Butuh Modal, Tiphone Rencanakan Rights Issue - Danai Ekspansi Bisnis Usaha

NERACA

Jakarta – Ambisi PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) untuk mempekuat pangsa pasar seluler di Indonesia menjadi fokus perseroan tahun ini. Kendatipun, bisnis seluler dihadapkan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Maka untuk memperkuat modal dalam pengembangan bisnisnya, PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk bakal melepas 10-30 saham ke PT Pins Indonesia salah satu anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Sekretaris Perusahaan PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk, Samuel Kurniawan mengatakan, pelepasan saham tersebut mendapat persetujuan pemegang saham. "Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham luar biasa, kami mendapat persetujuan dari pemegang saham untuk melakukan Non Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMTD) atau privat placement 10%-30% untuk memperkuat permodalan perusaaan,”ujarnya di Jakarta, Selasa (24/6).

Dia menuturkan, rencana pelepasan saham ini baru pihak Pins yang berminat membeli dan belum ada perusahaan lain yang akan membeli saham Tiphone melalui tanpa HMTD tersebut. Disebutkan, kemungkinan bila Pins membeli 10% saham Tiphon, nilainya kisaran Rp500 miliar. "Maksimal kan bila beli 15% dari tanpa HMTD, jika di atas itu sampai 30% diskusi dengan pemegang saham atau pemiliknya," kata Samuel.

Samuel mengatakan nilai saham jika sampai 30 kisaran Rp800 miliar. Hal ini disebabkan, karena masih ada waran bila dibeli sampai 30%. Lalu target tanpa HMTD tersebut, Samuel mengatakan secepatnya akan terealiasi. Perkiraan sebelum lebaran tahun ini. "Begitu ok langsung lakukan kuartal tiga, bulan depan sebelum lebaran lebih cepat,”tuturnya.

Tahun ini, perseroan mengalokasikan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 139 miliarsepanjang tahun 2014 ini. Rencananya, dana capex akan digunakan untuk berbagai kegiatan pengembangan usaha dan penambahan modal kerja perseroan."Capex tahun ini Rp 139 miliar. Dananya akan digunakan untuk pembangunan depo, pembangunan outlet, pembelian kendaraan, pembelian gudang,office equipment,”kata Samuel.

Lebih lanjut, Samuel menuturkan dana capex akan berasal dari dana kas internal. Tercatat, sampai dengan triwulan pertama tahun ini, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 60,737 miliar atau naik sebesar 17% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp 51,864 miliar.

Menurutnya, kenaikan laba bersih ini didorong oleh peningkatan pendapatan bersih perseroan sebesar 52% dari Rp 1,978 triliun di triwulan I 2013 menjadi Rp 3 triliun di periode serupa tahun ini.

Kata Direktur Utama PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk, Tan Lie Pien, baik penjualan voucher maupun seluler memberikan peningkatan kontribusi pada pendapatan konsolidasi perseroan pada triwulan pertama, “Dimana sekitar 63,2% dari total pendapatan perseroan saat ini masih disumbangkan oleh penjualan voucher selular,”jelasnya.

Dirinya juga menyakini, bisnis ponsel kedepan masih positif dan menjanjikan. Pasalnya, bisnis ponsel dari smartphone yang akan jadi katalisnya. "Untuk prospek penjualan ponsel masih baik karena sekarang ini akan replace hadset menjadi smartphon. Sebab statistik smartpohn masih 12% pasarnya,”paparnya.

Tan mengatakan saat ini banyak orang yang suka dengan ponsel yang ada watshap dan PIN BBM. Apalagi bila ponselnya tidak ada dua fiture tersebut bisa menjadi tidak gaul,”Dengan penawaran gencar orang nggak pede nggak punya WA dan PIN yang kami rasakan event smartphon diserbu pembeli,"ungkapnya. (bani)

Related posts