BI Janji Kendalikan Inflasi

NERACA

Jakarta - Di tengah Inflasi yang tinggi, yang sudah berada dikisara 7% Bank Indonesia (BI) berjanji akan tetap menjaga inflasi yang berasal dari komoditas pangan. Deputi Gubernur BI, Ronald Waas mengatakan isu pangan sangat sensitif terhadap gejolak harga. Dan untuk menjaga kestabilan harga pangan yang menjadi penyebab inflasi.

Komoditi pangan sarat dengan inflasi dan defisit trasaksi berjalan, “Untuk dapat menekan inflasi, tentu saja harus mampu menjaga harga disektor pangan, " ujar Ronal saat Diseminasi Buku "Kegiatan Bank Indonesia Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Melalui Pengembangan Klaster Unggulan" di Jakarta, Kamis (19/6).

Menurut Ronald, pihaknya akan menekan inflasi sesuai target sasaran 4,5%+1% pada tahun ini dan 4%+1% pada 2015. Untuk itu, BI mengharapkan pangan harganya tidak bergejolak sebab bisa mengkerek inflasi naik.

"Kita harus waspadai pangan seiring konsumsi, itu menjadi perhatian besar pembangunan pangan jangka menengah 2010-2014. Dalam rangka mendukung ketahanan pangan, BI tidak lepas mengembangkan UKM sebagai program ketahanan pangan," katanya.

BI sudah mengembangkan setidaknya 130 Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan sekitar 59 klaster UKM merupakan pengembang pangan. "Pengembangan UKM mendukung ketahanan pangan. Dengan pengembangan klaster dengan pemrintah daerah saat ini sudah ada 130 klaster dan 59 klaster komoditi pangan," jelasnya

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga bahan makanan olahan menjadi salah satu penyebab terjadinya inflasi pada Mei sebesar 0,16 persen.

"Kelompok bahan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, ikut menyumbang inflasi pada Mei," kata Kepala BPS Suryamin.

Dengan demikian, laju inflasi tahun kalender Januari--Mei 2014 tercatat sebesar 1,56 persen dan secara tahunan (yoy) mencapai 7,32 persen. Sedangkan inflasi komponen inti Mei 0,23 persen dan secara tahunan (yoy) 4,82 persen.

"Dibandingkan Mei tahun lalu yang tercatat deflasi, inflasi Mei 2014 sedikit lebih tinggi. Informasi ini bisa menjadi antisipasi pemerintah, karena ini menjelang puasa dan memasuki tahun ajaran baru," jelas Suryamin.

Ia menjelaskan kelompok bahan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau menyumbang inflasi 0,35 persen, kelompok kesehatan 0,41 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,23 persen.

Inflasi lain disumbangkan oleh kelompok sandang 0,12 persen, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,21 persen serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,07 persen. Hanya kelompok bahan makanan yang tercatat deflasi pada Mei yaitu 0,15 persen.

Dari 82 kota IHK, BPS mencatat sebanyak 67 kota mengalami inflasi dan hanya 15 kota yang mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pematang Siantar 1,61 persen dan terendah di Tegal serta Kupang 0,01 persen.

Sementara, kota yang mengalami deflasi adalah Pangkal Pinang yang mengalami deflasi tinggi 1,27 persen dan Palembang yang terkena deflasi rendah 0,03 persen.

"Hampir seluruh kota di Jawa mengalami inflasi dibawah 0,5 persen dan relatif terkendali. Namun pengendalian inflasi diluar Jawa belum merata. Inflasi seharusnya dikendalikan di seluruh kota di Indonesia," pungkas Suryamin. [agus]

Related posts