Citibank Siap Memasuki Era Transaksi Digital

NERACA

Jakarta - Citibank Indonesia meluncurkan layanan perbankan digital untuk memudahkan nasabah korporasi melakukan dan mengawasi transaksi keuangan perusahaan. "Rangkaian layanan dan produk perbankan yang kami perkenalkan akan membantu dalam mempercepat pengambilan keputusan strategis bisnis bagi nasabah korporasi," kata Citi Country Officer Citibank Indonesia, Tigor M Siahaan di Jakarta, Selasa (24/6).

Dia mengatakan Citibank memperkenalkan layanan "Citi Direct Banking Evolution (BE)" dengan fitur "Payment Analytics". Layanan itu menurut dia, memberikan visibilitas dari keseluruhan data pembayaran nasabah melalui tampilan "dashboard" interaktif sesuai dengan keperluan nasabah.

"Fitur lainnya adalah 'CitiDirect BE' seperti 'Receivables Vision' yang dapat menampilkan proses data penerimaan untuk membantu nasabah dalam mengoptimalkan manajemen keamanan dan meningkatkan efisiensi likuiditas," ujarnya. Tigor menjelaskan, fitur populer lain dari CitiDirect Be adalah CitiDirect Be Mobile yang memungkinkan nasabah menerima notifikasi transaksi melalui pesan singkat atau SMS.

Selain itu, menurut dia, fitur tersebut juga dapat melihat posisi saldo kas dan melakukan otorisasi transaksi pembayaran melalui perangkat "telepon cerdas" atau "tablet" tanpa batasan waktu dan lokasi.

"Meskipun layanan CitiDirect BE bisa diakses melalui komputer, 'smartphone' atau 'tablet' dan dimanapun, namun kecepatan dan keamanan penggunaan layanan ini telah diperhatikan serta diuji secara khusus oleh tim Citi Innovation Lab di Singapura dan Dublin, Irlandia," katanya.

Managing Director Treasury and Trande Solutions Citibank Indonesia, Riko Tasmaya menambahkan, rangkaian layanan dan produk tersebut dapat mendukung gaya hidup para nasabah korporasi yang cenderung lebih "mobile". Menurut dia, melalui layanan CitiDirect BE Mobile, para nasabah tetap dapat mengontrol dan melakukan transksi keuangan perusahaan walaupun harus melakukan kegiatan lain di luar kantor.

"Selain CitiDirect BE, Citibank juga menawarkan 'Treasury Vision' sebuah layanan berbasis web yang memungkinkan nasabah memantau posisi keuangan perusahaan secara keseluruhan, melakukan perkiraan, serta mengelola likuiditas global dan risiko perusahaan secara lebih efektif," ujarnya.

Riko mengatakan, perusahaannya juga menghadirkan Citi Manager yang setiap saat dapat mengkonsolidasi penggunaan kartu kredit perusahaan ke dalam layanan portal yang bersifat ramah terhadap pengguna. Hal itu, menurut dia, untuk meningkatkan pengendalian serta mempermudah manajemen penggunaan "corporate cards" atau kartu kredit perusahaan.

Bank didorong agresif

Sementara Direktur Eksekutif Sistem Pembayaran BI, Rosmaya Hadi, mendorong perbankan semakin agresif mengimplementasikan sistem layanan pembayaran digital. Ini dilakukan untuk mendorong pembayaran non tunai atau cashless society.

Dia mengatakan tren sistem pembayaran perbankan dalam negeri semakin positif terutama ke arah layanan digital. Bahkan, perbankan juga mulai berlomba-lomba saling berinovasi dalam memperkenalkan produk pembayaran.

Program cashless society yang dilakukan bank sentral, sudah mampu mengarahkan masyarakat untuk meminimalisir pembayaran uang tunai. Hal ini dilakukan untuk menekan uang tunai yang beredar di masyarakat. "Dengan melakukan sistem pembayaran non cash artinya kan perbankan tersebut lebih efisiensi dan tidak lupa soal keamanan juga sangat penting diperhatikan perbankan,” ungkapnya.

Nilai tambah

Managing Director Financial Services Accenture Indonesia, Hendra Godjali pernah bilang, sektor perbankan harus mengantisipasi hal ini dengan memanfaatkan serta mentransformasi produk dan layanan perbankan tradisional menjadi layanan berbasis digital.

"Mereka perlu menggunakan teknologi untuk menciptakan fungsi perbankan yang memiliki nilai tambah dalam kehidupan para pelanggannya," ujar dia saat acara Seminar Nasional bertajuk "Layanan Perbankan Digital: Menembus Batas di Era Digital", di Jakarta, belum lama ini.

Dia menjelaskan, masa depan perbankan akan didominasi oleh transaksi online dan melalui perangkat bergerak. Sedangkan layanan perbankan yang dilakukan di kantor-kantor cabang diperkirakan tidak akan mencapai 5%. "Perbankan Indonesia akan menghadapi ancaman dari pendatang baru digital yang semakin serius menggarap layanan keuangan dan dapat mengambil alih pasar ritel perbankan," kata dia.

Hendra menyebutkan, pada 2020, lebih dari 30% pendapatan perbankan terancam akan diambil alih oleh para kompetitor dan tren-tren terbaru. "Kami memperkirakan bahwa satu per tiga pangsa pasar bank tradisional akan terancam pada tahun 2020 akibat pendatang baru. Bank-bank harus mampu memberikan lebih dari sekadar layanan perbankan sehingga mereka akan lebih dipercaya dan dibutuhkan," tandasnya. [ardi]

Related posts