Pembudidaya Ikan Harus Berbadan Usaha - Sambut MEA 2015

NERACA

Jakarta – Sekertaris Jenderal Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Syarief Widjaja menuturkan sebagian besar para pembudidaya ikan nasional masih tradisional dengan memakai konsep kerja konvensional. Padahal pelaksanaan pasar bebas dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 sudah di depan mata. Oleh karena itu, ke depan KKP mendorong para pembudidaya ikan ini berbadan hukum.

“Pada pagelaran MEA 2015 nanti banyak investor asing yang masuk di sektor perikanan terutama budidaya. Oleh karenanya untuk meningkatkan daya saing para pembudidaya harus berbadan hukum, karena jika tidak akan kalah bersaing dengan investor asing,” katanya saat membuka acara pembukaan Indoaqua 2014 yang mengangkat tema “Aquaculture for Business and Food Security” di Jakarta, Rabu (25/6).

Di samping itu menurut Syarief, selama ini arah kebijakan pemerintah lebih pada penyelesaian tekhnologi, produksi, dan benih maka fokus kita kedepan adalah pada sisi bisnis. Dalam artian para pembudidaya bukan hanya mengurusi produksi saja, tapi mereka juga harus bisa dari sisi bisnisnya. “Permasalahan tekhologi, produksi, dan benih sudah bisa diatasi, kini kami fokuskan untuk ke arah korporasinya,” imbuhnya.

Menurut dia, jika hal itu tidak dilakukan maka dikhawatirkan pengusaha lokal akan kalah bersaing dengan pengusaha asing yang punya permodalan besar. “Jika sudah berbadan hukum banyak keuntungannya, salah satunya dari sisi permodalan. Karena akan lebih mudah kerjasama dengan perbankan, dengan supporting permodalan yang kuat akan semakin kompetitif dengan pengusaha asing,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto, mengatakan perikanan budidaya itu sangat kompleks, baik perikanan konsumsi maupun non konsumsi (ikan hias), dan semuanya mempunyai potensi yang sangat luar biasa. Potensi ini jangan sampai jatuh pada pengusaha asing, tapi bisa dinikmati oleh pengusaha lokal.

“Oleh karenanya kami menginginkan membawa para pembudidaya agar lebih berdaya saing apalagi dalam pagelaran pasar bebas MEA 2015 mendatang. Bicara keinginan kami menginginkan semua pengusaha dari lokal, tapi kita juga realistis investor asing juga sudah ada yang masuk untuk pada budidaya apalagi nanti di pasar bebas MEA pasti serbuannya akan lebih banyak lagi. Tapi kami harapkan dominasi pengusaha lokal minimal 60-40, bahkan kalau bisa lebih,” tuturnya.

Maka dari itu, pihaknya mengajak para pembudidaya di samping untuk terus meningkatkan produksi, mereka juga sadar harus bisa lebih berdaya saing salah satu upaya yang harus dilakukan tentu bisa berbadan usaha (korporasi). “Kami menginginkan arahnya kesana, agar pembudidaya dan pengusaha lokal bisa lebih berdaya saing,” tegasnya.

Dengan begitu, pada pagelaran pasar bebas nanti diharapkan para pembudidaya sudah siap, sehingga mampu bersaing dengan dengan asing. “Bukan hanya potensi budidaya saja, pasar perikanan Indonesia juga sangat besar. Mengingat ikan sudah digadang-gadang sebagai sektor ketahanan pang, oleh karenanya harapan besar kami potensi itu dapat diisi oleh pengusaha perikanan budaya lokal,” ucapnya.

Menarik Investor

Slamet mengatakan KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya membuka secara resmi penyelenggarakan pameran Indo Aqua 2014. Tujuan dari pameran ini tidak lain adalah membuka peluang seluas-luasnya bagi para investor baik dari dalam dan luar negeri untuk berinventasi di perikanan budidaya. Karena pada pameran ini, semua investor dapat melihat potensi-potensi perikanan budidaya khususnya untuk dikembangkan. “Melalui pameran ini diharapkan tumbuh investor-investor baru terutama investor lokal yang mendukung progam peningkatan produksi perikanan budidaya," ujarnya.

Dijelaskan Slamet, perikanan budidaya telah menjadi bidang usaha yang risikonya terkalkulasi, sehingga dapat mengurangi risiko kegagalan berkat penguasaan teknologi perikanan budidaya yang inovatif dan adaptif. Selain itu juga perikanan budidaya juga berperan dan mendukung progam ketahanan pangan. Sebab mampu menyediakan produk selain meningkatkan pendapatan dan gizi masyarakat. “Dengan potensi yang ada, diharapkan akan membangun minat investor untuk terus berkontribusi terhadap perikanan budidaya nasional,” tukasnya.

Adapun terkait dengan penanaman modal di sektor budidaya, pada kesempatan terpisah, Slamet mengatakan, investasi menjadi bagian terpenting dalam menghadapi MEA 2015. Maka dari itu, DJPB KKP akan menggenjot investasi khususnya di budidaya perikanan. Slamet menargetkan investasi perikanan budidaya (akuakultur) baik itu air laut, tawar dan payau bisa mencapai Rp23 triliun. “Target investasi untuk air payau, tawar dan luat termasuk dengan pengolahannya pada 2014 diharapkan bisa mencapai Rp 23 triliun. Pada 2013, kami telah mencapai investasi Rp22 triliun. Artinya pada 2014, ada kenaikan Rp1 triliun,” ucap Slamet di Batam, Senin.

Selain itu, ia pun berharap agar pihak perbankan bisa memberikan kemudahan kredit usaha bagi para pembudidaya. Karena menurut dia, peran perbankan masih kurang. “Peranan perbankan menjadi sangat penting. Sejauh ini perbankan sudah masuk, tetapi hanya untuk komoditas tertentu saja seperti gurame, lele, udang maupun rumput laut. Tetapi untuk marikultur masih membutuhkan dukungan dari perbankan,” jelasnya.

Related posts