Cegah Praktik Suap, BTN Gandeng KPK - Bank BUMN Pertama

NERACA

Jakarta - PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) berkomitmen menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan bersih atau good corporate governance (GCG) dengan merangkul Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mencegah praktik gratifikasi dan penyuapan di seluruh lini kerja perseroan.

Direktur Utama BTN, Maryono mengatakan, pihaknya serius menerapkan pencegahan gratifikasi untuk mendukung Indonesia bersih dari korupsi. "Penerapan GCG menjadi kunci "trust" (kepercayaan) bagi masyarakat kepada bank," tegasnya, usai penandatanganan komitmen dan sosialisasi penerapan pengendalian gratifikasi, di Jakarta, Rabu (25/6).

Dalam kerja sama itu, kata Maryono, KPK membantu BTN mengimplementasikan sistem pengendalian gratifikasi yang dibangun dan dikembangkan secara berkesinambungan. Perseroan menggelar program sosialisasi kepada seluruh unsur pegawai di lingkungan kerja BTN, selanjutnya semua pejabat dan pegawai tanpa kecuali akan menandatangani komitmen penerapan pengendalian gratifikasi.

KPK akan mendampingi selama proses asitensi, konsultasi dan memberikan saran perbaikan selama progam berlangsung. "Tidak ada paksaan dalam menjalankan program ini. Kami direksi dan seluruh jajaran Bank BTN menjalankannya sebagai panggilan tugas. Ini bentuk komitmen yang dapat kami berikan kepada masyarakat khususnya nasabah BTN," papar dia.

Sementara Direktur Gratifikasi KPK, Giri Suprapdiono mengatakan, BTN menjadi bank BUMN pertama yang menyatakan komitmennya melawan korupsi. "Gratifikasi sendiri menjadi cikal bakal terjadinya korupsi," ungkapnya.

Tujuh besar

Lebih jauh Maryono menegaskan, perseroan mengincar posisi sebagai bank nomor tujuh terbesar di Indonesia lima tahun ke depan dengan asumsi pertumbuhan aset, kredit, dan dana pihak ketiga sesuai penetapan perseroan.

"Dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 25%-30%, BTN diyakini mampu masuk dalam posisi ke-7 bank nasional," katanya lagi. Menurut Maryono, target masuk dalam jajaran bank terrier di Tanah Air merupakan tujuan dari perjalanan transformasi yang sedang dijalankan BTN.

Dia melanjutnya, beberapa langkah strategis yang dijalankan perseroan yaitu fokus pada pembiayaan perumahan dengan memperkuat posisi sebagai "market leader" Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Pengembangan kredit non perumahan bermargin tinggi secara efektif, tetap mlakukan perbaikan kualitas kredit dengan membentuk unit Consumer Collection and Remedial serta Asset Management Division yang bertugas menangani perbaikan kredit perseroan.

Selanjutnya, berupaya menciptakan sumber pertumbuhan baru seperti pengembangan bisnis "welath management, treasury trading, trade finance, remitansi, dan card business demi mendorong "fee based income". "Bank BTN tetap berencana membentuk anak usaha bidang asuransi atau multifinance yang berkaitan dengan bisnis inti perusahaan," ujarnya.

Dalam rencana bisnis BTN, pada tahun 2014 perseroan mengincar pertumbuhan kredit antara 15%-17%. Potensi kredit dinilai masih terbuka cukup lebar, sehingga berpotensi tetap menjadi pemimpin pasar pembiayaan perumahan dengan porsi 24%. Pada saat yang bersamaan, BTN memproyeksikan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 19%-21%. Sementara aset diperkirakan tumbuh 16%-18%.

Sedangkan rasio kecukupan modal (CAR), rasio kredit bermasalah (NPL) dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) tumbuh masing masing 16%, 3% dan 80%. "Kami tetap menjaga likuiditas dalam kondisi sangat aman, target laba dan pendapatan bunga bersih (NIM) masing-masing tumbuh 20%, 25%, dan 5,5%," tandas Maryono. [kam]

Related posts