Wismilak Jajaki Ekspor Filter ke Thailand

NERACA

Jakarta - Potensi pasar filter atau penyaring di industri rokok di dunia masih sangat terbuka mendorong produsen rokok dan filter, PT Wimilak Inti Makmur Tbk melebarkan sayapnya di pasar Asia. Setelah berhasil memasuki pasar Makau dan Taiwan di tahun lalu, Wismilak menjajaki pasar ekspor produk filternya ke negara Thailand di tahun ini."Kebutuhan filter masih sangat besar, sementara produsen filter tidak banyak. Untuk produsen rokok yang besar seperti Djarum atau Gudang Garam sudah punya produk filter sendiri. Kita layani yang tidak memiliki produk filter sendiri," ungkap Corporate Secretary Wismilak Surjanto Yasaputera di Jakarta, Senin (23/6).

Dia menyebutkan, untuk pasar lokal, market share filter Wismilak saat ini mencapai 25%. Namun untuk pemasarannya, dia berharap bisa berimbang untuk pasar filter lokal dan ekspor. "Memang kontribusi produk filter ke total penjualan masih di bwh 10%. Tetapi ke depan bisa diperbesar. Karena pemainnya tidak banyak. Jadi semakin tinggi produksi rokok, pasar filter juga akan mengikuti," kata Surjanto.

Memang, sejauh ini bisnis inti Wismilak adalah memproduksi kretek dengan persentase sebanyak 94%. Sisanya, 6% adalah produksi rokok putih. Kapasitas produksi rokok sendiri saat ini mencapai 4,6 miliar batang per tahun. "Ini tumbuh 20% dari tahun lalu. Total kapasitas ini cukup untuk target bisnis kita dalam 2 -3 tahun ke depan," papar dia.

Sementara terkait kewajiban industri mulai 24 Juni 2014 menyertakan gambar penyakit akibat merokok pada kemasan, menurut Surjanto, pihaknya sudah mengantisipasi. "Peringatan itu sebenarnya pesanya sama dengan peringatan bahaya merokok yang selama ini sudah ada di tiap kemasan."

Dia pun menilai, Industri rokok yang sat ini tumbuh di kisaran 4-6% mempekerjakan sekitar 7% dari penduduk Indonesia. "Kalau industri dimatikan, 7% pendudukan akan kehilangan pendapatan. Tetapi rencana pemerintah pasti pertimbangkan dengan soal penerimaan negara," ujar Surjanto.

Diplomat Success Challenge

Kemudian sebagai tanggung jawab sosial perusahaan pada dunia usaha, tahun ini Wismilak kembali menggelar program "Diplomat Success Challenge" sebagai ajang pencarian calon pengusaha handal dengan ide bisnis yang inovatif. Penyelenggaraan ini adalalah yang ke 5 sejak 2010, dengan total hadiah modal usaha sebesar Rp1 miliar.

Surjanto menjelaskan, pertumbuhan wirausaha muda sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Maka dari itu, potensi tersebut harus disuport dari sisi modal juga pendampingan sehingga dapat berusaha secara efektif dan efisien."Tahun 2010 jumlah wirausaha sekitar 0,7% dari total penduduk. Tahun ini sudah naik jadi 1,5%. ini potensi besar yang harus didorong. Minimal nanti capai 2% dari total penduduk," kata Surjanto.

Antarina S.F. Amir, salah satu Dewan Juri Diplomat Success Challenge 2014, mengatakan bahwa persentase usia produktif saat ini mencapai 25% dari total penduduk. "Usia 20-40 tahun di masyarakat kita itu lebih besar dari China. Maka harus jadi produsen, bukan semata konsumen. Jadi kita butuh program pendidikan yang diakselerasi dengan program pengembangan SDM dan wirausaha," kata Antarina di kesempatan yang sama.

Ada beberapa prinisp dasar dalam pengembangan kewirausahaan yang dibangun dalam program Diplomat Success Challenge, yakni paham pengetahuan bisnis, piawai menjalankan bisnis, dan punya persona (karakter) dalam menghadapi tantangan. "Sejauh ini sudah 1.700 ide bisnis yang diajukan dalam program DSC 2014," ungkap Surjanto.

Dari beragam proposal yang masuk tersebut, nantinya akan diseleksi menjadi 3 pemenang. Dikatakan Surjanto, ide yang dimenangkan adalah proposal yang bisa diaplikasikan. Dan agar berjalan, Wismilak menggandeng Ganesha Entrepreneur Corporation, istitusi entrepreneurship bentukan alumni Isntitut Teknologi Bandung dalam pendampingan pememang."Jadi setelah dapat modal, nanti para pemenang didampingi oleh tim Ganesha minimal satu tahun," ungkap Surjanto. (bani)

Related posts