Diburu Aksi Jual, IHSG Belum Bergerak Leluasa

NERACA

Jakarta – Aksi jual saham yang dilakukan investor asing sejak awal perdagangan hingga akhir perdagangan memicu indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu sore, ditutup melemah 23,258 poin (0,48%) ke level 4.838,982. Sementara Indeks LQ45 turun 4,621 poin (0,50%) ke level 815,341,”Indeks BEI kembali berada dalam area negatif, namun tekanannya masih dalam kisaran yang terbatas. Kondisi itu menunjukan bahwa indeks BEI masih berada dalam fase konsolidasi," kata Analis HD Capital Yuganur Wijanarko di Jakarta, Rabu (25/6).

Menurut dia, frekuensi transaksi saham di pasar modal domestik Rabu tidak berbeda jauh dengan perdagangan sebelumnya, sehingga disimpulkan bahwa koreksi yang terjadi di bursa saham regional serta pelemahan mata uang rupiah tidak banyak mempengaruhi IHSG BEI.

Namun, kondisi saat ini dapat dijadikan kesempatan bagi pelaku pasar untuk mengakumulasi saham dalam jangka pendek. Sementara analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menambahkan bahwa katalis positif disinyalir akan terjadi pada awal bulan Juli 2014 seiring akan dirilisnya data ekonomi dalam negeri yang diprediksi akan stabil,”Diharapkan data-data ekonomi domestik seperti inflasi serta neraca perdagangan Indonesia mencatatkan hasil positif sehingga IHSG BEI tidak berputar-putar dalam kisaran terbatas,”ujarnya.

Berikutnya, pada perdagangan Kamis, indeks BEI diproyeksikan akan kembali terkoreksi seiring belum adanya sentiment positif. Berikutnya, pada perdagangan kemarin, transaksi investor asing hingga sore melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 165,31 miliar di seluruh pasar. Asing sudah jual saham sejak awal pekan ini, tapi dana asing yang parkir di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih banyak, capai Rp 43 triliun.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 160.266 kali dengan volume 3,974 miliar lembar saham senilai Rp 4,06 triliun. Sebanyak 80 saham naik, 184 turun, dan 100 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia tertekan kabar konflik Irak sehingga rata-rata jatuh ke zona merah menutup perdagangan sore ini. Hanya bursa Singapura yang masih bisa menguat tipis.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Multi Bintang (MLBI) naik Rp 27.000 ke Rp 1,08 juta, Astra Agro (AALI) naik Rp 600 ke Rp 29.000, Lion Metal (LION) naik Rp 500 ke Rp 12.000, dan Selamat Sempurna (SMSM) naik Rp 245 ke Rp 4.345. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.500 ke Rp 52.000, Siantar Top (STTP) turun Rp 455 ke Rp 2.815, Lippo Cikarang (LPCK) turun Rp 375 ke Rp 6.925, dan Asahimas (AMFG) turun Rp 325 ke Rp 6.857.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI terpangkas 11,691 poin (0,24%) ke level 4.850,549. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 2,085 poin (0,25%) ke level 817,877. Indeks bergerak dalam rentang yang tipis, investor memilih lakukan aksi tunggu sampai ada sentimen yang bisa jadi katalis. Perburuan saham hanya terjadi di sektor agrikultur dan finansial.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 89.267 kali dengan volume 1,915 miliar lembar saham senilai Rp 2,021 triliun. Sebanyak 79 saham naik, 167 turun, dan 77 saham stagnan. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Multi Bintang (MLBI) naik Rp 29.000 ke Rp 1,08 juta, Lion Metal (LION) naik Rp 1.000 ke Rp 12.500, Astra Agro (AALI) naik Rp 275 ke Rp 28.675, dan Multi Prima (LPIN) naik Rp 220 ke Rp 4.980.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.000 ke Rp 52.500, Mandom (TCID) turun Rp 900 ke Rp 15.300, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 600 ke Rp 67.000, dan Lippo Cikarang (LPCK) turun Rp 325 ke Rp 6.975.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah tipis sebesar 2,36 poin atau 0,05% menjadi 4.859,88. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,61 poin (0,07 persen) ke level 819,35,”Meningkatnya tensi konflik di Irak mengakibatkan beberapa bursa di Asia melemah tipis, termasuk indeks BEI," kata Analis Samuel Sekuritas Aiza.

Selain itu, lanjut dia, nilai tukar rupiah yang tertekan menyentuh level Rp12.000 per dolar AS pada pagi menambah sentimen negatif bagi pasar saham domestik."Di tengah kondisi itu, saham perkebunan kami perkirakan masih cukup menarik seiring adanya sentimen dari tren pelemahan nilai tukar rupiah dan juga kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO)," ungkapnya.

Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan bahwa penguatan indeks BEI kemarin (Selasa, 24/6) cenderung didorong faktor teknikal, faktor fundamental kembali menahan laju IHSG. Menurut dia, neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2014 diperkirakan lebih buruk dibanding kuartal sebelumnya, di sisi lain global juga masih terbebani oleh konflik di Irak. Kondisi itu masih menjadi sentimen negatif di pasar saham.

Namun, lanjut dia, Bank Indonesia optimistis defisit neraca transaksi berjalan hingga akhir tahun 2014 tidak melebihi tiga persen dari produk domestik bruto (PDB). BI akan memperketat kebijakan moneter guna menjaga defisit tidak terlalu tinggi. Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 1,65 poin (0,01%) ke level 22.882,29, indeks Nikkei turun 43,33 poin (0,28%) ke level 15.332,91 dan Straits Times menguat 2,27 poin (0,08%) ke posisi 3.263,92. (bani)

Related posts