Awal Pekan, IHSG Berpeluang Unjuk “Gigi”

NERACA

Jakarta –Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan kemarin berada di zona merah akibat dipicu aksi jual investor serta sentiment negatif dari melemahnya nilai tukar rupiah. Kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, aksi jual saham oleh pelaku pasar kembali terjadi di akhir pekan ini sehingga indeks BEI terkoreksi,”Aksi investor itu seiring dengan belum adanya sentimen baru di bursa saham domestik. Sentimennya masih belum berubah yakni kekhawatiran melebarnya defisit neraca perdagangan akibat kenaikan minyak mentah dunia dan terkoreksinya nilai tukar rupiah," kata dia di Jakarta, kemarin.

Kendati demikian, dia menambahkan bahwa masih masuknya dana asing ke pasar modal domestik meski tidak signifikan menahan koreksi lebih dalam. Oleh karena itu, dirinya menyakini, indeks harga saham gabungan (IHSG) Senin awal pekan bakal dibuka menguat seiring masih masuknya dana asing ke pasar modal.

Asal tahu saja, IHSG Jum’at akhir pekan ditutup melemah 16,57 poin atau 0,34% ke posisi 4.847,70. Sementara itu, indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,33 poin (0,28%) ke level 818,20. Tercatat posisi terendah yang sempat disinggahi IHSG ada di level 4.847,701. Aksi jual marak terjadi di saham-saham tambang yang kemarin sempat menghijau.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 149.966 kali pada volume 3,439 miliar lembar saham senilai Rp 3,812 triliun. Sebanyak 114 saham naik, 135 turun, dan 100 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan akhir pekan dengan bervariasi. Konflik di Irak masih menjadi sentimen negatif di mata pelaku pasar regional.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mandom (TCID) naik Rp 500 ke Rp 16.200, Astra Agro (AALI) naik Rp 400 ke Rp 27.400, Unilever (UNVR) naik Rp 325 ke Rp 29.875, dan Golden Eagle (SMMT) naik Rp 225 ke Rp 6.325. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.000 ke Rp 67.500, Indocement (INTP) turun Rp 900 ke Rp 23.350, Pool Advista (POOL) turun Rp 600 ke Rp 2.600, dan Dharma Satya (DSNG) turun Rp 595 ke Rp 3.000.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI dibuka menipis 8,646 poin (0,18%) ke level 4.855,627. Sementara Indeks LQ45 berkurang 1,583 poin (0,19%) ke level 818,945. Investor yang diawal masih berburu saham langsung ikut-ikutan melepas saham siang ini. Tapi tidak semua sektor saham kena koreksi, masih ada yang mampu menguat seperti saham-saham di sektor konsumer, aneka industri, dan manufaktur.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 82.990 kali pada volume 1,459 miliar lembar saham senilai Rp 1,613 triliun. Sebanyak 104 saham naik, 125 turun, dan 72 saham stagnan. Bursa-bursa regional bergerak mix. Pelemahan mata uang regional terhadap dolar AS menjadi sentimen negatif.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 325 ke Rp 53.000, Unilever (UNVR) naik Rp 225 ke Rp 29.775, Panin Sekuritas (PANS) naik Rp 125 ke Rp 5.000, dan Link Net (LINK) naik Rp 125 ke Rp 5.650. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.000 ke Rp 67.500, Indocement (INTP) turun Rp 900 ke Rp 23.350, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 350 ke Rp 26.850, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 325 ke Rp 26.675.

Sebaliknya, diawal perdagangan, indeks BEI dibuka menguat sebesar 11,29 poin atau 0,23% menjadi 4.875,57 didorong faktor teknikal, sedangkan, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 2,24 poin (0,27%) ke level 822,77,”Faktor teknikal mendorong indeks BEI mengalami penguatan pada awal perdagangan, pelaku pasar kembali mengakumulasi saham-saham yang telah terkoreksi pada perdahangan Kamis, (19/6)," kata Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya.

Dia menambahkan, di tengah sentimen pasar saham yang belum stabil, pelaku pasar cenderung melakukan strategi investasi jangka pendek untuk menjaga nilai aset agar tidak tergerus signifikan jika terjadi pembalikan arah ke area negatif.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Aiza mengatakan, beberapa bursa saham di kawasan regional yang menguat menjadi salah satu pendorong indeks BEI,”Penguatan bursa regional itu seiring dengan pernyataan bank sentral AS (the Fed) yang menyatakan ekonomi dalam jalur perbaikan dan ekspektasi suku bunga Fed masih akan dipertahankan di level rendah untuk beberapa waktu ke depan," katanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng menguat 32,75 poin (0,14%) ke level 23.200,48, indeks Nikkei naik 14,66 poin (0,10%) ke level 15.375,82 dan Straits Times melemah 2,66 poin (0,08%) ke posisi 3.268,00. (bani)

Related posts