Berlina Bakal Kembali Naikkan Harga Jual - Imbas Dari Rugi Kurs

NERACA

Jakarta –Imbas dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, menjadi alasan PT Berlina Tbk (BRNA) yang merupakan perusahaan pengolah biji plastik untuk berencana menaikkan harga jual produknya.

Direktur Berlina Roberto Bernhardeta mengungkapkan, sampai dengan kuartal-I tahun ini perseroan telah menaikkan harga jualnya sebanyak 5% hingga 10% dibandingkan periode Desember 2013,”Sampai dengan tiga bulan pertama rata-rata kenaikan harga sudah mencapai lima hingga 10%, tergantung dari produknya. Karena pabrik di Indonesia itu hampir 60% bahan baku didatangkan secara impor dari luar negeri," katanya di Jakarta, kemarin.

Oleh karena itu, perseroan menetapkan ambang batas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada tahun ini di kisaran Rp 12.00 per dollar AS.Lebih lanjut, Roberto menuturkan kenaikan harga jual dalam rangka mengejar target pertumbuhan kinerja yang sebesar 20% hingga 25%.

Dirinya menuturkan, dengan kenaikan harga jual tersebut, target penjualan perseroan tahun ini tumbuh 20-25% atau menjadi berkisar antara Rp 1,2 triliun hingga Rp 1,3 triliun diharapkan bisa terealisasi. Tercatat, sampai dengan kuartal-I tahun 2014 perseroan telah berhasil untuk membukukan penjualan sebesar Rp 309,8 miliar atau tumbuh sekitar 39% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 222,96 miliar.

Hal yang sama juga terjadi pada laba bersih perseroan yang mengalami peningkatan lebih dari 300% menjadi Rp 25,12 miliar apabila dibandingkan dengan laba bersih di kuartal-I 2012 yang hanya mencapai Rp 8,5 miliar.

Asal tahu saja, guna menopang target penjualan tahun ini akan didorong oleh peningkatan volume produksi sebesar 25%. Pasalnya, dengan meningkatnya volume produksi, tentunya targetkan peningkatan penjualan sebesar 25% bisa tercapai. Pada akhir tahun 2013 lalu, kapasitas produksi perseroan sebesar 22.700 ton. Artinya, hingga akhir tahun ini diproyeksikan kapasitas produksi akan mencapai 28.375 ton.Untuk memuluskan ambisinya tersebut, produsen bahan baku plastik ini siap menyuntikkan dana belanja modal atau (capital expenditure/capex) sebesar Rp 150 miliar.

Roberto mengungkapkan bahwa sekitar 20% dari capex akan didapatkan dari kas internal perseroan. Sedangkan, 80% sisanya akan didapatkan melalui pendanaan eksternal baik itu pinjaman perbankan maupun dari lembaga pembiayaan nonbank,”Sebagian besar dana capex itu untuk penambahan kapasitas produksi," terangnya.

Menurut Robert, perseroan akan mendatangkan mesin-mesin produksi dari luar negeri. Perseroan akan menggunakan fasilitas L/C (letter of credit) sebagai salah satu sarananya. Untuk pembayaran L/C-nya sendiri akan dilakukan pada tahun depan."Kita baru akan tarik pinjaman tahun depan sekitar 10 juta dolar AS," tukasnya.

Operasikan Anak Usaha

Disamping itu, perseroan bakal mengoperasikan salah satu entitas usahanya yang dibentuk pada tahun 2013 lalu, PT Natura Plasindo. Sekretaris Perusahaan Berlina Karsono menuturkan, saat ini perseroan tengah berupaya untuk merampungkan proses perizinan terkait dengan sumber daya,”Setelah pemilu, targetnya sudah bisa mulai beroperasi,"ungkapnya.

Natura Plasindo merupakan pengolahan biji plastik. Adapun, kapasitas produksi dari pabrik ini mencapai 400 ton per bulan atau sekitar 4.800 ton per tahun.Nantinya, penjualan dari barang produksi ini memang memiliki harga jual yang lebih rendah, namun margin labanya sama dengan barang produksi milik perseroan lainnya.

Kemudian hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) menyetujui untuk tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham. Dijelaskan, ketidakmampuan perseroan untuk memberi dividen disebabkan kerugian yang masih mendera perseroan. Meski pada tahun 2013 laluperseroanberhasil membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 15% dibandingkan dengan tahun 2012, tetapi penjualan tidak diikuti dengan laba bersih perseroan. Perseroan mengalami kerugian sebesar Rp 9 miliar pada tahun 2013.

Kerugian yang dialami perseroan disebabkan karena terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing sebesar 26% terutama pada semester kedua tahun 2013.Sementara itu, pertumbuhan pendapatan dihasilkan dari penjualan organik dari perusahaan maupun anak perusahaan serta adanya akuisisi PT Quantex pada pertengahan tahun 2013. Selain itu, perseroan juga melakukan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dengan hasil mengangkat Roberto Bernhardeta sebagai Direktur Perusahaan.

Sebagai informasi, di sepanjang tahun 2013 Berlina menderita rugi sebesar Rp 9,32 miliar. Padahal, pada tahun 2012 pihaknya mampu mencetak laba sebesar Rp 49,57 miliar. Sementara itu, penjualan bersih perseroan tumbuh di sepanjang tahun 2013 menjadi sebesar Rp 960,99 miliar dari Rp 836,98 miliar. (bani)

Related posts