 triliun, Rumah tangga R1 (2.200 VA) menghemat Rp 0,99 triliun, golongan rumah tangga R2 (3.500-5.500 VA) sebesar Rp370 miliar. Dari golongan pelanggan industri I3 nonterbuka Rp4,78 triliun. Penghematan dari golongan penerangan jalan umum P3 Rp430 miliar, serta golongan pemerintah P2 (di atas 200 kVA) mencapai Rp100 miliar.

Kenaikan TDL untuk enam golongn tarif itu sudah mendapat persetujuan dari Komisi VII DPR dalam rapat kerja di Gedung DPR, Senayan pada 10 Juni lalu. Dalam rapat yang dipimpin wakil Ketua Komisi VII DPR Achmad Farial dan dihadiri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, kenaikan TDL tersebut dimasukkan RAPBN-Perubahan 2014.

Penetapan kenaikan TDL itu didasarkan pada harga minyak 105 dolar AS per barel, produksi minyak terjual 818.000 barel per hari, produksi gas terjual 1,224 juta barel setara minyak per hari, dan subsidi elpiji 3 kg sebesar 5,013 juta ton. Dalam RAPBN-P 2014 disebutkan pula kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi disetujui 46 juta kiloliter yang meliputi premium 29,43 juta kiloliter, minyak tanah 900 ribu kiloliter, dan solar 15,67 juta kiloliter dengan alpha sesuai formula APBN 2014. Ditetapkan pula, subsidi listrik tahun berjalan sebesar Rp 86,84 triliun, subsidi biodiesel Rp1.500 per liter, subsidi bioetanol Rp2.000 per liter, dan subsidi LGV Rp1.500 per liter.

Menurut Jero Wacik, kenaikan TDL tersebut akan dipakai untuk membantu PLN membangun infrastruktur ketenagalistrikan baru di seluruh Indonesia. “Siapapun presiden mendatang akan menjadi lebih baik, karena subsidi listrik sudah turun. Ini memperingan pemerintahan baru," katanya ketika itu.

Berdampak ke UKM

Namun, keputusan tersebut mendapat reaksi dari kalangan pengusaha, termasuk yang tergabung dalam Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), maupun dari yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). “Kenaikan TDL itu akanberimbas ke semua biaya operasional karena listrik adalah konpone utama,” kata Ketua Umum DPP APPBI Handoko Santosa.

Menurut Handoko, kenaikan itu juga akan berimbas ke para penyewa/tenant yang kebanyakan kalangan UKM. Dengan biaya operasional yang tinggi, dia khawatir para tenant akan menurunkan kualitas produk yang dijual.

Menurut Handoko, keluhan dan keberatan terhadap kenaikan TL itu kebanyakan dari ara tenant UKM yang menempati hampir 95% dari area yang ada di setiap mal atau trade center. “Ini bagian dari efek domino. Sebab, mereka terpaksa membayar listrik dari tarif B3. Karena itu, DPP APPBI, kata Handoko, mengusulkan agar kenaikan TDL berlaku tetap. Handoko juga minta PLN untuk belajar dari Malaysia. “Hendaknya PLN menggunakan tolok ukur atau referensi hargha TDL dari negara-negara tetangga seperti Malaysia yang besarnya 0,365 RM/KWH atau setara dengan Rp 1.314/KWH. “Persaingan makin ketat dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015,” kata dia. (saksono)

Related posts