Kriteria Dosen Kewirausahaan yang Tepat - Oleh: Aries Musnandar, Dosen PTN

Supaya seimbang tidak hanya soal politik yang disorot (meski itu juga penting bagi pendidikan anak bangsa) kini saya kirim artikel saya tentang dunia pendidikan kita, silahkan dibaca dan tentu saya nantikan komentar)

Matakuliah kewirausahaan di berbagai universitas dalam beberapa tahun belakangan ini telah menjadi matakuliah wajib yang diikuti para mahasiswa S1. Pada saat saya menjadi mahasiswa tahun 1980 an tidak ada matakuliah ini. Seiring dengan berjalannya waktu ternyata pemerintah kita memandang perlu diadakannya matakuliah kewirausahaan bagi mahasiswa S1 karena tidak tersedia lowongan pekerjaan yang cukup bagi lulusan S1. Tampaknya pemerintah kelabakan dan kurang antisipasi dengan banyaknya lulusan perguruan tinggi (PT) di Indonesia yang tidak mendapatkan pekerjaan.

Dengan meningkatnya jumlah lulusan PT para pencari kerja pun bejibun, lalu agar dapat menyerap para lulusan S1 untuk bekerja perlu ketersediaan lapangan kerja yang cukup. Tetapi apalah daya mereka yang mencari kerja kenyataannya tidak hanya lulusan PT, demikian banyak lulusan sekolah menengah dan bahkan lulusan sekolah dasar berupaya juga untuk mendapatkan kerja karena berasal dari keluarga kurang mampu sehingga ingin cepat bekerja agar mereka memperoleh penghasilan untuk membantu keluarga. Fenomena ini sudah lama berlangsung di Tanah Air, merupakan problematika sosial akut yang perlu ditangani secara sistemik dan sistematik.

Para pencari kerja setiap tahun meningkat secara cepat ibarat deret ukur, sedangkan lowongan kerja amat terbatas, terkadang menurun dan jika pun ada lowongan kerja yang tersedia peningkatannya tidak seperti deret ukur melainkan hanyalah deret tambah. Akibatnya terdapat kesenjangan menganga yang melebar antara jumlah pencari kerja dan lowongan kerja. Ironisnya, para pencari kerja itu tidak sedikit yang berasal dari lulusan S1 dan malah juga S2 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Jumlah pengangguran intelektual yang berasal dari perguruan tinggi itu semakin hari kian bertambah, sehingga membuat risau dan galau banyak kalangan termasuk pemerintah, dalam hal ini khususnya kementerian pendidikan nasional.

Guna mencoba mengatasi persoalan pengangguran intelektual tersebut kementerian pendidikan melalui direktorat jenderal pendidikan tinggi (DIKTI) ketika itu berupaya membuat program kebijakan di hilir proses yakni memasukkan matakuliah kewirausahaan dalam kurikulum PT. Tidak lama setelah kebiajakan itu diambil kemudian sejumlah PT mulai menyelenggarakan kuliah kewirausahaan. Pelaksanaan matakuliah ini sudah berjalan kurang lebih satu dekade lalu namun ternyata bukan sesuatu yang mudah dilakukan karena matakuliah kewirausahaan tersebut sesungguhnya matakuliah terapan dan oleh pemrakarsa kebijakan kurikulum di PT dimaksudkan untuk menjadikan seorang pebisnis atau entrepreneur.

Mahasiswa yang menyelesaikan studi S1 nya di PT diharapkan dapat merintis dan membuka usaha sendiri sehingga lulusan S1 yang mencari kerja berkurang karena mereka lebih tertarik membuka lapangan pekerjaan. Tujuan mulia ini tampak indah didengar tetapi senyatanya sulit untuk diwujudnyatakan karena membawakan matakuliah ini bukan perkara gampang. Dosen pengampu matakuliah kewirausahaan harus memiliki kompetensi memadai diantaranya juga telah mempunyai pengalaman berbisnis, jatuh bangun merintis dan mengembangkan usaha dan atau yang bersangkutan terlibat berperan aktif dalam kegiatan di dunia usaha dan industri pada posisi manajerial.

Sementara itu dosen-dosen di PT pada umumnya adalah dosen yang berkutat dengan persoalan teori, mereka lebih dididik untuk mengerjakan karya-karya tulis ketimbang melakukan kegiatan praktek bisnis. Oleh karena itu para dosen teori sejati melahap banyak buku untuk dibaca sebelum akhirnya menghasilkan berbagai karya tulis. Pada tataran inilah sebenarnya mereka bekerja. Membuat karya tulis dan membuat sebuah bisnis tentu dua hal yang berbeda. Kalau matakuliah kewirausahaan diampu atau dibawakan oleh dosen yang biasa membuat karya tulis maka hasil akhir dari matakuliah terapan bisnis ini tidak akan jauh dari proposal dan rencana bisnis semata karena sang dosen belum memiliki keahlian atau pengalaman di dunia usaha dan industri. Andaikan dosen itu pernah atau sedang terlibat dalam kegiatan konsultasi bisnis sebagai konsultan namun belum ada pengalaman langsung berbisnis maka mereka ini pun kurang pas untuk mengampu matakuliah kewirausahaan.

Jalan yang terbaik mengatasi persoalan minimnya tenaga pengajar berkualitas adalah agar pihak PT mesti pro-aktif untuk menjalin hubungan simbisosis mutualistis dengan kalangan bisnis dan industri. Tujuan semula dengan adanya matakuliah ini dapat diwijudnyatakan secara benar dan tepat. Namun demikian meski misalnya PT telah memperoleh "pasokan dosen" dari kalangan yang berpengalaman di dunia usaha dan industri tidak serta merta akan berhasil karena tidak semua orang memiliki bakat dan minat untuk mengajar. Persoalan metodologi pengajaran matakuliah kewirausahaan merupakan satu hal penting yang perlu diperhatikan pula.

Pihak PT tentu perlu menghargai dosen pengampu kewirausahaan yang memiliki kompetensi berbisnis sekaligus bisa berlaku sebagai motivator mahasiswa dan mempunyai latar belakang kepelatihan (training) dan pengajaran (teaching) yang memadai baik teori dan praktek. Pengalaman saya sebagai dosen pengampu matakuliah kewirausahaan menunjukkan bahwa komitmen PT untuk memerhatikan dan memanfaatkan dosen pengampu yang memenuhi kritieria tersebut diatas masih rendah bahkan nyaris tak tampak. Jikalau pihak PT memiliki kerjasama dengan dunia usaha dan industri pihak PT tidak melibatkan secara benar dan serius dosen-dosen pengampu kewirausahaan yang kompeten.

Kreativitas dosen kewirausahaan bisa jadi mandek diakibatkan iklim tidak kondusif untuk mengembangkan kreativitas dan daya-daya softskills lainnya seperti inisiatif dan inovatif. Padahal daya-daya softskills tersebut merupakan bagian penting dan utama serta menjadi prioritas dalam penggemblengan mahasiswa untuk menjadi pebisnis handal. Apabila suasana, kondisi dan iklim untuk berkiprah lebih lanjut tidak tersedia maka signifikansi antara proses dan hasil tak akan bertemu sebagaimana mestinya. Alhasil, pembelajaran kewiarausahaan di PT menjadi sia-sia dan mubazir. Wallahu a'lam. (umm.ac.id)

Related posts