Summarecon Geser Target Pangsa Pasar - Dampak Kebijakan BI Rate

NERACA

Jakarta –Meskipun tahun ini menjadi tahun berat bagi industri properti, seiring dengan suku bunga bank yang terus naik dan masih mahal, ditambah dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait pengetatan pemberian kredit pemilikan properti (KPP) pada 30 September tahun lalu, tidak membuat ekspansi bisnis properti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) terhambat. Bahkan kondisi ini memicu perseroan arus putar otak agar agar mampu mencatatkan kinerja yang positif.

Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johanes Mardjuki mengatakan, dalam menyikapi tantangan yang ada, perseroan berusaha menyesuaikan dengan sedikit menggeser target segmen dari yang sebelumnya menegah ke atas menjadi menengah dan bahkan menengah ke bawah, “Kondisi ini menjadi tantangan bagi perseroan dan memaksa kita untuk menggeser target pasar yang jauh lebih besar, khususnya untuk pengembangan di kawasan Summarecon Serpong dan Summarecon Bekasi, “ujarnya di Jakarta, Kamis (19/6).

Disamping itu, perseroan juga akan fokus mengembangkan bisnis berkelanjutan melalui recaring income dengan pengembangan mall dan hotel. Perseroan sendiri membidik kontribusi recaring income terhadap pendapatan perseroan sebesar 20-30%. Saat ini, recurring income perseroan tercatat sebesar Rp 880 miliar dan hingga akhir tahun ditargetkan sebesar Rp 1 triliun dengan ditambah 3 hotel yang bakal dibangun di Summarecon Bekasi.

Asal tahu saja, sukses mengembangkan bisnis Summarecon di Bekasi dan Serpong serta di Kelapa Gading Jakarta bakal dilanjutkan dengan rencana pembangunan Summarecon di Bandung Timuar pada akhir tahun ini. Dimana untuk pengembangan properti township ini, perseroan telah memiliki land bank sebanyak 270 hektar dan bakal ditambah menjadi 400 hektar, “Pembangunan Summarecon Bandung bakal di bangun dua kluster untuk tahap pertama, “kata Johanes.

Namun sayangnya, dirinya belum mau menyebutkan nilai investasi untuk pembagunan Summarecon Bandung tersebut. Hanya saja, kata Johanes, untuk satu pembangunan township butuh lahan seluas 150 hektar. Proyek lainnya yang bakal digarap perseroan adalah pembangunan hotel spa and resort di Bali dengan memiliki 300 kamar.

Kata Direktur Keuangan PT Summarecon Agung Tbk, Michael Yong, untuk mendukung pembangunan proyek tersebut, perseroan sudah mengalokasikan belanja modal tahun ini sebesar Rp 1,5 triliun dan sudah terserap saat ini sebanyak Rp 600 miliar, “Dana belanja modal bersumber dari Penerbitan Umum Berkelanjutan dan sisanya pinjaman perbankan,”ungkapnya.

Dia menambahkan, meskipun perseroan masih memiliki fasilitas Penerbitan Obligasi sebesar Rp 1,5 triliun dari target sebesar Rp 2 triliun. Namun tidak semuanya digunakan seluruhnya, tetap lebih memilih pinjaman perbankan dengan alasan suku bunga bank masih tinggi,”Kita utamakan opsi pinjaman perbankan dan untuk PUB akan digunakan pada tahun depan,”ujarnya.

Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp23 per saham atau sekitar 30% dari laba bersih yang diperoleh pada tahun 2013 sebesar Rp 1 triliun.

Selain dividen, sisa laba bersih perseroan akan dialokasikan atau dibukukan sebagai dana cadangan dan laba ditahan guna menunjang ekspansi bisnis perseroan. Sepanjang tahun 2013, SMRA berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 4,1 triliun atau tumbuh 18% dari tahun sebelumnya. Laba bersih meningkat tajam hingga 38% atau menjadi Rp 1,1 triliun.

Disamping itu, tahun lalu perseroan sudah melakukan 10 kali launching dan meraih total nilai penjualan marketing sales sebesar Rp 3,73 triliun. Dimana kontribusi utama sebesar 50% masih berasal dari Summarecon Serpong. Untuk tahun ini,perseroan optimis target penjualan sebesar Rp 4,5 triliun dapat terealisasi. Pasalnya, hingga Mei 2014, penjualan sudah mencapai Rp 2 triliun yang berasal dari Summarecon Serpong dan Summarecon Bekasi. (bani)

Related posts