KAI Menaikkan Harga Tiket Ekonomi - Subsidi Dipangkas

NERACA

Jakarta - Mulai September 2014 mendatangPT Kereta Api Indonesia (KAI) bakal menaikkan tarif ekonomi alasan subsidi dari pemerintah dikurangi. Tidak tanggung-tanggung kenaikan tarif itu mencapai 100% dari harga sekarang.

KAI sudah mengambil sikap menaikkan tarif kereta api (KA) ekonomi jarak menengah dan jauh mulai 1 September 2014. Ini karena dana alokasi subsidi berkurang dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 871 miliar.

Direktur Komersial KAI Bambang Eko Martono mengungkapkan, seluruh KA kelas ekonomi jarak menengah dan jauh mengalami penyesuaian harga, atau kembali ke tarif normal.

"Kita lakukan rapat dengan pemerintah tanggal 10 Juni 2014 kemarin, dan kita sepakat dengan pemerintah dengan adanya penyesuaian PSO/public service obligation (subsidi) ini, tarif ekonomi kembali normal seperti tahun lalu. Besaran kenaikan tarifnya bervariasi," kata Bambang di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sedangkan menurut Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Hermanto Adiatmoko, mengaku pengurangan Rp 352 miliar karena anggaran tersebut untuk membayar kekurangan PSO tahun lalu. Tetapi, kekurangan PSO, ternyata sudah dibayarkan dengan kelebihan anggaran Kemenhub 2013.

"Ini tetap kita berusaha masukan dengan meminta persetujuan dari DPR," jelas Hermanto.

Persetujuan tersebut diprediksi tidak membutuhkan waktu lama, sehingga PSO akan tetap dengan jumlah sama. Kalaupun tetap harus berkurang, kenaikan tarif tidak akan terjadi pada saat Lebaran.

"Kalau naik juga tidak saat Lebaran, itu juga butuh proses dengan persetujuan dulu dari Kemenhub untuk kenaikan tarif kereta," jelasnya.

Tahun ini, pemerintah mengalokasikan dana Public Service Obligation (PSO) perkeretaapian sebesar Rp 1,22 triliun. Dana PSO tersebut melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 668 miliar. Cairnya dana subsidi pemerintah untuk penumpang KA kelas ekonomi ini membuat tarif KA-KA PSO menjadi turun dari tarif tiga bulan sebelumnya.

Jumlah subsidi sebesar Rp 1,2 triliun rencananya, dialokasikan untuk KRL Jabodetabek sebesar Rp 641,457 miliar, KA ekonomi jarak jauh Rp 167,918 miliar, KA Sedang Rp 94,502 miliar, KA Jarak Dekat Rp 284,158 miliar, KRD Ekonomi Rp 29,782 miliar, dan KA Lebaran Rp 6, 488 miliar. [agus]

BERITA TERKAIT

Penerimaan Pajak, Investasi, dan CAD Jadi Momok Ekonomi

Oleh: Djony Edward Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memutuskan menolak pengajuan sengketa hasil Pilpres 2019. Dengan demikian Presiden Jokowi dan Wakil…

Pertumbuhan Stagnan, Ekonomi Sulit Mapan

Oleh: Sarwani Mentok, kata yang pas untuk menjelaskan  pertumbuhan ekonomi tahun ini. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional  (Bappenas)  memprediksi  ekonomi akan…

Max Sopacua: Darmizal Pantas Jadi Menteri, Tiket Demokrat Bukan Dia

Jakarta, Anggota Majelis Tinggi partai Demokrat Max Sopacua mengatakan, pidato Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam Visi Indonesia di Sentul…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Sentry Safe Hadirkan Brankas dengan Proteksi terhadap Kebakaran dan Banjir

  NERACA Jakarta – Brankas biasanya digunakan untuk menyimpan dokumen-dokumen penting ataupun barang-barang berharga. Oleh karena itu Sentry Safe mengeluarkan…

SKK Migas Inginkan Penyebaran Informasi Kontribusi Hulu Migas Di Daerah

NERACA Balikpapan - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerjasama…

Sky Energy Luncurkan Produk Teringan di Dunia - Pembangkit Tenaga Surya

      NERACA   Jakarta - Kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi. Pada 2019, kebutuhan listrik dunia…