Festival Budaya Melanesia di PNG

Indonesia melalui perwakilan empat provinsi, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dipastikan mengirim delegasinya untuk mengkuti perhelatan Festival Budaya Melanesia V (FBM V) di Pantai Kokopo, Kabupaten Pomio, Provinsi Britania Baru, Papua Nugini pada 28 Juni- 11 Juli 2014.

Papua Barat akan membawa dua tim tari dari Jayapura dan Kabupaten Keerom, sekaligus menjadi tamu kehormatan pada acara pembukaan. Selain itu, potensi Papua Barat seperti buah merah dan batik papua juga akan ditampilkan. Menurut Suzan Wanggai, Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Luar Negeri Provinsi Papua, delegasi asal Papua sudah siap diberangkatkan dan terus melakukan koordinasi dengan panitia setempat.

Keikutsertaan Provinsi Papua bertujuan untuk membidik kerjasama antar satu rumpun Melanesia. Jika selama ini hanya menjalin hubungan dengan PNG, Papua juga ingin akrab dengan Fiji, Salomon, Vanuatu dan Kaledonia.

FBM sendiri merupakan perhelatan yang diikuti oleh negara anggota Melanesia Spearhead Group (MSG). Pada empat festival sebelumnya, peserta FBM terdiri dari Kaledonia Baru, Kepulauan Solomon, vanuatu, Fiji dan Papua Nugini. Tahun ini berbeda karena Indonesia, Timor Leste dan Kepulauan Selat Torres diikutsertakan.

FBM pertama kali diselenggarakan di Kepulauan Solomon pada 1998. Kemudian secara bertahap berkembang menjadi acara tahunan untuk melindungi dan melestarikan budaya Melanesia yang beragam. Suku bangsa Melanesia tersebar di beberapa negara di kawasan Pasifik, termasuk Indonesia.

Melanesia sendiri adalah sebuah wilayah yang memanjang dariPasifikbarat sampai keLaut Arafura, utara dan timur lautAustralia. Istilah ini pertama kali digunakan oleh penjelajah PrancisJules Dumont d'Urvillepada 1832 untuk menunjuk ke sebuah kelompok etnisdan pengelompokan pulau-pulau yang berbeda dari PolinesiadanMikronesia.

Sekarang ini,klasifikasi"rasial" Dumont d'Urville dianggap tidak tepat sebab dia menutupi keragaman budaya, linguistik, dan genetik Melanesia dan sekarang ini hanya digunakan untuk penamaan geografis saja.

Sebagai tambahan, negaraFiji,Papua Nugini,Kepulauan Solomon,Vanuatu, danKaledonia Baru(yang merupakan dependensiPerancis) menggunakan istilah ini untuk menggambarkan diri mereka sendiri karena mencerminkan sejarah kolonial dan situasi regional umum yang serupa.

BERITA TERKAIT

Menkop dan Menpar Membuka Sanur Village Festival 2019

Menkop dan Menpar Membuka Sanur Village Festival 2019   NERACA Denpasar - Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga bersama Menteri Pariwisata…

Hoax Bukan Budaya Indonesia

  Oleh : Rizal Adi Pradana, Pemerhati Komunikasi Masyarakat             Sebelum mengurai tentang konsep hoax, perlu dipahami terlebih dahulu tentang…

Implementasi Budaya Anti Korupsi, BTN Kerjasama dengan KPK

      NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (BTN) menjalin kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Mengenal Kawasan Wisata Pandanan yang Ludes Terbakar

Kawasan wisata Bukit Pandanan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, terbakar mulai Minggu lalu. Seperti dilansir Antara, kebakaran itu terjadi…

Populasi Penyu Menurun, Warga Tulungagung Menjaga Pantai

Populasi penyu yang menepi dan beraktivitas di sekitar pesisir pantai Tulungagung, Jawa Timur, disinyalir terus mengalami penurunan akibat perburuan satwa…

Pariwisata Indonesia Belum Terimbas Karhutla

Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi setiap tahun di beberapa provinsi di Indonesia, dinilai tidak mengganggu sektor…