Indonesia Defisit Lahan Pertanian 33 Juta Ha

NERACA

Jakarta - Anggota Komisi V DPR Fary Francis mengutarakan saat ini Indonesia masih kekurangan lahan produktif untuk dikelola demi memenuhi kebutuhan pangan penduduk di Tanah Air. Setidaknya masih kurang sekitar 33 juta hektar.

"Sekarang ini lahan yang tersedia 17 juta hektare. Sementara yang dibutuhkan saat ini untuk mencukupkan kebutuhan pangan rakyat adalah 50 juta hectare. Maka dari itu masih kurang sekitar 33 juta hektar lagi," katanya usai menghadiri acara Bedah Visi Misi Capres 2014 Bidang Ekonomi Pertanian di Jakarta, Sabtu (21/6).

Sementara dengan pemanfaatan hutan rusak tersebut, pemerintah juga dapat menambah lowongan pekerjaan bagi masyarakat. Menurutnya, pemerintah dapat menciptakan 60 juta lowongan pekerjaan melalui 10 hektare lahan produktif baru.

"Jika satu hektare bisa digarap enam orang. Kalau tercipta 10 juta hektare lahan pertanian produktif, itu sudah memberikan lowongan pekerjaan bagi sekitar 60juta orang," tuturnya.

Sejauh ini, dengan lahan yang terbatas, Fary menjelaskan, pemerintah baru bisa mencukupi kebutuhan pangan bagi sekitar 100 juta penduduk. Artinya, sekitar 150 juta rakyat Indonesia masih mengkonsumsi makanan impor.

Ungkapkan senada pernah disampaikan oleh Menteri Pertanian Suswono menurutnya salah satu masalah pada pertanian adalah masalah lahan, maka dari itu ia berharap kepada pemerintah mendatang untuk lebih memperhatikan pemasalahan lahan untuk pertanian. "Kami berharap calon presiden tahu persoalan masalah lahan," ujar Suswono.

Suswono menjelaskan, saat ini luas rata-rata lahan pertanian per keluarga 560 meter persegi. Jumlah ini kalah jauh jika dibandingkan dengan Thailand yang mencapai 5.600 meter persegi lahan pertahian per keluarga.

Padahal luas lahan ini berbanding terbalik dengan luas panen hasil pertanian dengan Indonesia memiliki luas 13 juta hektare (ha) sementara Thailand hanya seluas 9 juta ha. "Tetapi ini persoalannya jumlah penduduk kita 4 kali dari pada Thailand. Jadi, jelas kurang," kata Suswono.

Selain itu, Suswono mengungkapkan pemerintah telah mengeluarkan program untuk menambah luas lahan pertanian sebesar 2 juta ha dalam dua tahun terakhir. Dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) pun mencatat bahwa ada 7,2 juta hektar lahan yang terlantar dan 4,8 juta hektar lahan lahan potensial.

"Tapi, yang clean and clear ada 13 ribu hektare lahan potensial dan yang benar-benar bisa digunakan ada 600 hektare. Intinya rekomendasi minimal (lahan baru) 2 hektare agar petani sejahtera," jelas Suswono.

Untuk mengatasi kesulitan lahan ini, Suswono menyarankan petani miskin di Jawa untuk melakukan transmigrasi dan menggarap lahan luar Jawa. Namun lagi-lagi hal ini juga punya banyak kendala. "Faktanya, tidak mudah. Harus ada kemauan dari pimpinan daerah untuk transmigrasi. Petani-petani kita bekerja sama," tandas dia. [agus]

BERITA TERKAIT

Ekspor Tenun dan Batik Ditargetkan US$58,6 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD58,6 juta atau…

Lippo Karawaci Raup Dana Segar US$ 280 Juta

NERACA Jakarta – Perkuat likuiditas dalam mendanai ekspansi bisnisnya, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) melakukan rights issue dan divesatasi aset.…

Niaga Komoditas - Indonesia Berpotensi Membawa Kebijakan Sawit Uni Eropa ke WTO

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pihaknya berpotensi untuk membawa kebijakan diskriminatif terhadap minyak kelapa sawit yang dikeluarkan oleh…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Data Eksplorasi Migas Indonesia Masih Lemah

  NERACA   Jakarta - Anggota legislatif Komisi VII DPR Tjatur Sapto Edy menilai bahwa sistem data eksplorasi minyak dan…

Imperva Bangun Scrubbing Center di Jakarta

    NERACA   Jakarta - Imperva Inc, perusahaan cybersecurity mengumumkan hadirnya DDoS Scrubbing Center pertama di Indonesia. Menurut Wakil…

Pemda Diminta Lapor Penggunaan Dana DBHCT

  NERACA   Karawang - Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pemerintah daerah harus melaporkan penggunaan dana…