Transaksi Harian Bursa Capai Rp 6,24 Triliun - Laju Kapitalisasi Terus Tumbuh

NERACA

Jakarta – Ditengah perlambatan ekonomi dan sentiment politik, nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun 2013 mengalami peningkatan. Dimana rata-rata transaksi harian saham mencapai Rp 6,24 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 37,49% dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai Rp 4,54 triliun. Hal ini juga ikut meningkatkan likuiditas di bursa.

Direktur Utama BEI Ito Warsito menuturkan peningkatan likuiditas di BEI juga diikuti dengan volume rata-rata transaksi harian saham yang naik dari 4,28 miliar saham per hari pada 2012 menjadi 5,50 miliar saham per hari di 2013,”Hal itu mencerminkan frekuensi rata-rata transaksi harian saham yang naik dari 122 ribu transaksi menjadi 154 ribu transaksi per hari," kata Ito di Jakarta, Rabu (25/6).

Menurut Ito Warsito, dalam rapat yang dihadiri 112 pemegang saham (98,25% dari jumlah pemegang saham yang memiliki hak suara) ini banyak sejumlah pencapaian bursa. Pencapaian yang positif di sepanjang tahun 2013 adalah nilai kapitalisasi pasar saham pada tahun 2013 mencapai Rp 4.219,02 triliun atau tumbuh 2,23% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4.126,99 triliun."Nilai kapitalisasi pasar mencapai puncaknya pada tanggal 20 Mei 2013 sebesar Rp 5.082 triliun sebelum turun karena memburuknya perekonomian Indonesia mulai minggu keempat Mei 2013," katanya.

Dia menambahkan nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat memecahkan rekor tertinggi di level 5.214,98 pada tanggal 20 Mei 2013, meski kemudian terkoreksi dan ditutup di level 4.274,18 pada pengujung tahun 2013. Imbas dari meningkatnya nilai transaksi saham di bursa, memberikan laba bagi BEI juga terkerek naik.

Tercatat tahun 2013, laba BEI sebelum pos lain sebesar Rp 213,93 miliar dan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 184,32 miliar. Pendapatan BEI dari jasa pencatatan juga naik menjadi Rp 76,91 miliar di sepanjang 2013 dari Rp 68,6 miliar di 2012. Secara total, jumlah pendapatan usaha BEI di tahun 2013 meningkat menjadi Rp 940,87 miliar dari Rp 712,43 miliar pada tahun sebelumnya. Jumlah total pendapatan BEI naik menjadi Rp 958,54 miliar di tahun 2013 dari Rp 788,07 miliar di tahun sebelumnya.

Kata Ito, tahun 2013 merupakan tahun di mana BEI melaksanakan beberapa inisiatif yang difokuskan pada peningkatan likuiditas pasar, peningkatan jumlah investor, peningkatan implementasi prinsip Good Corporate Governance (GCG) di kalangan emiten, penyusunan dan pembaruan regulasi yang diperlukan untuk menciptakan perdagangan yang teratur, wajar, dan efisien, serta meningkatkan kualitas industri pasar modal Indonesia dan mendukung fungsi BEI sebagai regulator pasar modal.

Di tataran regulasi, kata Ito, untuk meningkatkan likuiditas pasar serta penerapan GCG emiten, BEI berhasil menyelesaikan perubahan 2 (dua) peraturan. Pertama, perubahan Peraturan Pencatatan No. I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas selain Saham yang diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat. Kedua, perubahan Peraturan Perdagangan No. II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas.

Perubahan dua peraturan tersebut telah disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2013 dan diimplementasikan pada awal 2014. Sebelumnya, di awal tahun 2013, BEI telah mengimplementasikan perubahan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas, yaitu memajukan jam perdagangan 30 menit lebih awal dan menerapkan sesi pre-closing dan post-trading untuk meningkatkan volume perdagangan di BEI.

Kemudian dari sisi operasional, BEI melakukan pengembangan sistem teknologi informasi secara berkelanjutan. Di tahun 2013, BEI melakukan enhancement sistem pelaporan elektronik (New IDXnet), pengembangan Data Warehouse (DWH) dan Business Intelligence Tahap II; enhancement sistem perdagangan JATS-NextG dan infrastrukturnya; pemutakhiran sistem Data Feed; pembaruan Sistem Pengawasan Securities Market Automated Research Trading Surveillance (SMARTS); serta pengembangan New MOFIDS dan sistem pelaporan PLTE.

BEI juga sedang mengembangkan sistem pelaporan dengan format eXtensible Business Reporting Language (XBRL) untuk pelaporan emiten. XBRL adalah standar global untuk mempertukarkan informasi bisnis.

Pada tahun 2013, BEI sudah menyusun Taksonomi XBRL sebagai tahap awal implementasi XBRL.

Pada tahun 2013, PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI) atau Indonesia Securities Investor Protection Fund (SIPF) yang didirikan oleh BEI bersama PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), telah mendapat izin usaha dari OJK sebagai penyelenggara dana perlindungan pemodal di pasar modal Indonesia. (bani)

Related posts