Wait And See, IHSG Bergerak Konsolidasi

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya harus menyerah terkoreksi seiring sepinya transaksi di pasar modal dan minimnya sentiment positif. Pelaku pasar memilih aksi tunggu menjelang pilpres yang hanya tinggal menghitung hari.

Tercatat indeks BEI ditutup melemah tipis 5,572 poin (0,11%) ke level 4.842,129. Sementara Indeks LQ45 berkurang 0,340 poin (0,04%) ke level 817,862, “Indeks BEI tertekan seiring dengan aksi lepas saham oleh investor asing sehingga kekuatan naik kembali tertahan,”kata analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya di Jakarta, Senin (23/6).

Dalam data perdagangan BEI, pelaku pasar asing membukukan jual bersih (foreign net sell) sebesar Rp230,850 miliar pada awal pekan. Kendati demikian, menurut William Surya wijaya, pergerakan indeks BEI yang cenderung mendatar itu secara teknikal menunjukkan koreksi sudah mulai cenderung terbatas sehingga potensi penguatan bisa dimanfaatkan pelaku pasar sebagai peluang,”Dalam fase konsolidasi ini, pelaku pasar biasanya melakukan investasi untuk jangka pendek, ada baiknya pemilihan saham secara selektif dalam melakukan pembelian," katanya.

Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan keadaan saham-saham di dalam negeri yang sudah berada dalam area jenuh jual (oversold) memberikan indikasi bahwa keadaan bisa berubah lebih positif untuk indeks BEI kembali menguat ke level 4.890-4.920 poin,”Pelaku pasar direkomendasikan mengakumulasi secara moderat dalam beberapa saham seperti Astra International (ASII), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), United Tractor (UNTR), Ace Hardware Indonesia (ACES),”ujarnya.

Pada perdagangan kemarin, tak banyak pergerakan terjadi di lantai bursa. Investor juga tidak terlalu bersemangat dalam bertransaksi. Hanya empat sektor yang berhasil menguat, yaitu agrikultur, aneka industri, infrastruktur, dan manufaktur. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 163.169 kali pada volume 5,05 miliar lembar saham senilai Rp 4,341 triliun. Sebanyak 104 saham naik, 162 turun, dan 93 saham stagnan.

Mayoritas bursa Asia sore menutup perdagangan di zona merah. Aksi jual terjadi di tengah kekhawatiran konflik di Irak yang bisa mendorong naiknya harga minyak dunia. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Saratoga (SRTG) naik Rp 225 ke Rp 4.800, United Tractor (UNTR) naik Rp 175 ke Rp 22.7825, Link Net (LINK) naik Rp 150 ke Rp 5.775, dan Bukit Asam (PTBA) naik Rp 125 ke Rp 10.725.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Lion Metal (LION) turun Rp 500 ke Rp 11.500, Matahari (LPPF) turun Rp 475 ke Rp 13.500, Indocement (INTP) turun Rp 250 ke Rp 23.100, dan Gowa Makassar (GMTD) turun Rp 200 ke Rp 6.800.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup menguat tipis 4,155 poin (0,09%) ke level 4.851,856. Sementara Indeks LQ45 menguat tipis 1,844 poin (0,23%) ke level 820,046. Tak banyak pergerakan terjadi di lantai bursa. Investor juga tidak terlalu bersemangat dalam bertransaksi. Empat sektor melemah, yaitu sektor tambang, industri dasar, konsumer, dan konstruksi.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 91.139 kali pada volume 2,603 miliar lembar saham senilai Rp 2,23 triliun. Sebanyak 94 saham naik, 139 turun, dan 89 saham stagnan. Bursa regional kompak menguat hingga sesi pertama, dipimpin oleh pasar saham Hong Kong. Meski menguat namun pergerakan bursa di Asia masih dalam rentang yang tipis.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah United Tractor (UNTR) naik Rp 275 ke Rp 22.825, Matahari (LPPF) naik Rp 250 ke Rp 14.225, Link Net (LINK) naik Rp 175 ke Rp 5.800, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 150 ke Rp 27.125. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Golden Energy (SMMT) turun Rp 200 ke Rp 6.125, Gowa Makassar (GMTD) turun Rp 200 ke Rp 6.800, Siantar Top (STTP) turun Rp 200 ke Rp 3.100, dan Bayan (BYAN) turun Rp 125 ke Rp 7.575.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik 10,22 poin atau 0,21% menjadi 4.857,92 sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 2,66 poin (0,33%) ke level 820,87,”Penguatan teknikal terjadi pada IHSG BEI setelah mengalami koreksi sekitar 2,5% sejak 12 Juni lalu," kata Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah.

Menurut dia, dalam kondisi itu pelaku pasar cenderung memanfaatkan saham-saham yang telah terkoreksi untuk diakumulasi kembali pada pekan ini. Kendati demikian, lanjut dia, depresiasi nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak mentah masih membayangi pergerakan indeks BEI dan menjadi isu utama pada pekan ini.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 109,51 poin (0,47%) ke level 23.303,57, indeks Nikkei naik 49,41 poin (0,32%) ke level 15.398,83 dan Straits Times menguat 4,52 poin (0,14%) ke posisi 3.263,32. (bani)

Related posts