Pemerintah Kejar Pendapatan Masyarakat US$20 Ribu

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengklaim bahwa pendapatan per kapita Indonesia selama kurun satu dekade terakhir mengalami peningkatan 5%-6%. Melihat kondisi itu, kini pemerintah menargetkan Indonesia dapat meraih pendapatan per kapita masyarakat US$20 ribu per kapita per tahun.

"Beberapa kurun waktu belakangan, pendapatan masyarakat tidak jelek sama sekali kalau dibandingkan dengan negara lain," kata Bayu di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, data demografis menunjukkan penduduk Indonesia saat ini didominasi orang berusia sekitar 30 tahun. Pendapatan per kapita kini mencapai US$4.500 per tahun.

"Sebelum tua, pensiun, dan berusia 50 tahun, orang Indonesia harus kaya dengan pendapatan US$20 ribu per tahun. Mereka harus kaya sebelum tua. Itulah tantangan besar bangsa Indonesia," kata Bayu.

Untuk dapat mewujudkan itu, pemerintah pun terus berupaya meningkatkan pembangunan, menggenjot pertumbuhan ekonomi, serta mengurangi jurang kesenjangan masyarakat.

Adapun masalah yang dihadapi sekarang adalah penurunan lapangan kerja karena iklim investasi yang kurang efisien. Selain itu, rasio pajak merosot serta harga komoditas di pasar internasional pun sedang anjlok.

Namun, Bayu meyakini bahwa target pendapatan per kapita masyarakat itu bisa tercapai jika Indonesia bisa meraih dua kunci utama.Yaitu pada pembangunan infrastruktur dan meningkatkan potensi sumber daya manusia.

Sedangkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bappenas, memperkirakan Indonesia masih berpeluang meningkatkan pendapatan perkapita pada 2030 di angka 16.618 asalkan syarat pertumbuhan terpenuhi.

Sebaliknya, jika rata-rata pertumbuhan ekonomi setiap tahun hanya 6%, pertumbuhan pendapatan perkapita Indonesia pada 2030 diperkirakan hanya US$8.531.

Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan pendapatan perkapita Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya. Menurutnya, Indonesia cuma unggul dari Vietnam, Myanmar dan Filipina.

“Dibandingkan Thailand atau Malasyia memang kita masih di bawah. Akan tetapi, kita jangan pesimistis, justru kita punya ruang untuk meningkat, yakni dengan cara meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 10% per tahun,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pendapatan perkapita Indonesia 2013 tercatat Rp36,5 juta atau tumbuh 9% dari tahun lalu Rp33,5 juta. Adapun, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun lalu sebesar 5,78%.

Bappenas menilai Indonesia memiliki kesempatan mencapai pendapatan perkapita US$16.618 pada 2030 mendatang, apabila pertumbuhan ekonomi tiap tahun mencapai 10%. Akan tetapi, pemerintah perlu memperhatikan terlebih dahulu produktivitas tenaga kerja.

Lukita menuturkan jalan terbaik meningkatkan produktivitas tenaga kerja adalah mendorong perkembangan industri pengolahan atau manufaktur. Artinya, tenaga kerja yang ada di sektor primer seperti pertanian maupun tambang harus mulai dikurangi.

Kendati demikian, pergeseran sektor industri pengolahan terhambat dari sisi pendidikan. Seperti diketahui, lebih dari 50% tenaga kerja Indonesia berpendidikan SD. Oleh karena itu, Lukita juga berpendapat sudah waktunya Indonesia menerapkan sekolah 12 tahun.

“Ini harus disiapkan dari sekarang. Tantangan pada masa mendatang cukup banyak, misalnya MEA, bonus demografi, ASEAN Post 2015, hingga perubahan iklim. Ini kondisi yang tidak mungkin kita hindari. Oleh karena itu, kita harus prioritaskan ini,” pungkasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

BIROKRASI KURANG RAMAH HAMBAT INVESTASI - Istana Tak Terobsesi Kejar Pertumbuhan Tinggi

Jakarta-Istana Kepresidenan menyatakan pemerintah tak terobsesi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi selangit di tengah situasi ekonomi global yang sedang melambat seperti…

Pemerintah Akan Terapkan B30 untuk Kurangi Porsi Impor Bahan Bakar

Pemerintah Akan Terapkan B30 untuk Kurangi Porsi Impor Bahan Bakar  NERACA  Jakarta – Kepala Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya…

Pendapatan Grahamas Citrawisata Turun 10,13%

Semester pertama 2019, PT Grahamas Citrawisata Tbk (GMCW) mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 10,13% menjadi Rp13,3 miliar dari periode yang sama…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

LIPI : UU Sisnas Iptek Lompatan Besar Dunia Iptek

    NERACA   Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia optimistis keberadaan Undang-undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU…

Sky Energy Luncurkan Produk Teringan di Dunia - Pembangkit Tenaga Surya

      NERACA   Jakarta - Kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi. Pada 2019, kebutuhan listrik dunia…

Dua Tantangan Perpajakan Di Era Ekonomi Digital

    NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan mengungkapkan terdapat dua tantangan utama yang harus dihadapi Direktorat…