Festival Meriam Karbit di Pontianak - Melestarikan Tradisi Masyarakat Melayu

Salah satu permainan tradisional Nusantara, yaitu meriam karbit dari Pontianak akan memeriahkan malam takbiran menjelang Hari Raya Lebaran 1435 Hijriah. Sebanyak 43 kelompok meriam karbit siap bertempur di tepian Sungai Kapuas, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Alham, ketua I Forum Komunikasi Tradisi Meriam Karbit Seni dan Budaya Pontianak, mengutarakan bahwa festival tahunan ini diselenggarakan untuk melestarikan tradisi masyarakat Melayu Kota Pontianak. Kali ini tradisi itu pun dilombakan. Festival Meriam Karbit ini memperebutkan piala dari Pemerintah Kota Pontianak. Sementara itu, dewan juri berasal dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat dan Kota Pontianak.

Masing-masing kelompok akan dinilai berdasarkan bunyi meriam mereka. Satu kelompok bisa memiliki meriam maksimal lima buah. Di sinilah kekompakan bunyi meriam juga mempengaruhi penjurian. Sebelumnya setiap meriam yang diikutsertakan terlebih dahulu akan dihias dengan beragam dekorasi, latar diwajibkan berbentuk masjid dan tubuh meriam harus bermotif bunga. Hanya meriam sesuai kriteria yang dapat mengikuti penilaian.

Atraksi permainan meriam karbit memiliki sejarah yang menarik. Konon, Kesultanan Kadriah Pontianak yang berdiri pada 1771-1808, membunyikan meriam demi mengusir hantu-hantu kuntilanak yang gentayangan di Kota Pontianak. Bunyi kerasnya juga sering digunakan untuk menandakan waktu azan Maghrib.

Seiring berjalannya waktu, meriam karbit dihidupkan menjadi daya tarik pariwisata. Meriam yang dimaksud bukanlah senjata yang digunakan oleh VOC namun meriam tradisional yang dibuat dari kayu durian ataupun pohon kelapa yang cukup keras. Kayu dibelah dan diikat dengan tali rotan seberat 100 kilogram per meriam. Setelah itu, meriam dibersihkan dan diberi cat dengan warna yang menarik.

Untuk membuat lima unit meriam, setidaknya membutuhkan biaya sekitar Rp15 juta hingga Rp30 juta, tergantung persediaan kayu meriam yang sudah dimiliki peserta. Jika sudah pernah mengikuti kompetisi ini, biaya yang dikeluarkan semakin ringan.

BERITA TERKAIT

DPR Imbau Masyarakat Waspadai Peredaran Uang Palsu

DPR Imbau Masyarakat Waspadai Peredaran Uang Palsu NERACA Sukabumi - Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan menghimbau agar seluruh…

DPRD Jabar: BPSK Harus Perbanyak Sosialisasi ke Masyarakat

DPRD Jabar: BPSK Harus Perbanyak Sosialisasi ke Masyarakat NERACA Bandung - DPRD Jawa Barat (Jabar) menyatakan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen…

Lewat Program Kampung Bersahaja - Zurich Indonesia Cipatakan Masyarakat Tangguh

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan dalam pemberdayaan masyarakat, perusahaan asuransi Zurich Indonesia meluncurkan program “Kampung Zurich Bersahaja”, sebuah…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Ekowisata Kalimantan, Cara Pelesir Asyik di Paru-paru Dunia

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada tahun 2014-2015 setidaknya 0,82 juta hektare (Ha) hutan Indonesia hilang pertahunnya akibat…

Natuna Resmi Berstatus Geopark Nasional

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyambut baik penetapan kawasan Geopark Nasional di Kabupaten Natuna. Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Arif…

Menyusuri Alam Tambrauw Papua Barat

Sebagai sebuah provinsi Papua Barat terbilang muda, namun bentang dan guratan alam di sini sudah sama tuanya dengan daerah-daerah eksotis…