Mencari Berkah Ramadhan

Akhir pekan ini, kita sudah memasuki bulan Ramadhan 1435 H. Bulan yang penuh berkah dan pengampunan. Seperti sudah lazim sebagai ritual rutin, selain beribadah, kalangan rumah tangga juga membeli sejumlah barang kebutuhan bahan pangan untuk berbuka dan makan sahur.

Maka tak heran, di setiap Ramadhan tiba, bermunculanlah para pedagang makanan di berbagai sudut kota, hingga di kampung-kampung. Lapak-lapak bertebaran, bahkan tak jarang mobil pun dijadikan lapak. Semua ingin mengais untung dari orang-orang yang ngabuburit. Selain makanan, barang dagangan lainnya adalah perlengkapan ibadah seperti mukena, sajadah, kerudung, dan baju gamis untuk perempuan serta kopiah dan baju koko untuk kaum pria. Untuk pakaian, biasanya juga dipersiapkan untuk menyambut Lebaran (Idul Fitri).

Yang berjualan tentu tidak hanya mereka yang muslim saja. Yang non muslim pun juga banyak yang ikut-ikutan mencari berkah Ramadhan. Bahkan, para pengusaha papan atas pun, seperti restoran dan hotel-hotel pun juga telah jauh hari menyiapkan paket berbuka puasa. Menjamurnya para pedagang dan juga para pembeli, tidak hanya di kaki lima, tapi juga di pasar-pasar tradisional dan pasar modern.

Untuk makanan, harganya pun variatif. Demikian juga barang-barang selain makanan. Tergantung jenis bahan dan lokasinya. Makanan yang dijajakan di lapak-lapak, walaupun rasa resto bintang lima, tentu harganya lebih murah daripada makanan yang sama yang dijual di resto dan hotel.

Yang terang, di saat Ramadhan tiba, ekonomi pun bertumbuh, bergerak pesat, walaupun musiman. Bahkan, swalayan-swalayan pun banting harga agar barang-barangnya berputar cepat, yaitu cepat terjual habis dan berganti stok yang baru dan segar. “Ya, menjelang Ramadhan ini, swalayan banyak yang menuunkan harga, biasanya untuk menghabiskan stok lama,” kata Nenny Kristyawati, manajer PR Indomaret, kepada Neraca.

Menurut dia, kondisi itu berbeda dengan pasar tradisional. Di pasar tradisional, harga-harga bahan pokok justru merangkak naik. ITu, kata dia, karena memang permintaan melonjak. Biasanya, orang ingin menyetok barang kebutuhan sehari-hari di awal, sebab, biasanya harga akan makin naik mendekati Lebaran.

Hal itu juga dibenarkan Yanti (45), seorang karyawan yang bekerja di kawasan Palmerah. Saat berbelanja ke pasar tradisional, sejumlah barang makanan kebutuhan sehari-hari, harganya sudah naik dibanding pada minggu-minggu sebelumnya. “Saya belanja agar banyak biar tidak sering belanja, karena kan harus banyak ibadah,” kata dia.

Untuk kebutuhan bahan pangan pokok, pemerintah pun menjamin persediaan cukup. Bahkan, Kementerian Pertanian memerlukan memasang iklan pariwara tentang ketersediaan pangan menjelang Ramadhan dan Lebaran, dalam kondisi aman terkendali. Menteri Pertanian Suswono mengungkapkan, sejumlah komoditas pangan dalam kondisi surplus. “Pemerintah memastikan pasokan bahan pangan untuk Ramadhan dan Lebaran tahun ini aman,” kata Suswono.

Dari prognosa ketersediaan dan kebutuhan pangan strategis sampai Juni 2014, menunjukkan, dari 12 jenis komoditas, mayoritas mengalami surplus. Contohnya, beras. Tingkat ketersediaannya mencapai 3.358,7 ribu ton dengan perkiraan kebutuhan 2.973,2 ribu ton. Jadi surplus 385,5 ribu ton. Surplus minyak goreng cukup banyak. Stok mencapai 1,76 juta ton dengan perkiraan kebutuhan hanya 458,2 ribu ton saja.

Sedangkan yang defisit adalah kedelai, cabe rawit, dan daging sapi. Sudah pasti, kedelai harus impor, karena stok hanya 74,8 ribu ton dengan permintaan mencapai 185,3 ribu ton. Demikian juga daging sapi. Dari data yang dibuat Badan Ketahanan Pangan (BKP), stok daging sapi dan cabe rawit sama, yaitu 45 ribu ton dengan perkiraan kebutuhan 47,4 ribu ton, atau defisit 2,4 ribu ton. “Makanya, harga daging sapi di pasar terus melambung bahkan sudah di atas Rp 100 ribu per kilo gramnya,” kata Yanti.

Yang menjadi keprihatinan Muhammad Aaron Annar Sampetoding, ketua Badan Pengurus Cabang HImpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC Hipmi) Jakarta Pusat, adalah membanjirnya barang-barang impor di pasar-pasar lokal dan tradisional. “Padahal, pasar itu dibangun dengan susah payah dengan anggaran negara atau daerah, tapi, ternyata yang menikmati justru barang-barang impor,” kata Annar.

Menurut Annar, sudah saatnya pemerintah, termasuk pemerintah daerah untuk peduli dan mengutamakan pemasaran produk dalam negeri. Jika tidak, dia khawatir berbagai jenis produk dan komoditas lokal bakal menghilang di pasaran karena tak mampu berkompetii dengan barang impor. (saksono)

PROGNOSA KETERSEDIAAN BAHAN PANGAN STRATEGIS PER JUNI 2014

(ribu ton)

No. Komoditi Ketersediaan Kebutuhan Surplus

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Beras 3.358,7 2.973,2 385,5 Jagung 1.584,2 1.242,7 341,5 Kedelai 74,8 185,3 -110,5 Kacang Tanah 101,1 88,2 12,9 Gula pasir 444,7 242,8 201,9 Minyak goreng 1.762,3 458,2 1.304,1 Bawang merah 108,8 95,6 13,2 Cabe besar 86,3 72,9 13,4 Cabe rawit 45,0 47,4 -2,4 Daging sapi 45,0 47,4 -2,4 Daging unggas 134,4 97,0 37,4 Telor unggas 151,8 138,7 13,1

-----------------------------------------------------------------------------------

Sumber: BKP

Related posts